Sold

Sold
Amarah



Tante Di masing mengandeng Bee keluar menuju gerbang sekolah. Di parkiran yang begitu luas itu sudah ada mobil hitam mewah yang dia kenal siapa pemiliknya sedang menunggu.


Langkah Bee berhenti tak kala melihat ke arah mobil itu. Riko sudah berdiri bersandar di pintu mobil. Sementara mobil tante Di juga ada di samping nya.


"Tante ke sini naik mobil siapa?" tanya Bee ragu. Dia memperlambat langkahnya agar sedikit lebih lama tiba di sana.


"Naik mobil Tante. Itu.." tunjuk tante Di, kearah mobil CR-V hitam miliknya.


"Terus itu? kenapa makhluk itu ada di sini juga?" umpat nya kesal. Amarah dan rasa kesalnya pada Jesi, bermula karena membahas pria itu, hingga sewajarnya jika Bee melihat Bintang saat ini, amarah yang belum sempat redup tadi kini semakin menyala.


"Tante terpaksa menghubungi Bintang. Sekarang kan dia wali kamu, jadi dia berhak tahu, kamu kenapa dan masalah apa yang menimpamu" terang tante Di menyeret tangan Bee agar bergerak cepat.


Riko membuka pintu mobil bagian depan. Walau setengah menolak, tante Di malah mendorong Bee agar menunduk dan masuk ke dalam mobil yang di sana Bintang sudah duduk di belakang setir.


"Maaf nyonya, tuan Bintang meminta saya untuk mengantar anda pulang" ucap Riko yang masih sempat di dengar Bee.


Mobil melaju dengan kencang. Tak ada yang bicara, hingga tak terasa sampai di rumah.


Belum lama mesin mobil berhenti, dengan cepat Bee membuka seatbelt nya dan berlari ke arah kamarnya. Mengunci pintu dengan kesal. Lalu masuk ke kamar mandi mengunci dirinya.


Bintang hanya terdiam melihat Bee. Amarahnya harus didinginkan dahulu. Pagi tadi saat sedang meeting dengan client besarnya, Riko memberi kode ada yang harus dia sampaikan.


Lalu Bintang menyuruhnya mendekat hingga bisa membisikkan di telinganya.


Mendengar kabar Bee berkelahi dengan teman sekolah nya, awalnya membuat Bintang tersenyum geli sekaligus khawatir. Bintang tak ingin Bee tersakiti. Istri bar-bar nya berkelahi hingga tante Di harus di panggil ke sekolah.


Dengan cepat, dia menunda meeting, dan segera menyusul ke sekolah. Tapi kini, saat melihat wajah Bee yang memerah, rambut yang acak-acakan, dan ada luka cakar di lengannya, Ini bukan bercandaan lagi namanya.


"Dimana?" tanya Bintang lewat ponselnya. Rahang nya terlihat mengeras.


"Kamu tahu harus apa? dan saya tidak mau melihat guru itu lagi dimana pun!" Bintang menutup ponselnya dengan kesal, lalu melangkah menuju anak tangga.


Bintang tak ingin siapa pun menyakiti istrinya, apalagi hingga terluka seperti itu. Dari kaca spion, Bintang bisa melihat wajah sedih dan mata berkaca-kaca dari gadis itu selama perjalanan pulang. Bintang diam, karena ingin memberi waktu untuk Bee membalut lukanya.


Pintu kamar nya tidak terkunci hingga membuat Bintang bisa masuk tanpa susah payah. Dari kamar mandi, suara shower air masih terdengar pelan, hilang di telan suara isak tangis yang begitu pilu.


Mungkin fisik, Bee kesakitan, dan hati nya juga sakit. Tapi Bintang lebih sakit lagi melihat keadaan Bee dan isak tangis nya. Seandainya dia ada di ruangan itu tadi, mungkin dia akan mencekik guru BK itu.


Sesuai permintaan Bintang pada tante Di, mulai masuk ke ruang guru tadi, tante Di sudah melakukan panggilan pada Bintang, hingga pria itu bisa mendengar semua percakapan di dalam ruang BK itu.


Tak kala Bee mengatakan tindakan guru itu padanya, hatinya panas. Hampir saja keluar dari mobil dan menerjang masuk ke sekolah itu. Tapi Riko menahan, dengan mengatakan hal itu justru akan membuat Bee semakin sulit ke depannya.


Dengan sabar Bintang menunggu Bee keluar dari kamar mandi, duduk di tepi tempat tidur.


klik..


Bintang masih menatap dengan kotak P3k di pangkuan nya. "Sini.." dengan suara lembut Bintang menepuk tempat di sampingnya.


Tapi Bee malah berbalik ke arah lemari, untuk mengambil pakaiannya. Setelah memilih pakaian tidurnya, Bee hendak masuk ke kamar mandi lagi, namun Bintang segera menarik lengan nya menuju sisi tempat tidur.


Dalam diam, Bintang memberikan betadine pada luka cakar di lengan Bee. Gadis itu meringis saat Bintang menekan dengan kapas.


Dengan sabar, Bintang meniup kulit Bee setiap mengoleskan betadine. Lengan indah itu luka di tiga tempat. Kuku tajam Jesi sudah membuatnya luka hingga berdarah.


"Masih sakit?" tanya Bintang. Tapi Bee masih dongkol, tak sudi menjawab. Walau tak percaya dengan omongan Jesi, tapi Bee ga suka melihat photo mereka yang di perlihatkan Jesi tadi.


Dasar om mesum!


Bongkahan kekesalan membuat Bee menarik tangannya. "Belum selesai" ucap Bintang, tapi Bee sudah menepis tangan pria itu lalu masuk ke kamar mandi.


Berharap saat keluar dari kamar mandi, Bintang sudah pergi, tapi nyatanya pria itu masih ada di situ. Hufffh... ******* nafas Bee yang berat masih di dengar Bintang.


"Kemari lah Bee, ada yang ingin aku bicarakan" ucap Bintang lembut.


Gadis itu berjalan ke nakas, mengambil ponselnya lalu keluar lewat pintu balkon kamar. Angin siang itu berhembus menerpa wajahnya.


Bintang mengalah, mengikuti langkah Bee yang kini sudah duduk di kursi rotan.


"Apa kamu ingin menceritakan masalah ini?" tanya Bintang walau sedikit banyak sudah tahu jalan ceritanya.


"Ayo lah Bee" susul nya karena tak melihat gadis itu masih tak berniat menjawab. Sibuk dengan ponselnya.


"Sayang.." ucap Bintang menyentuh paha Bee meminta perhatian.


"Lepasin, ga usah sentuh gue. Dasar mesum! gue benci sama lo!" umpat Bee melangkah masuk ke dalam kamar.


"Kenapa lagi sekarang? apa salah ku? kok jadi marah sama aku?" susul Bintang bingung.


"Ga usah berlagak bloon, ini semua karena lo! Gue ga masalah kalau lo menggatal sama cewek mana aja, tapi bilangin sama mereka, biar ga ngumbar kemesuman kalian, gue jijik!" raung Bee.


"Aku ga paham maksud kamu"


"Halah, ga usah sok ga tahu. Gue udah lihat photo lo sama Jesi gandengan, oh iya, selamat ya buat hubungan lo sama dia. Dan semoga kalian berdua bahagia!" teriak Bee menangis. Bintang merengkuh tubuh gadis itu.


Sebenarnya apa yang membuat Bee begitu sakit hati? kebohongan Jesi, atau photo Bintang dengan Jesi? mungkin keduanya.


Seolah belum cukup, Bee harus di tampar Bu Siahaan dan guru itu juga mempertanyakan attitude nya dengan membawa-bawa orang tua nya.


Bintang ingat pembicaraan yang dia dengar di ruangan itu. Paham lah dia kini.