Sold

Sold
Kesadaran Kinan



Baru saja Bintang dan Bee mendayung mimpi mereka, tiba-tiba saja sudah terhenyak oleh suara berisik dari dalam kamar Piter dan Kinan yang tidak jauh dari kamar mereka.


"Lagi ngapain sih itu tamu ga tahu malu? ribut tengah malam begini?" umpat Bintang menutup telinga nya dengan bantal berharap tidak akan mendengar kebisingan itu lagi.


"Kita lihat kak, takut nya mereka berantam" ucap Bee menarik bantal dari dekapan di wajah Bintang.


"Ngapain sih yang, ga usah lah..ini aja aku udah sabar banget ya lihat tingkah keduanya" Bintang menarik kembali bantal yang sempat di tarik Bee dan menutup kembali telinganya, memunggungi Bee dengan segala kecemasannya.


"Ya udah kalau kakak ga mau lihat. Aku pergi sendiri. Dasar suami ga sayang istri" umpat Bee menurunkan kakinya di lantai


"Iiih.." Bintang melempar bantal yang sedari tadi dia dekap ke lantai. "Aku ikut. Masa iya ini jadi ukuran aku sayang apa ga sama kamu" cibir nya kesal. Rasanya ingin sekali mengikat kedua suami istri yang sudah merusak hidupnya itu, lalu menggelindingkan mereka ke jalan. Gimana ga kesal, Bee menolak bercocok tanam selama pasangan itu ada di sana. Malu katanya.


Mengendap-endap kedua manusia itu menuju kamar Kinan dan Piter. Dari dalam terdengar suara tangis Kinan. Kompak keduanya menempelkan telinga di daun pintu.


"Aku ga mau pulang Ter, aku mau dekat dengan anak-anak. Hanya ini salah satu cara aku bus hamil" suara serak Kinan menandakan dia sudah lama menangis.


"Sama aja bohong Nan. Kalau kau di sini, aku di apartemen, kau juga ga bakal bisa hamil"


"Makanya kamu juga di sini, hamil aku"


Ledakan amarah yang sudah menggunung tadi, hilang begitu saja karena ucapan Kinan yang polos. "Sayang, kita di rumah aja ya, biar bikin dedek bayinya lebih nyaman" suara Piter lembut membujuk Kinan.


Belum sempat mendengar jawaban Kinan, Bintang sudah menarik Bee, menjauh dari pintu. "Kita ngapain sih yang mengendap-endap gini, nguping pembicaraan orang lain. Ini rumah kita loh" ucap Bintang mengingatkan. Harga dirinya yang setinggi gunung Fuji terhempas dengan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.


"Kita dengar dulu apa jawaban Kinan kak" Bee menarik tangan Bee untuk kembali, tapi Bintang menolak. Bahkan dia mendekatkan dirinya pada Bee dan dengan cepat menggendong istri kembali masuk ke dalam kamar.


"Dari pada kamu dengerin mereka, lebih baik kamu main sama si Pino yang udah empat bulan kamu anggurin" ucap Bintang terus menerobos masuk ke dalam kamar mereka.


***


Besok nya Piter pamit pulang. Meninggalkan Kinan yang masih kekeuh ga mau pulang. Tapi hari ketiga dia merasa rindu dengan suaminya. Terlebih kini di menyadari apa yang dikatakan suaminya benar. Dia tidak mungkin hamil kalau berjauhan dengan suaminya kan?


Maka sore nya Kinan pamit pulang. Setelah memandikan Siera, Kinan pulang. Bee eminta pak Komar untuk mengantar nya.


Pukul lima sore, Bintang melihat suasana rumah yang sudah tampak sepi. "Mana nyonya mu?" tanya Bintang pada Mira yang melintas bersama Saga dari ruang depan.


"Di kamar bayi tuan"


"Hai pa.." mendengar sapaan Saga Bintang hanya merentang tangan agar bocah itu bisa memanjat tubuhnya dan mendudukkan nya di pundak Bintang.


"Pa, tau ga.. tante Hana nyaliin papa"


Bintang terkesiap. Dia saja bahkan sudah tidak ingat dengan Hana. Bocah ini berhasil membawa nya pada Seraut wajah ayu dan anggun. Ya..Hana si gadis blasteran. "Untuk apa dia cari papa?" tanya Bintang akhirnya dengan ragu-ragu.


Seperti dugaan Bintang, istrinya pasti sedang asik mengurus bayi kembar mereka. "Yang, udah pada tidur? temani mandi yuk"


Tentu saja menemani nya mandi adalah salah satu modus, agar bisa lanjut ke ranjang. Dia sudah tidak bisa berpikir benar lagi, karena kebutuhan Pino yang sudah di ujung tanduk.


"Duluan deh kak, ini nanggung Siera masih nyusu" ucap Bee sedang memberi ASI pada salah satu putri nya. Siena si sulung sudah lebih dulu di beri minum dan sudah tidur.


"Jangan banyak-banyak dek, sisain papa. Itu dodot nya papa loh" ucap Bintang duduk di sebelah Bee dan melihat bayi nya begitu rakus menyedot sumber kehidupannya.


"Apaan sih kak" wajah Bee bersemu merah. Sejujurnya dia juga sudah sangat merindukan sentuhan Bintang, terlebih masalah yang muncul di rumah belakangan ini membuat Bee terus saja menggantung kebutuhan Bintang. Dia tahu, suaminya itu sudah sangat sabar, kebutuhannya begitu mendesak, tapi tidak mau memaksanya adalah sikap gentle yang membuat Bee semakin cinta pada Bintang.


Perlahan Bee meletakkan bayinya di box. Saling menautkan jari keduanya berjalan menuju kamar. "Kakak udah pengen banget ya?"


"Iya Bee. Rasa nya tersiksa banget. Saat kebutuhan sudah di ujung, tapi kau belum bisa ku *****, sakit banget rasanya. Belum lagi kadang lihat paha mu karena gaun tidur mu tersingkap, sungguh godaan sekali"


"Maaf ya kak. Nanti udah boleh kok kakak ***** aku" kerling nya nakal, membuat Bee tersenyum, menampilkan wajah tampannya.


Malam itu, Bee melayani Bintang dengan seluruh hati dan jiwa nya. Demi menjaga rasa aman, Bee sudah mulai meminum pil agar Bintang bisa menumpahkan bentuk gairahnya tanpa khawatir Bee akan hamil.


Sesuai keputusan mereka berdua, Bee tidak ingin hamil lagi dalam waktu dekat ini. Kalau keinginan Bee, dia bahkan tidak ingin hamil lagi. Cukup lah memilikinya tiga anak saja. Tapi Bintang ingin menambah satu atau dua anak lagi. Jadi untuk menengahi, Bee memilih untuk mengkonsumsi pil aja.


Malam itu menjadi puncak kepuasaan Bintang setelah empat bulan lebih sabar berpuasa. Untuk tanda terimakasih Bee atas pengertian sang suami, Bee melayani Bintang dengan liarnya. Mengikuti kemana arus gairah suaminya.


Hingga menjelang pagi, adegan itu mereka ulangi hampir lima kali. Lutut Bintang bahkan seperti habis di keruk hingga keropos. Permainan Bee sungguh luar biasa memabukkannya.


"Nikmat sekali sayang, aku benar-benar puas" ucap Bintang membelai punggung tel*njang Bee.


Mendengar hal itu Bee hanya bisa tersenyum, pipi nya terasa panas hingga menyembunyikan wajah nya di dada Bintang. Dia malu. Dia pun sadar betapa liar dan agresif nya dirinya tadi. Tapi toh dia juga menikmati nya.


Hari ini Bintang memutuskan untuk tidak masuk kerja. Memilih tidur untuk mengembalikan stamina nya, karena dia ingin mengulang lagi kenikmatan itu nanti malam.


"Ya udah, aku ke swalayan dulu kak, beli perlengkapan anak-anak"


"Aku antar ya"


"Ga usah, kakak istirahat aja" ucap Bee mengecup pipi Bintang sebelum keluar dari kamar.


*Hai..aku datang lagi bawa ini, kuy kepoin🙏😘