Sold

Sold
Stalking



Berita itu membawa dampak buruk pada Bee. Semalaman dia tidak bisa tidur, makan pun hanya beberapa suap dan selebihnya hari-hari nya hanya dia habiskan dengan menangis.


Besok pagi nya, bu Salma mengajaknya untuk duduk bersantai di taman, sekedar untuk membuang sesak yang dia rasa, tapi nyatanya wangi dan indahnya taman bunga tidak bisa membuatnya lupa akan berita itu.


Sekuat tenaga dia menahan agar jangan meneteskan air mata di depan mertuanya, tapi pikiran tentang sedang apa Bintang di sana membuat dorongan untuk menangis.


"Bu, aku ke kamar dulu ya" pinta nya sebelum tangisnya meledak.


"Pinggang mu panas lagi?"


Bee hanya mengangguk dan memaksa bibirnya menyunggingkan senyum.


Di kamar, Bee menangis lagi, pertahanan nya hancur. Ini masih hari ke tiga, masih ada dua hari lagi. "Nya, saya matiin ya televisinya?" pinta Mira yang tahu penyebab kegundahan majikannya.


"Ga usah Mir, biarin aja" Padahal dia tahu, jika berita itu muncul lagi, dia juga tidak akan tahan, tapi tetap saja Bee ingin tahu perkembangannya.


Semalam Bee sudah mencari tahu lagi dari mengotak-atik Instagram Stella, dan benar saja semua kegiatan di sana di posting model cantik itu.


"Itu sama aja bukan bekerja, tapi liburan" umpat nya kesal melempar ponsel nya kearah kaki nya di atas tempat tidur.


Dengan kasar Bee menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan nya. Perlahan di turunkan nya kakinya, menapaki lantai menuju cermin besar yang di letakkan di lantai.


Tampilan nya sedikit membuat hatinya menciut. Saat wanita yang kini tengah menemani suaminya memiliki tubuh langsing dengan ukuran yang membesar pada bagian tertentu yang membuat setiap pria pasti tergoda, dirinya justru membesar di bagian perut.


Selama hamil, berat badan Bee bahkan naik sepuluh kilo. Perubahan yang paling terlihat adalah pada bagian bokong dan dada tentu saja tidak termasuk dengan perut buncitnya.


Memorinya melayang pada malam sebelum Bintang berangkat. Mereka berc*nta dengan begitu lama dan Binatang melakukan nya dengan perlahan karena takut membuat Bee terluka. Bee sadar akan n*fsu yang di miliki suaminya begitu besar, tapi karena kehamilannya, Bintang harus memendam hasrat liarnya.


Tubuh besarnya juga membuat pergerakan Bee terhambat, hingga hanya gaya umum saja yang mereka lakukan agar Bee tidak lelah.


Penuh kekesalan Bee menghentak kakinya di depan cermin. Pikirannya sendiri yang membuat hati nya tidak tenang, dengan membayangkan hal-hal yang tidak-tidak akan di lakukan Bintang dan Stella.


Membayangkan bibir gadis itu menyentuh suaminya membuat Bee menggila. Penuh amarah dia mengambil kembali ponselnya.


Nada panggilan ketiga, sambungan telepon belum juga terjawab oleh orang di seberang sana.


Putus asa Bee menekan ulang nomor yang tadi dia tekan. Hanya terdengar nada panggil tanpa ada jawaban. Untuk ketiga kalinya Bee mencoba, putus asa dan bayangan perselingkuhan semakin merasuki jiwanya.


"Halo sayang..." suara dari seberang membuyarkan lamunannya.


"Kenapa lama diangkat? kamu lagi apa?" salaknya penuh emosi. Bahkan Mira sampai gemetar meletakkan susu hamil untuk Bee di atas meja.


"Maaf sayang, tadi lagi meeting dengan tuan Monsieur Blanc. Ada apa Bee? kamu baik-baik saja? kenapa suaramu bergetar sayang?" tanya Bintang panik.


"Pulang sekarang juga" hardiknya tak memperdulikan pertanyaan Bintang yang tampak mengkhawatirkan nya.


"Hah? apa? kamu kenapa Bee? apa mau lahiran sekarang?" Bintang semakin cemas.


"Aku bilang, kamu pulang sekarang, detik ini juga. Kalau ga aku akan pergi dari rumah ibu" sambungan nya sudah terputus, bahkan Bee melempar ponselnya ke tembok hingga hancur.


"Nyonya, jangan begitu, kasihan bayinya. Sudah nya, jangan nangis lagi" ucap Mira yang malah ikut menangis.


"Mir..." Bee memeluk gadis itu, menangis bersama saling peluk. Mira bukan nya tidak paham kalau majikannya ini terluka oleh pemberitaan tentang Bintang.


"Sakit Mir..sakit.."ucap Bee terus menangis.


Hingga malam Bee hanya berdiam diri di kamarnya. Amarah masih belum reda. Pukul satu pagi dia masih saja menangis, membuang tisu disembarang tempat. Namun lelah menangis membuat nya tertidur hingga pagi hari nya, dia terbangun merasakan sakit yang luar biasa di bawah perutnya. Bee melirik sudah pukul 11 siang. Kepalanya begitu pusing seolah berulang kali di hantam palu Godam.


"Mir.."erang nya menahan sakit.


Tapi di sekelilingnya tidak ada siapa pun. "Mir.." ulang nya lebih keras.


Tak ada jawaban, Bee mencoba turun sendiri. Ada cairan seperti air pipis yang dia rasakan seolah keluar sedikit demi sedikit.


Tertatih dia membuka pintu. Kepala nya begitu pusing, tenggorakan kering dan terasa mencekat. Sekuat tenaga Bee menggenggam pegangan tangga ingin menapaki anak tangga pertama, tapi pandangannya mengabur, tenaga nya merosot. Bahkan air itu sudah merembes di sela paha nya.


"Nyonya.." teriak Mira yang lewat membawa nampan makanan untuk Bee.


Sesaat setelah Mira meletakkan nampan di meja, gadis itu berlari menyongsong Bee yang hampir jatuh merosot ke anak tangga berikutnya.


"Tolong..bi Ijah" teriak Mira memanggil kepala pelayan rumah besar itu.


Bi Ijah dan bu Salma yang mendengar teriakan Mira segera menghambur menuju arah suara. "Bee.." pekik bu Salma histeris.


Bee di papah untuk duduk di sofa. Lalu Bu Salma memerintahkan Mira untuk mengemas pakaian dan segala keperluan Bee selama di rumah sakit nanti.


"Ijah, minta Parman siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang" ujar bu Salma yang terus mendekap Bee. Mengelus punggung hingga pinggang gadis itu.


"Sabar ya nak, ini mungkin sudah waktunya kamu lahiran" ucap nya bergetar. Semua tidak pada waktu yang tepat saat ini. Bintang masih di luar negeri, Piter juga hari ini pergi ke kampus untuk melegalisir ijazahnya.


"Kamu dimana?" tanya bu Salma tanpa basa basi setelah mobil melaju menuju rumah sakit.


"Aku di kampus queen, ada apa? masa udah kangen aja? baru juga tiga hari lalu kita berpisah" ucap Piter seperti biasanya.


"Diam. Segera ke rumah sakit, kakak ipar mu akan melahirkan" tup! sambungan ponsel dimatikan oleh ibu suri dan kembali mengurus Bee yang masih merintih kesakitan.


"Kuat ya nak. Tarik nafas..buang..tarik lagi..buang.." ucap ibu menekan kepanikannya.


Bee sudah di dorong masuk ruangan. Bertemu dokter Leann untuk di periksa.


"Masih pembukaan tiga.. masih lama. Ibu harus banyak gerak biar dedek bayi nya mudah keluar nantinya"


"Cairan itu dok?" tanya Bee terengah-engah.


"Ga papa. Itu memang tanda pembukaan udah di mulai. Tapi air ketuban masih bagus kok. Dorongan yang kuat dari dalam, kadang membuat kita tanpa sadar mengeluarkan pipis sedikit.


Sekarang ibu coba jalan pelan-pelan di sini ya" pinta dokter yang diangguk Bee.