Sold

Sold
Lemah akan air mata



Bunyi nada ponsel nya yang berdering berkali-kali membuat Bintang terpaksa membuka mata. Kepala nya masih berputar. Perlahan dia membuka mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya mengingat semua apa yang terjadi semalam.


Diraba nya tempat di sebelahnya, kosong dan terasa dingin, yang berarti Bee sudah lama bangkit dari sisinya.


Di liriknya jam di nakas, pukul delapan pagi. Dan kembali panggilan di ponselnya berdering.


"Apa?" bentaknya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kita ada meeting hari ini bos, jam sembilan pagi" Riko mengutuk jarinya yang terlanjur menghubungi bos gilanya. Dia lupa kalau semalam pasti ada pertengkaran hebat antara suami istri itu.


"Reschedule!" Bintang sudah mematikan ponselnya, melempar ke sebelahnya dengan kasar.


Bergegas dia mencari Bee. Dia rindu pada gadis itu sehabis pertengkaran kemarin sore. Terbukti kan dia tidak bisa marah pada gadis itu. Dia masih kesal mengingat pil sialan itu, tapi dengan mendiami Bee sama saja membunuh nya secara perlahan. Membayangkan gadis itu di pelukannya membuat Bintang semakin bersemangat untuk mencari Bee.


Bee sedang duduk di samping kolam, masih memakai baju renang two piece nya berjemur di kursi santai.


Bintang mengulum senyum melihat pemandangan paginya. Tidak ada yang lebih sempurna dari apa yang dia lihat. Perlahan dia mendekati, mengecup puncak kepala Bee.


Sebesar apa pun kesabaran yang coba Bee perlihatkan, sekuat apa pun Bee menekan perasaan sakitnya, tetap saja dia tidak bisa bersikap biasa pada Bintang.


"Kau di sini, aku mencari mu dimana-mana" ucapnya duduk di samping Bee.


"Aku tidak kemana-mana kak..Aku selalu ada di sini, di tempatku, di sisimu. Tapi justru kau yang pergi dari ku" ucapan Bee tentu membuat alis Bintang bertaut, berpikir keras. Kenapa perubahan wajah Bee tampak sedih dan marah padanya. Bukan kah seharusnya Bintang yang marah? dan saat pagi ini dirinya memutuskan untuk memaafkan istrinya, tapi kenapa sambutan Bee seperti itu.


"Kok gitu ngomongnya Bee" Bintang menegakkan tubuhnya. Kembali denyut di kepalanya mengulah, di pijatnya pelipisnya berulang kali.


"Gitu gimana?" sahut Bee cuek, berjalan ketengah ke arah kursi di sisi lain, mengambil kimono nya.


"Pagi ini aku bangun, berharap pertengkaran kita kemarin bisa kita lupakan. Aku sudah tidak ingin membahas kesalahan mu meminum pil sialan itu tanpa persetujuan ku" nada Bintang naik dari yang awal.


"Oh..ok. Itu memang kesalahan ku. Aku akui, tapi bukan berarti kau harus menceritakan pada orang lain masalah rumah tangga kita. Seharusnya kau mencoba mendengar alasan ku meminum pil itu, bukan berlari pada orang lain!" suara Bee ikut meninggi.Dia ingat janjinya saat menikah dengan Bintang untuk kedua kalinya. Dalam hati dia berjanji akan selalu menghargai suaminya, memperlakukannya sebaik mungkin, tapi kali ini dia coba melupakan janji itu. Dia marah mengingat Bintang membuka aib rumah tangga nya pada Ranika!


Bintang sempat berfikir, kemana arah pembicaraan Bee. Dia sama sekali tidak mengerti. "Apa yang sedang kau bicarakan ini?" Bintang menatap tajam pada Bee. Gadis itu hanya memutar bola matanya.


"Maksud ku? bukan kah sudah jelas?" tantang Bee.


Bee tidak menanggapi nya, berlalu meninggalkan Bintang yang masih terus menatapnya. Bintang merasa tidak di hargai, dengan gerakan cepat dia mengejar Bee menarik tangan wanita itu. "Jelaskan padaku!" hardik nya kasar.


"Kenapa kau tanya padaku? tanya apa pun yang ingin kau tanyakan pada Ranika!" Bee menghentakkan tangan Bintang dan berlalu.


Kesadaran Bintang muncul. Pasti Ranika menghubungi atau mengirim pesan pada nya, dan Bee sudah membaca jika memang ada pesan masuk. Kembali dia mengejar Bee yang sudah berada diambang pintu.


"Kau membuka ponselku?"


"Kenapa? ada yang kau takutkan?" tantang Bee melipat tangan di dada.


"Malam itu pikiran ku buntu. Aku marah akan tindakan mu, aku hanya pergi minum dengan nya, hanya itu. Aku perlu bicara dengan seseorang agar kesal di hati ku berkurang! Aku tidak punya niat apa pun, terlebih dengan nya! Aku menyesal.." terang Bintang sebisa nya. Dia tidak ingin masalah mereka berlarut.


"Harus nya penyesalan mu itu kemarin kak, bukan setelah kau mengatai ku dengan hal yang mengerikan" salak Bee meneteskan air matanya.


"Aku marah saat tahu kau masih berhubungan dengan pengacara itu" suara Bintang merendah. Kalah setiap melihat air mata Bee yang jatuh di pipinya. Kepergian nya kemarin juga untuk menghindari dirinya agar tidak melihat air mata Bee.


Mira dan Wati yang lewat dari tempat mereka menuju dapur, segera berlari mundur. Tidak ingin ada di sekitar majikannya yang tengah perang.


"Kami cuma berteman biasa. Dan aku tidak pernah pergi menemui, tidak juga menceritakan apa pun pada nya mengenai masalah kita. Dia menghubungi ku kemarin, karena menanyakan perihal keseriusan Kinan yang ingin memakai jasa nya untuk mengurus perceraian dengan Piter" terang Bee diiringi tangis nya. Bintang semakin merasa bersalah.


"Sayang, sudah jangan menangis. Aku ga sanggup melihat air matamu. Aku salah. Aku minta maaf" Bintang menarik tangan Bee agar mau dia peluk, tapi di tepis Bee dan masih terus menangis.


"Sayang..sini dong aku peluk. Aku yang salah udah marah-marah"


"Aku benci sama mu kak. Kenapa ketemuan sama Ranika!" ucap nya menutup wajahnya dan terus menangis.


"Aku singgah ke rumah ibu untuk melihat keadaannya, ternyata dia sudah lebih dulu di sana. Pada saat mau pulang, dia minta ikut sampai persimpangan jalan, akhirnya aku kasih tumpangan, tapi ternyata dia justru minta ikut aku ke bar. Mungkin saat aku mabuk, aku ngoceh, seingat ku, aku sama sekali tidak bilang apa pun padanya. Percaya padaku sayang, aku tidak ada apa-apa dengan nya. Aku hanya mencintai, Bee" Takut-takut Bintang menarik tangan Bee kembali. Kali ini gadis itu tidak menolak dan akhirnya masuk dalam pelukan Bintang.


Hati Bintang lega. Rasa takutnya hilang entah kemana. Asal bersama gadis ini, maka gelapnya langkah di depan sana pasti bisa di lalui nya. "I love you, sayang. Please kita jangan bertengkar lagi" bisik Bintang semakin mengeratkan pelukannya. Perlahan Bintang mendapati kepala Bee mengangguk tanda setuju.


Bintang dengan penuh kesabaran mengeringkan rambut Bee setelah keduanya selesai bermain di kamar mandi. Waktu untuk mandi yang biasanya hanya 15 menit kini berubah menjadi satu jam lebih.


"Jangan minum pil itu lagi ya sayang, please" ucap Bintang menangkup wajah Bee. Menatap mata indah itu dan senyum Bintang melengkung saat Bee mengangguk.