
Tepat saat pintu kamar terbuka, Kinan dan Piter sudah duduk di meja belajar. Kinan masih merapikan rambutnya saat Bee masuk.
"Oh, kalian di sini? Saga udah tidur ya?" ucap Bee menyembunyikan senyum nya. Dia tahu apa yang sudah terjadi saat melihat keadaan Kinan yang acak-acakan.
"Makasih ya, kalian berdua udah jagain Saga?" Bee menatap keduanya yang gagok sambil tersenyum.
"Kalau gitu, aku pamit pulang dulu Bee" ucap Kinan bangkit.
"Biar aku antar" sambung Piter cepat. Saat pamit pada ibu pun, Kinan begitu malu saat tatapan ibu tidak lepas dari lehernya. Walau tidak melihat di cermin, Kinan tahu, kalau tatapan ibu yang sedikit terkejut pasti karena ada sesuatu tanda di lehernya.
"Kok diam aja? aku ada salah? atau jangan bilang kamu berubah pikiran ya, ga mau nikah dengan ku" ucap Piter asal tebak dari balik kemudi. Pasalnya sejak meninggalkan rumah ibu, Kina menutup rapat mulutnya.
"Nan.." ulang nya meminta perhatian.
"Apa sih Ter?"
"Ngomong dong. Berasa jadi supir Ojol gue"
"Aku malas ngomong sama kamu"
"Nah loh, kenapa? bukan nya tadi kita masih enak-enakan? kok sekarang malah marah. Nanggung ya tadi? kepala mu jadi sakit?"
Kinan melempar tatapan tajam. Semakin kesal dengan ucapan Piter yang asal nyablak.
"Aku tuh kesal sama kamu. Gara-gara kamu aku jadi malu sama ibu dan Bee. Lihat nih, leher aku merah-merah semua" Ujar Kinan semakin kesal. Kembali dia mengingat reaksi dan perkataan ibu saat dia pamit tadi.
"Bu, aku pulang dulu ya" ucap nya menarik tangan ibu dan membawa ke keningnya.
"Itu leher mu kenapa Nan? kok pada merah-merah semua?" sontak tangan Kinan naik untuk menutup lehernya. Wajahnya bersemu merah, apa lagi saat melihat senyum Bee yang memberi tanda pada ibu untuk tidak memperpanjang masalah itu lagi.
"Ya elah, masalah gitu doang. Ibu suri mah pasti paham, namanya juga anak muda. Lagian dia pasti senang kita balikan lagi"
Mobil Piter tiba di depan gerbang rumah Kinan. Piter bersikap gentle dengan membuka pintu untuk Kinan turun.
"Makasih ya Ter, mungkin ga lama lagi, kamu ga akan tinggal di sini lagi" ucap nya pelan. Tapi Piter tidak menyambut omongan Kinan. Dia bersikap seolah tidak mengetahui masalah yang kini dihadapi keluarga Setiawan. Dia tidak ingin, Kinan menjadi tidak enak hati dan merasa berhutang budi saat tahu Piter lah yang menolong mereka. Pria itu tidak ingin, Kinan menerima hubungan mereka karena rasa terimakasih.
Tapi berbeda dengan Kinan, sikap cuek Piter mendatangkan kesedihan di hatinya. Pria itu tidak perduli akan masalah yang dia hadapi. Tapi itu hak Piter. Dia tidak ingin menyeret Piter akan penderitaan keluarga mereka jika pria itu tidak berkenan.
***
Setelah proses, dan tentu saja sikap intimidasi dari Piter membuat pria yang kebetulan adalah ipar dari si penipu itu mengaku. Menerima pengalihan sumber dana yang cukup besar, bahkan beberapa saham dialihkan atas nama nya.
Akhirnya setelah proses panjang, dana tersebut berhasil di kembalikan, dan PT Kinanti bisa membayar segala tunggakan pada pihak bank.
Setiawan kini bisa bernafas lega. Perusahaannya tidak jadi tutup, bahkan kini mendapatkan suntikan dana dari perusahan yang mengajaknya kerja sama. Yang tidak di ketahui Setiawan, perusahaan yang bergerak di bidang real estate itu adalah milik Piter yang memang selama ini di kelola Bintang.
Yang menjadi perwakilan dalam kerja sama itu juga adalah Wakil CEO di perusahaan Piter yang menjadi orang kepercayaan keluarga Danendra selama ini.
Melalu Tia, Piter di beritahu bahwa Setiawan datang dan ingin menemui nya. Pria itu tentu saja menyambut dengan antusias. Kebetulan Setiawan datang hari ini, dia akan mengungkapkan niatnya untuk melamar Kinan, karena Piter berencana akan ke rumah pria itu nanti malam.
"Maaf kalau saya mengganggu anda" ucap Setiawan mengulurkan tangannya menjabat tangan Piter. Nada bicara pria itu masih sedingin es terhadap Piter, bahkan memanggilnya dengan sebutan anda!
"Ga papa om. Aku juga ingin bertemu om sebenarnya. Tapi rencana nya aku akan datang ke rumah om malam ini" sahut Piter tanpa basa basi. Bahkan dia langsung memanggil om pada Setiawan agar pria tua itu tahu, dia tidak ingin pria itu menganggap nya orang lain.
"Kalau begitu silahkan, anda lebih dulu"
"Om lah duluan. Om udah jauh-jauh datang ke mari" sahut nya mengulur waktu. Dia perlu menata kata dan menyiapkan mental. Ini lebih sulit dari pada menggelar perkara di pengadilan.
"Saya kemari ingin mengucap banyak terima kasih. Anda sudah.."
"Om, panggil kamu atau kau aja om, jangan anda. Aku ga mau kita kayak orang asing" tegas Piter. Kali ini calon mertuanya itu harus menerima keberadaan dirinya
Setiawan menatap sejenak ke arah Piter, seolah mencari sesuatu di wajah pria itu yang bisa meyakinkan hatinya.
"Baik lah. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada mu, karena telah membantu perusahaan kami. Sekarang aku ingin kau terus terang, buka harga yang harus ku bayar"
Bahu Piter merosot saat mendengar perkataan Setiawan. Jadi pria itu datang kemari hanya ingin membayar jasa Piter. Ingin rasanya Piter mengatakan harga yang dia ingin kan sebagai bayaran adalah dengan mengizinkan nya menikahi putrinya, Kinan. Tapi lidahnya dia tahan, dia tidak ingin hubungan nya dengan Kinan yang tulus, dibayangi rasa terima kasih karena sudah membantu papanya.
"Terserah om mau bayar berapa aja" Piter meletakkan satu kaki nya dan menjadikan kaki yang lain menjadi tumpuannya.
"Aku tidak ingin ada hutang budi, sebutkan saja harga mu, harga yang biasa kau terima"
"Aku tidak pernah mematokkan berapa klien ku harus membayar. Kadang 50 juta, kadang 100jta, bahkan ada kalanya gratis" ucap Piter berbohong.
Semua orang tahu, tarik pengacara kondang ke kaliber Piter, setidaknya 1 M, karena kebanyakan klien nya adalah para miliarder, dan para artis kondang. Tapi tidak semua yang di katakan Piter adalah kebohongan, Piter sering membela klien tanpa memungut bayaran se sen pun. Selain karena memang tidak mampu membayar, mereka Nyang di bela nya adalah kaum yang tertindas yang mengharapkan keadilan.
"Apa kau kira aku tidak sanggup bayar?" senyum Setiawan mengembang, menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dan melipat tangan di dada. Susana kemudian mencair. Mereka sudah bisa mengobrol layaknya ayah dan anak yang berhasil akur setelah sekian waktu sama-sama menancapkan bendera perang.