
Malam itu Hana pun pamit. Bintang merangkul pundak Bee yang masih diam. Dari arah tangga Hana turun menarik kopernya melintasi mereka.
"Terimakasih" ucap Hana saat berdiri tepat di hadapan keduanya lalu kembali melangkah. Namun baru satu langkah, Bee menahan tangan Hana.
"Aku minta maaf, jika perpisahan kita harus menorehkan luka. Terima kasih sudah mengurus anak-anak selama ini. Kau tahu, mungkin tidak semua yang kau katakan salah, aku memang terlalu di manja kak Bintang, hingga ingin mengejar semua impian dan cita-cita ku. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan mengurus keluarga ku dengan baik"
Satu hal yang tidak di sangka Hana sebagai penutup, Bee memeluk nya sebagai ucapan terima kasih dan juga salam perpisahan.
Perintah Bintang, agar pak Komar mengantar Hana ke rumah Geona, sebelum besok pagi berangkat ke London.
***
"Kau masih sedih?"
Anggukan dari Bee sebagai jawaban.
"Karena Hana pergi?"
Gelengan dari Bee kembali bentuk jawaban.
"Aku sedih karena apa yang dia katakan ada benarnya. Mungkin keegoisan ku yang sibuk dengan impian ku membuat orang lain berinisiatif untuk masuk dalam keluarga ini"
Bintang tahu, saat ini hati Bee begitu rapuh, kecewa yang besar pada dirinya sendiri.
"Sudah lah sayang. Jangan sedih. Itu lah yang aku ingin kan sebenarnya. Aku ingin kau bisa membagi waktu mu untuk ku dan anak-anak dan juga dengan pekerjaan mu"
"Kakak.. istri macam apa aku?" Bee membenamkan wajah nya di dada Bintang. Menangis sepuasnya. Tempat yang paling tepat untuk menangis sepuasnya tanpa harus merasa malu atau takut terlihat jelek.
"Kau istri yang paling ku cintai, dan juga sangat mencintai kami. Aku percaya, dengan kejadian ini, kau kini bisa mengerti yang terbaik yang harus kau lakukan" Bintang mengecup puncak kepala Bee. Rangkulan Bintang begitu menenangkan hingga membuat Bee jatuh tertidur.
***
Mentari pagi menyapa, Bintang membuka matanya, menerima cahaya yang coba masuk dari cela jendela kamar. Dirabanya sisi samping tempat tidur, sudah kosong. Istrinya sudah bangun dan penuh semangat Bintang bangkit mencari Bee yang sepertinya dugaannya ada di dapur.
"Pagi permaisuri ku, lagi masak apa?" bisik Bintang melingkarkan tangan di pinggang ramping Bee. Bintang sama sekali tidak risih dengan tatapan malu para pelayan yang juga ada di dapur itu membantu Bee menyiapkan sarapan.
"Pagi, udah bangun kak?" Bintang mengelus pipi Bintang dengan mengulurkan tangan ke belakang.
"Kenapa kau tinggalkan aku, biar kan saja hari ini para koki hebat ini yang menyiapkan sarapan untuk kita tanpa bantuan mu" bisik Bintang dan dengan cekatan menggendong Bee ala bridal dan membopong keluar dari dapur.
"Turunin kak, biar cepat. Kita harus mandi, dan kakak berangkat kerja"
"Kau tidak ke klinik hari ini?" tanya Bintang menatap Bee dengan kening berkerut.
"Mmmm...tidak" ucap Bee seraya menggeleng. Bintang hanya perlu menaikkan satu alisnya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
"Terima kasih sayang...Terima kasih. Itu sangat berarti bagi kami" ucap Bintang menyerbu bibir Bee. Tak sampai di situ, Bintang pun menghujani nya dengan beribu ciuman panas di sekujur tubuh.
"Karena hari ini kamu libur, maka aku juga akan libur kerja. Hari ini kita awali menjadi hari keluarga. Kita hanya akan di rumah saja, berpelukan dan menikmati kebersamaan"
Terbukti, pagi itu berlima mereka menikmati kebersamaan di rumah saja. Mulai dari berenang bersama. Siena dan Siera begitu gembira saat di masukkan dalam kolam. Saga tidak hentinya menaiki mainan lumba-lumba nya yang membuatnya berulang kali jatuh.
Hanya ada gelak tawa dan kegembiraan di rumah itu. Hidup mereka seolah sangat sempurna.
Hal yang bisa menyelamatkan rumah tangga adalah kesadaran dari para anggota keluarga dan mengakui itu salah yang menjadikan guru dalam hidup, membenahi kepribadian menjadi lebih baik.
Bee mungkin salah, tapi toh dia kini menyadarinya dan ingi berubah jadi istri dan ibu yang lebih baik lagi.
Beberapa pelayan, tanpa di komando masuk ke area kolam untuk membawa makanan dan minuman untuk mereka. Pastinya bermain di air membuat perut mereka keroncongan.
Siang hari kelimanya berkumpul di dalam kamar, menonton acara anak-anak di Chanel Disney yang membuat semua tergelak.
Hati Bee menghangat. Hanya dengan hal sederhana ini mereka semua bisa merasakan kebahagiaan.
Malam saat anak-anak sudah tertidur, giliran Bintang yang di manjakan oleh Bee. Lima belas menit pemanas membuat Bintang ingin segera melahap Bee.
"Kakak kali ini tenang aja ya, biar aku yang mengendalikan permainan" bisik Bee lembut di telinga Bintang. Suara sensual Bee mampu menaikkan suhu tubuh Bintang lebih panas lagi.
"Bee.. sayang.." erang Bintang tertahan, setiap tangan Bee bergerilya meraba tubuh nya. Pino di bawah sana juga tidak luput dari genggaman lembut Bee.
"Kakak...mau aku di atas?" bisik nya masih dengan suara parau yang membuat semua bulu yang ada di tubuh Bintang meremang.
"Lakukan apa pun sayang, aku milik mu" ucap Bintang tertahan. Tatapan nya sudah menggelap di kabut gairah.
Perlahan namun mematikan Bee mulai bergerak, menjamah, bahkan Bintang yang sudah tidak tahan mengarahkan tangan Bee untuk membelai Pino. "Aaah.." ******* berat Bintang membuat Bee semakin berg*irah.
Apa yang di janjikan Bee benar-benar di buktikan nya. Malam itu dia memegang kekuasaan di permainan mereka. Memanjakan Bintang hingga pria itu merasa kurang dan terus kurang.
"Sayang, aku udah ga tahan" bisik Bintang parau. Bee mulai bertingkah liar, merangkak naik ke atas tubuh suaminya sembari menghujani Bintang dengan cium*an. Lalu setelah Bee merasa siap, dengan posisi jongkok di atas pinggang Bintang, Bee perlahan turun, menyatukan tubuh mereka dengan begitu lembut dan sangat mendamba.
Tubuh keduanya menyatu, Bee mulai terbakar oleh permainannya sendiri. Meracu dan bergerak liar bak pemain rodeo, menumbuk tubuh Bintang dengan ritme yang semakin lama semakin cepat. Deru nafas keduanya semakin cepat seiring gerakan tubuh Bee yang semakin liar di dalam tubuh Bintang, tidak lama ******* tanda pelepasan Bee terdengar menggema di ruangan itu yang bagi pendengaran Bintang seolah menjadi alarm untuk nya mengambil alih.
Secepat kilat Bintang membalik kan posisi, kini Bintang sudah membaringkan tubuh Bee di bawahnya tanpa melepas penyatuan mereka. Bintang sudah tidak bisa berpikir normal lagi, dirinya sudah di hantam badai ga*rah.
"Sayang.." bisik Bee menggeleng kan kepala ya ke kanan dan ke kiri setiap Bintang menghempasnya dalam keindahan.
"Iya sayang..kita gapai bersama-sama"