
Tempat yang di tuju Piter adalah bar yang biasa dia kunjungi. Kirei tampak begitu gembira melihat kedatangan Piter. Dia merindukan pria itu.
"Kau datang?" ucap nya menyunggingkan senyum termanis yang dia punya.
"Ya..bawakan aku minuman. Apa yang lain sudah datang?" tanya Piter yang merujuk pada kedua teman-temannya.
"Ini terlalu pagi untuk minum-minum, Ter" suara sensasional Kirei mampu mencuri perhatian Piter sesaat. "Sayang lo bukan Kinan" batin nya memperhatikan Kirei sesaat sebelum kembali menatap meja yang masih kosong.
Lima menit kemudian, Kirei sudah datang membawa satu buah nampan berisi banyak jenis minuman dalam botol. Dengan telaten Kirei membuka salah satu botol yang dia tahu adalah kesukaan Piter, menuang dalam gelas kristal.
Tanpa canggung, Kinan berjalan ke belakang Piter, dan mulai memijit bahu hingga leher pria itu. Pijitan yang selama ini selalu berhasil menyeret Piter ke ranjang nya.
"Hentikan Rei, aku tidak bisa menahannya"
"Maka lepaskan lah. Aku merindukanmu, ter" bisik nya sembari menj*lati daun telinga Piter. Bulu kuduk Piter meremang dengan er*ngan dan d*sahan Kirei.
"Hentikan Rei. Aku cuma butuh minum. Tinggalkan aku sendiri, please"
"Tapi aku ingin bersama mu, Ter. Izinkan aku menemanimu" Kirei bahkan sudah melingkarkan tangannya di pundak Piter, telapak tangannya terus meluncur hingga dada bidang Piter dan mengelus nya perlahan.
"Cukup Rei, tinggalkan aku!" ulang Piter yang menahan tangan Kirei yang berniat terjun bebas hingga ke bawah pusar nya.
Tidak punya pilihan lain, Kirei pun melepas pegangannya pada tubuh Piter dan sesuai permintaan pria itu, Kirei meninggalkan nya sendiri.
"Kenapa lo? asam banget?" Sita yang mendapati Kirei di toilet melihat raut wajah Kirei yang tampak kesal. Selinting rokok di sela jarinya sudah tinggal setengah lagi.
"Gue kesal sama Piter. Dia masih ga mau ngelihat gue? gue harus apa dong Sit?"
"Lo sih mendekatinya ga serius. Usaha lo belum maksimal kali" Sita juga mengambil satu batang rokok dari kotak nya yang di letakkan Kirei di atas wastafel. Toilet itu baru aja di bersihkan jadi pintunya di buka oleh OB, yang sedang mengeringkan lantai hingga ke depan toilet.
"Kurang maksimal apa? gue udah buat istri nya keguguran hingga mereka cerai, jadi kurang apa lagi gue coba?" hentak Kirei berjalan ke arah pintu toilet.
"Lo buat istri nya keguguran? maksud lo? gue ga paham, serius" Sita tercengang mendengar penuturan Kirei. Dia tidak mengira kalau sahabatnya itu sampai senekat itu.
"Waktu itu gue ke salon langganan gue, yang ketepatan istri Piter juga ada di sana. Gue pikir itu waktu gue bertindak agar Piter balik sama gue. Toh alasan pernikahan mereka adalah karena ada bayi itu kan. Jadi kalau bayi itu ga ada maka pernikahan tidak perlu di pertahankan lagi. Pas dia mau ke toilet, gue siram lantai nya dengan pembersih lantai, jatuh deh dia" ucap Kirei santai.
"Udah ah, ga usah di bahas lagi, cabut yok" ujar Kirei sebelum menghisap panjang rokoknya. Baru selangkah keluar, Kirei berhadapan dengan Piter yang berdiri menyandar di dinding dengan tangan dilipat di dada.
"Piter.." wajah Kirei pucat seolah yang saat ini ada di hadapannya adalah malaikat pencabut nyawa.
Piter memandang ponselnya, lalu memasukkan nya ke dalam saku celana. Kemudian perhatiannya di tujukan pada Kirei. Tanpa ampun, Piter menyeret Kirei menuju lobby bar. Di sana banyak pengunjung dan juga pemilik bar itu. "Ada apa bos?" sang pemilik mendekati Piter. Melihat raut wajah penuh amarah dari pelanggan VIP nya itu pasti ada hal serius yang di lakukan oleh anggotanya. Tapi setelah di perhatikan lagi, wanita yang sudah membuat Piter Danendra marah adalah wanita yang selama ini menjadi kekasih pria itu.
"Ini, pekerja mu ini adalah pembunuh. Dia sudah menyebabkan istri ku keguguran. Dia adalah pembunuh bayi ku!" murka menggelegar di ruangan itu. Musik sudah di hentikan sejak tadi. Suasana tampak mencekam, semua ketakutan. Siapa yang tidak kenal dengan Piter Danendra? pengacara hebat dan selalu bringas di setiap pertarungan nya. Belum lagi dengan Bintang Danendra, sang abang yang lebih mematikan lagi.
Kali ini Kirei bermain dengan nyawanya sendiri. Meminta kematian nya di percepat dengan mencelakai penerus Danendra.
"Maaf bos. Saya benar-benar minta maaf, saya tidak tahu Kirei bisa senekat itu" berulang kali bos pemilik tempat itu memohon maaf, walau bukan dia yang salah. Dia tidak ingin apa yang dilakukan pekerja nya membuat tempat nya di tutup oleh keluarga Danendra.
"Aku akan menjebloskan mu ke penjara" ucap Piter penuh emosi. Kirei yang sudah berlutut di kaki Piter berulang kali meminta maaf. "Maaf kan aku Ter, aku salah. Aku menyesal. Aku mohon, jangan penjarakan aku" ucap nya mengiba.
Hidupnya kini diambang kehancuran. Apa lagi yang bisa dia harapkan dalam hidupnya. Cinta dan ambisi membutakan mata hatinya hingga berani berbuat jahat seperti itu.
"Aku tidak akan mengampuni mu. Kau akan membusuk di penjara! Tunggu saja aku akan membuat laporan" Piter sudah menghempaskan tubuh Kirei yang memeluk kakinya lalu melangkah pergi.
"Kau, segera angkat kaki dari sini. Kau di pecat. Aku tidak mau karena kejahatan mu, tempat ini di tutup!"
Lengkap lah sudah penderitaan Kirei. Kini semua benar-benar hilang dari hidupnya. Tidak mendapatkan Piter kembali bahkan kini dia di tendang dari pekerjaannya.
Kirei pulang ke apartemen nya. Ketakutan membuat air mata nya tidak henti mengucur di pipinya. Dia begitu frustasi menghadapi masalah ini. Dia tidak ingin di penjara. Hingga dini hari dia terjaga, hingga wajah Kinan muncul di pelupuk matanya. Yah, dia harus bertemu wanita itu. Hanya wanita itu lah yang bisa menolongnya dari amukan amarah Piter.
Sementara itu, Piter memilih untuk mengunjungi bar lainnya. Hatinya hancur. Kenyataan yang dia dapatkan hari ini membuatnya terpukul. Orang yang selama ini dia pelihara, justru orang yang sudah membunuh bayinya.
Bagaimana kalau Kinan sampai tahu bahwa orang di balik semua itu adalah wanita yang selama ini jadi kekasihnya. Hanya karena kecemburuan dan ambisi Kirei untuk mendapatkan nya membuat Kinan menderita dan menyebabkan mereka bercerai. Kinan pasti akan membencinya. Menganggap semua ini adalah kesalahannya.
"Nan, maaf kan aku. Secara tidak langsung aku lah yang sudah membunuh anak kita" desis nya sembari menatap photo Kinan di layar ponselnya.
Sekali lagi Piter mengutuk perbuatan Kirei. menyesali pernah menempatkan gadis itu di dalam hidupnya.
Digenggam nya erat gelas kristal berisi minuman nya, seolah itu adalah leher Kirei. Dia tidak akan mengampuni gadis gila itu.