
Perubahan yang di janjikan Bee lebih ke dirinya benar-benar dia buktikan. Kini Bee hanya kerja di klinik tiga kali seminggu. Tawaran untuk bergabung di rumah sakit besar pun sudah dia tolak dengan alasan ingin mengurus anak-anak nya yang masih balita.
Seiring waktu Bee bisa menerima semua nya dengan ikhlas. Dia menjadi istri dan ibu di keluarganya, sekaligus masih bisa mengabdi membatu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.
Kalau tidak bekerja Bee akan sibuk bermain dengan anak-anak atau mencoba resep masakan. Hari-hari nya yang awal nya di sangka akan membosankan nyatanya bisa dia lewati dengan gembira.
"Nyah, itu ponselnya bunyi" sahut Mira yang menyuapi Siena buah naga yang sudah di potong kecil-kecil.
"Oh, iya Mir" Bee meletakkan spatula yang dipakainya mengaduk adonan. Sekilas dia menoleh ke arah layar ponsel, Kinan yang menelpon.
"Hai, apa sayang?" sapa Bee riang. Sudah sebulan tidak bertemu, terakhir mereka bertemu di rumah ibu, Kinan yang sudah hamil tujuh bulan mengeluh karena berat badan nya yang naik drastis.
"Bee, temani aku beli baju hamil. Semua pakaian ku udah pada da muat lagi" rengek nya manja. Menurut dokter hasil USG terakhir, anak Piter dan Kinan perempuan.
Walau keinginan tidak terkabul karena ingin anak laki-laki, tapi tetap Kinan bersyukur dan sangat sayang pada bayi dalam kandungan. Piter yang memang menginginkan anak perempuan kini semakin menyayangi Kinan.
"Ok, belanja di mana?"
"Di PIM aja, jam 2 ya"
"Ok"
Saga yang merengek ingin ikut akhirnya di bawa Bee. Berdua mereka menyusuri mall ke lantai dua tempat Kinan menunggu mereka di sana. Mungkin karena di luar cuaca memang terik, hingga banyak orang memilih ngadem di dalam. Mall begitu padat siang itu.
"Sorry telat, biasa lah ada drama dulu di rumah" ucap Bee menunjuk ke arah Saga dengan memonyongkan bibirnya.
"Hai ganteng nya ante, kangen" ucap Kinan memeluk Saga. Seolah pria dewasa, Saga malah yang menepuk-nepuk punggung Kinan.
"Udah ante, ga usah sedih. Kan sekarang Aga udah di sini. Udah ga kangen lagi kan?" ucap nya sok bijak yang membuat Bee menyunggingkan senyum.
Semua pasti setuju kalau wanita sudah belanja, melihat barang kesukaan, baik tas atau pun pakaian, pasti menggila, lupa sekitar. Setengah jam di sibukkan memilih pakaian di pusat perbelanjaan, membuat keduanya lupa keberadaan Saga yang sudah keluar dari sana karena rasa antusias nya melihat robot yang di pamerkan di lantai satu.
Menyelip diantara orang dewasa yang naik eskalator, Saga turun ke lantai satu. Sedikitpun bocah itu tidak merasa ketakutan. Fokus nya sudah pada robot yang menari-nari hingga keluar gedung.
Pameran robot itu memang sudah selesai, hingga pemilik dan tim nya membenahi dan membawa pulang. Berhasil sampai di bibir pintu masuk, Saga kehilangan jejak. Robot itu sudah di naikkan ke atas mobil dan di bawa pergi.
Baru lah dia tersadar kalau sudah terlepas dari Bee, malah dia sudah berdiri di luar gedung, di tepi jalan raya. Saga ingin menangis, tapi dia ingat ucapan papanya.
"Anak laki-laki ga boleh cengeng, ga boleh nangis. Biar bisa menjaga mama dan juga kedua baby Si" Jadi dia simpan kembali rasa takutnya. Berdiam di tempatnya, memutuskan untuk masuk kembali ke mall.
Sudah memutar badan, Saga melihat sosok yang mirip dengan Bee menyebarang dari arah belakang nya. Saga terlihat gembira, karena mengira Bee pasti datang mencarinya.
"Mama..mama.." teriak nya. Tapi wanita itu tidak mendengar. Saga memutuskan untuk mengikuti langkah wanita yang dia kira mama nya. Mobil datang dari sebelah kirinya dengan kecepatan tinggi. Naas akan datang kalau seorang pria tidak menyambar Saga dan kembali membawanya ke tepi jalan.
"Kamu ini kenapa menyebrang sembarangan. Mana orang tua mu?" ucap pria itu menatap Saga. Dia ingin marah dan memaki orang tua anak ini, tapi niat nya di urungkan kala melihat kalung yang ada di leher Saga.
Disentuhnya kalung itu untuk memastikan liontin nya. Benar itu miliknya.
"Kamu ingat om?"
Saga diam. Sudah dua tahun setelah masa itu, tapi tatapan teduh pria itu begitu dia ingat. Samar memori kecil membawa ingatannya pada pria itu.
"Dengan siapa kamu ke sini?"
"Mama..tante Kinan"
"Mana mereka?"
Baru menjawab, seorang wanita sudah berlari mendekati mereka di susul seorang wanita hamil di belakangnya. "Sagaaaa..." teriaknya, merebut Saga dari gendongan Darren yang di sangka adalah penculik anak nya.
"Kamu mau culik anak saya ya..tolong..." teriak Bee penuh kepanikan.
"Mama.."
"Iya sayang..jangan takut. Mama di sini" ucap Bee menenangkan Saga. Tatapan Bee pada Darren sangat mematikan, penuh amarah.
"Mama.."
"Iya sayang..."
"Jangan marah sama om ini. Dia yang nolong Aga"
Wajah Bee memerah menahan malu. Apa yang dikatakan Saga menampar wajah nya karena dirinya lah yang tidak becus menjaga anak. Lagi pula, kalau pria itu berniat jahat pada Saga, anak itu pasti sudah teriak, seperti yang selalu di ajarkan oleh orang tuanya.
"Kamu tidak ingat aku?"
Kalimat itu membuat Bee menajamkan ingatan nya. Wajah pria itu memang tampak tidak asing, tapi dia lupa pernah bertemu dengan si bule iri dimana. Darren mengerti pertanda kerutan di dahi Bee. "Ingat ini?" Darren menunjuk kalung di leher Saga. Mata Bee membulat pu mulutnya. Ingatan nya kembali menemukan jalan pulang.
"Dar..Smith.." Bee masih coba meraba-raba ingatnya. Wajah pria itu masih tampan seperti dulu, hanya saja sekarang tampilannya sudah lebih dewasa.
"Darren.. Darren Smith"
"Oh...maaf kan aku" kata wanita itu merasa malu.
"Kenapa Saga bisa sampai keluar dari mall, bahkan akan menyebrang? dia hampir saja ditabrak mobil"
"Apa? ya ampun Saga. Benar nak kamu hampir di tabrak?" Saga hanya mengangguk penuh ketakutan. Dia takut Bee akan memarahinya atau paling parah mengadukannya pada papa nya.
"Maaf Darren. Aku tadi sibuk menemani ipar ku membeli pakaian. Oh iya, kenal kan, ini Kinan"
Atas saran Kinan, berempat mereka kembali ke dalam mall. Memilih tempat ngopi berlambang putri duyung. Beruntungnya susana tampak sepi, mungkin bukan waktu yanh tepat untuk menikmati secangkir kopi.
"So..apa yang membawa mu datang ke Indonesia?"