
Sudah hampir setahun, Bee tidak bertemu dengan tante Diana, terakhir kali bertemu saat pemakaman mamanya. Tante Di, sapaan akrab Bee, satu-satunya nya saudara mama nya. Mereka hanya dua bersaudara, dan kini saat mama Bee sudah tiada, Tante Di satu-satunya orang yang punya hubungan keluarga dari mama nya.
Untuk tinggal di rumah saudara, Bee tidak perlu khawatir, seperti cerita pada umumnya, yang akan di perlakukan tidak adil oleh tante atau paman atau mungkin sepupunya, karena ta te Di nya begitu sayang pada Bee, bahkan dulu saat Bee baru lahir hingga kelas enam sekolah dasar, Tante Di lah yang merawat dan menjaga Bee, karena memang sebelum menikah, Tante Di tinggal bersama mereka.
Bertemu dengan Om Edo saat beliau di tugaskan di Pekanbaru, berkenalan hingga om Edo jatuh cinta pada Tante Di, melamar dan menikahinya hingga memboyong Tante Di ke Jakarta. Om Edo memang bekerja di kantor pemerintahan, menjabat sebagai salah satu staf di kantor walikota.
Hari ini Tante Di akan datang menjemputnya, seperti yang dikabarkan wanita empat puluh lima tahun itu pada nya lewat sambungan telepon tadi malam. "Mau di bawain oleh-oleh apa, cantik?" tanya Tante Di penuh sayang.
"Ga usah tan, yang penting Tante sampai di sini dengan selamat" balas Bee tak bergairah.
Karena penerbangan yang delay, dengan waktu penerbangan satu jam empat puluh lima menit, seharusnya Tante Di sudah tiba di rumah satu jam yang lalu. "Pa, aku ke rumah Lala dulu ya pa" pinta Bee karena bosan menunggu Tante nya yang tak kunjung tiba.
"Ga usah deh Bee, sebentar lagi juga Tante mu akan sampai" dengan kesal bak tahanan, Bee berlari ke anak tangga menuju kamarnya. Mendengar kan musik adalah pilihan tepat saat ini, mengurangi rasa kesal dan syukur-syukur bisa mengembalikan moodnya.
Pukul lima sore baru lah baru lah Tante Di tiba, dan bi Jum yang membangunkan Bee, meminta turun sesuai pesan papanya.
"Wah...ponakan tante baru bangun..udah gadis ya, sini.." ucap tante Di merentangkan tangannya, agar gadis itu datang kepelukannya dan Bee menurut dengan senang hati, karena dia juga memang rindu pada tante Di.
"Kok lama sampainya tan? Om Edo mana? Niko?"
"Om mu lagi banyak kerjaan, dia minta maaf karena ga bisa ikut jemput tuan putri yang cantik ini" ucap nya mencubit ujung hidung Bee. "Kalau Niko, kebetulan udah dua hari ikut kegiatan Pramuka, jadi ga bisa ikut jemput kakak Bee"
Diana, wanita lembut penuh kasih. Saat Papa nya Bee menceritakan keinginan nya untuk menitipkan putri nya di rumah Diana, dengan senang hati dan tangan terbuka, Diana menerimanya, pun dengan Edo yang memang menyayangi Bee. Sementara Niko, saat Diana memberitahukan kabar kepindahan Bee bersama mereka, Niko sudah memutuskan untuk tidak ikut kegiatan Pramuka nya yang diadakan di Cibubur Jakarta timur, agar bisa ikut menjemput kakak tersayangnya tapi Diana tidak mengizinkan. "Nanti juga kalian bisa ketemu malah satu rumah lagi" terang Diana tak terbantahkan.
Om Edo, pria yang begitu mencintai tante Di, memenuhi segala keinginan istrinya, makanya di dalam rumah tangga mereka tante Di mempunyai peran penting dalam setiap mengambil keputusan. Om Edo memang sangat memanjakan tante Di.
Sepanjang sore hingga makan malam, Be, papa dan tante Di berbincang mengenang masa-masa bahagia mereka ketika mama Bee masih ada.
Barang yang pertama Bee aman kan di dalam kopernya adalah photo Elang dan buku diary nya yang menyimpan curahan hatinya tentang besarnya cinta Bee pada Elang. Dua benda itu akan menemani Bee selama sekolah di Jakarta, papa sudah berjanji, dia boleh kembali saat libur sekolah, dan setelah lulus, dia boleh menentukan langkahnya, mau kuliah dimana.
Tepat! Bee akan mengikuti kemana pun Elang kuliah nantinya. Dia sudah bisa membayangkan masa-masa kuliah bersama, ketika mereka sudah resmi pacaran. Biar lah saat ini mereka terpisah jarak dan waktu, asal kelak bisa bersama selamanya.
Tok..tok..tok
"Masuk aja.." muncul kepala tante Di, setelah mendengar suara Bee yang mempersilahkan ya untuk masuk. "Tante bantu packing ya sayang" tante Di sudah duduk di samping koper Bee. Salah satu yang membuat Bee nyaman bersama tante Di, selain lembut, suara dan wajahnya sangat mirip dengan mamanya.
Maka saat tante Di bicara, perasaan Bee selalu tenang, seolah yang sedang berbicara padanya adalah mama nya sendiri.
"Udah siap kok tan.." ucapnya melempar senyuman seraya menutup rapat koper biru laut itu.
"Perasaan tante aja, atau memang benar nih tebakan tante, wajah kamu menunjukkan kesedihan Bee, kamu ga suka pindah sama tante ya? ada apa sayang, kenapa kamu berat meninggalkan kota ini?" selidik tante Di menatap tajam ke arah gadis itu.
"Ga kok tan, aku senang malah bisa tinggal sama tante" Bee coba menutupi perasaannya dengan melempar senyum yang mampu dia kembangkan saat itu.
"Tante kenal kamu. Jujur sama tante, apa yang membuatmu berat untuk pindah?teman?atau pacar?"
Tebakan tante Di membuat Bee meringis. Teman iya, tapi pacar?belum..Elang masih jauh dari sebutan pacar. "Bee belum punya pacar tante, cuma..ada cowok yang aku taksir, tapi belum sempat jadian, aku udah keburu pindah" tukas Bee pelan. Kembali kesedihan akan perpisahan dengan Elang melintas di pikirannya.
Dia sendiri heran, kenapa begitu sulit lepas dari Elang. Kenapa hati nya sungguh sudah tertawan begitu dalam? Hingga udara yang bisa membuatnya tetap hidup di sebut Elang!
"Oh..jadi gitu. Bee, dengar kan tante, kalau kalian memang memiliki garis jodoh untuk bersama, nanti juga pasti ada aja jalannya untuk ketemu lagi. Siapa tahu, setelah kamu lulus nanti, ketemu lagi, dia bakal pangling melihat perubahan kamu yang semakin dewasa" terang tante Di, merangkul tubuh gadis mungil itu.
Satu hal yang masuk dalam pikiran Bee, benar apa kata tante Di, dia harus memberi waktu pada Elang, memberi jarak antara mereka, agar Elang meras kehilangan dirinya, lalu pria itu akan sadar betapa dirinya sangat berarti bagi hidup sang Don Juan. Dengan mantap, Bee bertekad akan mengubah diri dan penampilan, agar menjadi wanita yang lebih dari segalanya, bahkan dari seorang Desi, si anak pindahan dari ibu kota.