
Tok..tok..tok
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Bee membuka mata. Sejak pulang dari rumah Bintang, Bee menghempaskan tubuhnya di kasur dan memutar lagu kesukaan nya, berharap mood nya kembali.
"Masuk.."
"Non, di bawah ada tuan Bintang.." ucap bi Jum. Kalau biasanya Bi Jum akan menyebutkan orang asing, tetangga ga tahu diri, pria kardus, kali ini sikap bi Jum begitu ramah dan sopan.
Itu semua karena cerita tante Diana pada bi Jum sebelum pulang ke Jakarta kemarin. Dari tante Di lah bi Jum tahu, bahwa demi menyelamatkan hidup Bee, Bintang sudah melepas ikatan perjodohan itu. Membebaskan tanpa syarat, bahkan hutang Hutomo di putih kan pria itu tanpa ada tuntutan.
"Ngapain dia ke sini bi? usir dia keluar bi" salak nya. Emosinya yang tadi sudah menurun, tiba-tiba jadi naik lagi.
"Ga boleh gitu dong non, masa tamu diusir, ga baik" susul bi Jum.
Bee menatap aneh pada bi Jum. Biasanya bibi nya ini selalu antipati pada Bintang, kenapa kali ini ada di kubu pria itu?
Dengan malas Bee menyeret kakinya untuk menuruni tangga. Pria itu sudah duduk di sudut sofa paling panjang di ruangan itu. Memainkan ponsel nya seolah sedang mengetik pesan.
"Ehem..!"
Bintang bangkit, bersikap gentle menyambut kedatangan Bee.
"Ngapain kemari?" delik nya kesal menghempaskan tubuh nya di kursi. Bintang hanya tersenyum dengan penyambutan gadis itu yang cuek dan dingin. Bintang memutar langkah, dan duduk di kursinya yang sama dengan Bee.
"Ngapain duduk di sini sih? kan banyak itu kursi yang masih kosong?" salak nya masih kesal. Namun kembali debar jantungnya terdengar lebih cepat, dan penyebab nya masih sang Casanova.
"Aku mau nya duduk di sini, dekat kamu. Kenapa sih kamu marah-marah terus setiap ketemu sama aku?" ucap nya dengan gaya menggoda.
"Iiih..siapa yang marah? gue emang selalu gini kok setiap ketemu sama lo!"
Hanya senyum yang terkembang. Tak ada bantahan, Bintang terus menatap wajah cantik yang berhasil tersipu malu karena di tatap nya.
"Tadi kamu ke rumah ngapain? jangan bilang minjam cas an, karena aku tahu itu bohong" lanjut Bintang, saat Bee ingin menjawab, dan setelah kalimat terakhir Bintang, Bee menutup rapat mulutnya.
Bee bingung harus memulai dari mana. Tujuan nya ingin meminjam uang pada Bintang, tapi justru dia yang lebih galak.
"Sebenarnya..gue mau minta tolong.." diam sejenak. Rasa nya begitu berat untuk melanjutkan kalimatnya.
"Apa pun yang bisa aku lakukan untuk mu, maka akan aku perbuat" ucap Bintang tetap tenang.
"Gue..gue mau minjam duit sama lo, lima ratus juta" Bee bernafas lega, sudah dia katakan misi nya.
"Untuk apa?" tanya Bintang dengan tenang. Sedikit pun tak ada tanda penolakan.
"Untuk..untuk.. gue ada perlu. Tinggal jawab aja, lo mau ngasih apa ga?" ucap nya pelan
Debar jantung Bee masih tak beraturan, menunggu Bintang memberi jawaban. Pria itu masih diam, menatap ujung sepatunya. Ada raut kesedihan yang ditangkap Bee dari wajah pria itu.
"Duit segitu detik ini juga bisa aku kasih sama kamu, tapi tidak dengan semudah itu. Aku ga akan meminjamkan, tapi akan aku berikan tanpa perlu kamu pulangkan" ada jeda dari kalimat pria itu. Dan Bee sudah memasang ancang-ancang, feeling-nya bilang pria ini akan meminta timbal balik yang pastinya akan merugikan dirinya.
"Maksud lo apa?" pancing Bee.
"Aku akan berikan berapa pun uang yang kamu minta, asal kamu mau menikah dengan ku!"
Duar...!
Bee masih terpaku saat Bintang melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu kamu akan menolak, karena aku bukan lah pria yang kamu cintai. Menikah dengan ku selama setahun, beri aku pewaris, setelah nya kamu berhak meminta apa pun padaku, sekalipun itu perpisahan" suara Bintang setenang itu mengatakan hal yang bagi Bee seluar biasa itu!
"Otak mesum! gue salah mikir lo pria yang baik. Lo emang pria br*ngsek. Gue benci sama cowok br*ngsek kayak lo!"
Bee sudah berlari, meninggalkan Bintang yang masih duduk santai setelah menerima makian dari gadis itu.
Di atas, Bee menangis sesungguk kan. Hati nya tersayat. Ingin menolong pria yang di cintai nya, tapi harus menggadai harga diri nya sendiri.
***
Pukul tiga sore, seperti waktu yang ditentukan, Elang sudah menunggu dengan tidak sabar kedatangan Bee. Bolak balik dia melihat layar ponselnya, belum ada kabar dari gadis itu.
Basecamp mereka yang begitu kotor, tampak sepi. Hanya ada Elang, karena temannya yang lain, belum pada datang.
Senyum sumringah Elang mengembang, saat melihat sosok Bee yang berjalan mendekat. "Sayang, akhirnya kamu datang, gimana? apa katanya? kapan dia akan memberikan uangnya?" Segudang pertanyaan di cerca padanya, hingga membuat Bee ingin menangis. Elang bahkan tidak menanyakan keadaannya, sudah makan atau belum!
Saat itu lah Bee sadar, yang Elang butuhkan hanya uang itu, bukan dirinya. Tapi walau sudah tahu pun, Bee tetap bodoh masih ingin bersama pria itu.
"Bee..jawab dong sayang, jangan diam aja. Kapan dia akan memberikan uang nya Bee? aku ga punya waktu. Kalau sampai dalam Minggu ini aku ga kasih uang nya, band kami akan di tinggalkan, ga jadi rekaman, dan parahnya, teman-teman akan mendepak ku dari band ini" seru Elang hampir habis kesabarannya.
"Kamu hanya perlu uang itu Lang?" setetes cairan bening jatuh dari pipinya.
"Please Bee, jangan mulai lagi, kamu tahu aku lakukan ini juga untuk masa depan kita juga nantinya"
Bee masih memilih diam. Meremas jemarinya sebagai umpatan kekesalannya pada Elang.
"Bee..jawab, kapan dia akan berikan uang nya?" suara Elang sudah meninggi, pertanda kesabarannya sudah habis.
"Kamu mau detik ini pun dia bisa berikan" ucap Bee bergetar. Hancur sudah pertahanan nya. Bee mengusap bulir bening itu, yang terus saja turun tak putus-putus.
"Benar kah Bee?" sahut nya girang, sedikitpun tak memperdulikan air mata kekasihnya.
"Ya Bee, aku mau sekarang. Suruh dia mentransfer sekarang juga" ucap Elang, bertepuk tangan, gembira karena akhirnya impiannya tak jadi tenggelam.
"Kau hanya perlu uang itu, tanpa bertanya apa syarat yang dia ajukan?" salak Bee sudah tak tahan lagi.
"Aku ga perduli Bee, bahkan jika dia minta aku menjilat kakinya" balas Elang dingin.
"Dia meminta ku menikah dengan nya, Lang.." pelan, hampir berupa bisikan, tapi itu adalah kata-kata dari perwakilan hati nya yang hancur.
"Menikah dengan mu?" salak Elang. Tak menyangka syarat yang di ajukan pria itu adalah sang kekasih.
Lama keduanya diam. Hanya isakan Bee yang terdengar sesekali.
"Bee, dengar kan aku sayang, terimalah tawarannya. Kalau demi memberikan uang itu kamu harus menikahi nya, maka menikah lah Bee" putus Elang menggenggam tangan Bee.
Dengan amukan hebat, Bee melepas tangannya, menatap tajam ke arah Elang.
"Kamu gila Lang. Bahkan kamu mau melepas ku demi uang itu?"
"Kita harus realistis Bee. Setiap perjuangan pasti perlu pengorbanan!"