
Tidak ada yang mengetahui bara di hati Bintang malam itu. Posisinya tersudut. Merasa tidak di hargai dan juga tidak berdaya.
Sekembalinya dari rumah Bee, ibu menghubungi, meminta untuk datang saat itu juga. Mungkin masa lalu dan juga perjalan Bintang, bisa di kategorikan pria brengsek yang tidak takut dosa. Seenaknya dan menggunakan kuasanya untuk mendapatkan apa pun yang dia ingin kan. Tapi jika berhubungan dengan ibu, dia tidak berkutik.
Sebagai anak sulung, Bintang lah yang jadi saksi perjuangan Ibundanya setelah kematian sang ayah. Mempertahankan perusahaan agar tetap menjadi perusahaan besar, serta membesarkan kedua anaknya. Tidak jarang di kesunyian malam, ibu akan menangis, merasa hidupnya kosong dan sepi. Beban di pundaknya terlalu berat, meneruskan perjuangan almarhum sang suami.
Jadi beralasan jika Bintang tidak ingin menyakiti hati ibu nya dengan membantah perkataan Bu Salma. Tapi kali ini permintaan ibu sangat berat untuk dia lakukan.
Jika saja ibu meminta selain itu, dunia pun bisa dia berikan. Atau jika itu permintaan ibu, dia akan memilih jadi anak durhaka sekali ini demi mempertahankan cintanya, gadisnya.
Kenyataan pahit, gadis yang ingin dia perjuangan justru menyerah, dan tidak memiliki perasaan seperti dirinya.
"Ibu tidak ingin kau menolak lagi. Atau besok kau akan menyesal karena melihat ibu mati!" wajah Bintang memucat, berbalik menatap wanita tua yang tengah duduk di sofa itu.
"Ibu.."
"Jangan panggil aku ibu, karena aku tidak memiliki anak durhaka seperti mu" air mata ibu terurai. Membuat Bintang merasa dada nya bergemuruh. Ibu tidak pernah meminta apa pun dari nya selama ini. Tapi apa Bintang bisa melakukannya?
"Aku tidak mencintai Kinan Bu. Tolong ibu pahami. Rumah tangga yang tanpa dilandasi cinta akan hancur!" Bintang mendekat, duduk di samping ibunya.
"Dulu kau menikah dengan pilihan mu, dan tanpa cinta dari nya, rumah tangga mu pun kandas, hancur. Kali ini biarkan ibu memilih untukmu. Dengan doa ibu, ibu yakin rumah tangga mu akan bahagia" Ibu menggengam tangan Bintang. Memohon lewat tatapan matanya yang penuh air mata.
Kembali Bintang mengingat ucapan Bee beberapa jam yang lalu. Apa yang coba dia pertahanan? jika memang dia tidak bisa bersama gadis itu, maka lebih baik menumbalkan dirinya untuk kebahagiaan ibunya. Gadis itu sama sekali tidak pernah mencintai nya. Tidak menghargai perasaanya dan selalu mempermainkan hatinya. Lalu untuk apa Bintang mengharapkan yang tidak mungkin?
Bintang kalah. Anggukan itu nyatanya bisa mengubah wajah ibu menjadi ceria.
"Terimakasih nak" perasaan bahagia ibu membawa nya kedalam pelukan Bintang.
Setelah tiga jam dari penyetujuan itu, di sini lah Bintang, di sebuah bar di temani Bumi dan Agus. Menenggak minuman ber botol-botol hingga mulut nya tak berhenti mengoceh.
Bumi bahkan harus memukul lehernya agar pingsan dan bisa membawa nya ke apartemen Bintang lebih mudah.
***
Sore nya, Kinan menghubungi nya tapi karena tidak diangkat, gadis itu memilih untuk menemui Bee. Entah mengapa, bagi nya Bee gadis baik yang enak di ajak ngobrol. Kinan memang tidak punya teman dekat wanita di Indonesia karena sebagian masa mudanya dia habisnya di luar negri.
Berulang kali, Kinan menghubungi Bintang, tetap saja tidak ada hasil. Padahal besok adalah hari pertunangan mereka. Niat Kinan ingin bersama memilih baju agar mereka tampak serasi. Belum lagi cincin pertunangan. Walau pun pertunangan itu akan diadakan besok malam, tapi kan mereka sudah tidak punya waktu banyak.
Pukul lima sore, baru lah Bintang bangun. Kepalanya terasa berat seperti baru di pukul keras. Berulang kali dia menggelengkan kepalanya, berharap bisa mengurangi sedikit rasa sakit, tapi tetap tidak hilang.
Ingatannya sudah berhasil dia kumpulkan. Besok adalah pertunangan nya. Dan kesadaran itu membuat ulu hatinya sakit. Dirinya tamat.
Di raihnya ponsel, begitu banyak panggilan dari Kinan dan ibu. Dia akan mengabaikan saat melihat satu pesan diantara puluhan pesan dari Kinan.
'Selamat untuk pertunangan mu kak. Aku doakan kau bahagia'.
Dengan sekuat tenaga di remasnya benda pipih itu, menyalurkan sakit hati dan kecewanya pada si pengirim pesan. Bahkan saat dirinya sekarat seperti ini, gadis itu masih menyiram bensin pada bara di hati nya.
"Baik lah..kalau itu mau mu. Aku akan menikahi wanita itu!" teriaknya menggema di ruangan itu.
Bintang memutuskan untuk segera mandi. Dia butuh menyegarkan kepalanya. Dua jam lamanya berendam dan juga duduk di bawah shower.
Setelah puas main air, Bintang memakai setelah blazer slim fit nya setelah memakai kaos oblong pas badan sebelumnya. Tidak akan ada yang meragukan ketampanannya.
Satu pesan sudah dia kirimkan pada ibu. Meminta mengurus semuanya. Dia akan datang sebelum jam tujuh malam besok.
Tujuan utamanya Bintang adalah bar yang belum pernah dia masuki sebelumnya. Dia ingin sendiri, tanpa sahabatnya, tanpa ada yang mengenalinya.
Duduk di santai dengan botol dan gelas terisi bir dengan kandungan alkohol yang tinggi. Segelas, dua gelas lalu sebotol.
Meminta tambahan minuman lagi pada bartender. Dering ponsel nya sedari tadi berbunyi tiada henti, namun selalu dia abaikan.
Satu jam berlalu, pukul delapan malam, pikirannya sudah mulai melayang-layang. Sebenarnya dia lelah, karena pikirannya yang kacau, tapi ini terlalu pagi untuk pulang dalam keadaan mabuk. Dia ingin merayakan penderitaannya malam ini. Hari terakhir sebelum besok menjadi tunangan palsu Kinan.
"Di sini kamu. Maksud kamu apa sih? aku telponin dari kemarin ga kamu angkat" salak Kinan yang tampil cantik seperti biasa, memilih tempat duduk di samping Bintang.
"Hei...calon istri gue datang. Cantik banget lo" ucap nya mentoel pipi Kinan.
"Kamu kenapa sih tang? kamu udah minum sebanyak apa sih? kamu udah mabuk"
"Gue ga mabuk. Gue cuma mau ngerayain hari terakhir gue sebelum menjalani hidup palsu gue" ucap nya mengangkat gelas lalu menghabiskan isinya.
"Kehidupan palsu? Bintang maksud kamu apa? kamu terpaksa nikah sama aku? bukan karena memang cinta sama aku?" air wajah Kinan sudah mulai merebak. Jantung nya pun berdetak cepat, seakan tidak siap menerima kenyataan pahit.
"Cinta? aku hanya pernah pernah jatuh cinta pada satu orang gadis dalam hidupku. Aku..aku sangat mencintai, melebihi apa pun di dunia ini" Bintang memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong. Mengenang satu wajah yang amat dia rindukan.
Kinan masih diam. Menunggu penjelasan Bintang. Walau kini pria itu dalam keadaan mabuk, tapi Kinan tahu apa yang di ucapkan pria itu adalah kebenaran. Dia siap.. menyiapkan hati untuk keadaan yang paling. buruk sekalipun.