
"Lang pulang yok, udah jam lima" berulang kali Bee melirik jam tangannya. Ini sudah jam pulang kerja Bintang, dan Bee harus segera ke rumah tante Di, sebelum Bintang lebih dulu tiba di sana.
"Sebentar lagi, aku masih mau cari satu sepatu lagi Bee. Kamu duduk aja disitu. Ingat belanjaan ku jangan ada yang hilang, pegangin" perintah Elang masih mengitari ruangan mencari benda yang dia inginkan. Ponselnya sengaja dia matikan, agar Bintang tak bisa menghubungi.
Berlalu nya waktu, membuat Bee semakin gelisah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul Setengah enam sore.
"Gimana menurut mu?" Elang berjalan di depan Bee memamerkan sepatu Ad*das nya yang baru.
"Bagus, kamu makin cakep make nya" ujar Bee asal. Dia sudah tak perduli, yang kini di khawatir kan nya adalah bagaimana kalau Bintang sampai tahu dia pergi dengan Elang.
Setelah memohon sambil hampir menangis, Elang mau diajak pulang. "Lihat mobil aku, keren kan Bee?"
"Iya, keren banget. Udah yok pulang" Bee sudah masuk ke dalam mobil. Setelah tanda tangan kontrak, Elang membeli mobil untuk transportasi nya ya walaupun bekas
Dan jujur Bee ikut senang dengan keberhasilan Elang.
Tak sampai satu jam, mobil Elang sudah tiba di depan rumah tante Di. "Aku turun dulu ya, makasih ya Lang. Jaga diri kamu" ucap nya sembari membuka seatbelt.
Belum sempat membuka pintu, tangan Bee sudah di tarik oleh Elang, lalu memegang dagu gadis itu hingga mereka saling tatap. Elang mendekatkan wajahnya, ingin mencium bibir gadis itu.
Jantung Bee berdetak cepat. Ada rasa terpaksa dan tidak suka. Berbeda dengan Bintang.
Kan lagi-lagi dibandingkan dengan Bintang!
Pelan Elang menyatukan bibir mereka. Dengan lembut menekan bibir Bee, mengecup, agar bibir itu terbuka. Tapi belum sempat godaan itu berhasil membuat Bee membuka mulut, sebuah ketukan keras pada kaca mobil di sisi Bee mengejutkan kedua insan yang hendak saling mel*mat itu. Sontak Bee mendorong tubuh Elang menjauh tak kala sadar siapa yang ada di luar.
Rahang Bintang mengeras dan sorot matanya menghitam. Amarahnya begitu ketara hingga nyali Bee semakin ciut.
"Turun.." bentaknya.
Dilema oleh rasa takut dan bersalah, Bee malah bengong hanya menatap. Tak berani keluar.
"Turun Bee, cepat.." Bintang masih mengetuk kaca mobil kuat.
"Dasar pria gila, kamu jangan keluar Bee. Kita lihat dia bisa apa" ucap Elang. Dia hanya tak sadar siapa yang jadi lawannya.
Dengan amarah yang tak tertandingi, Bintang memungut satu batu besar yang dia lihat di sekitar situ, lalu bersiap untuk memecahkan kaca mobil milik Elang.
Untung kesadaran Bee muncul, segera dia membuka pintu mobil, lalu menghambur keluar. Kini mereka saling tatap seolah jika tatapan itu bisa membunuh, Bee sudah mati sejak tadi.
Keadaan bertambah buruk karena Elang ikut turun. Bagaimana pun dia khawatir dengan keadaan Bee kalau sampai pria itu main tangan pada gadis itu.
"Masuk" raung nya begitu keras. Hati Bee menciut, sorot mata Bintang begitu menakutkan. Sama seperti malam ulang tahun nya dulu, malah lebih mengerikan saat ini.
"Ga Bee, aku ga mau pria ini menyakitimu" drama sepasang kekasih yang ada di hadapannya itu justru membuat amarah Bintang semaki naik. Kesabarannya habis.
Satu demi satu kancing jas nya dia buka, lalu melempar sembarangan ke tanah. Bee terpekik melihat Bumi yang kini sudah menggulung tangan kemejanya.
"Aku mohon Lang, jangan memperburuk keadaan, dia tidak akan menyakiti aku. Please pergi sekarang" Bee sudah mendorong tubuh Elang memaksa masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Lepaskan tangan mu dari dirinya" salaknya pada Bee. Seketika Bee menarik tangannya dari punggung Elang. Tatapannya terus memohon pada Elang untuk segera pergi.
"Ok sayang, aku pulang. Tapi kalau sampai dia melukai mu, kamu harus janji akan memberitahu ku segera" Bee langsung mengangguk agar Elang cepat pergi.
"Kau masih di situ?" seru Bintang masih penuh emosi pada Bee yang masih tak bergeming di tempat nya. Bukan tidak mau patuh, Bee belum masuk hanya karena menunggu sampai mobil Elang pergi dari sana.
"Kakak juga ayo masuk" ucap nya sedikit takut. Bukan, bukan sedikit tapi benar-benar takut.
"Aku bilang masuk sekarang juga" ulang nya dengan suara datar. Bersamaan mobil Elang pergi. Bintang memang membiarkan pria itu pergi, karena tidak ingin perkelahian mereka membuat tante Di dan keluarga men cap dirinya sebagai pria yang tidak punya self-control.
"Iya ayo, kita masuk barengan" rengek Bee hampir menangis. Persis seperti anak yang akan menerima hukuman dari orang tua karena sudah melakukan kesalahan.
Hufffh..Bumi mendengus kesal.Lalu melangkah masuk. Semarah apa pun, pasti tidak tega an pada Bee.
"Hebat kamu ya, buat tante dan om kamu malu. Pikiran kamu kemana sih Bee? kamu pergi sama Elang tanpa izin suami kamu? bisa tidak kamu sedikit saja menghargai suami kamu?" omelan tante Di bergema setelah wanita itu menarik Bee menuju dapur, agar leluasa memarahi Bee.
Bee hanya menunduk menatap ujung sepatu nya, tanpa bisa membantah karena memang apa yang dikatakan tante Di benar adanya. Dia menyesal. Tapi bukan kah selalu begitu? penyesalan selalu datang belakangan?
Dia bukan menyesal telah pergi kencan dengan Elang, dia bersedia menanggung jika Bintang marah bahkan sampai memukulnya. Dia siap tanggung segala konsekwensinya.
Yang membuatnya menyesal adalah karena berhasil melukai perasaan Bintang. Bee sempat melihat sorot mata terluka pria itu saat turun dari mobil Elang. Sulit dilukiskan perasaan nya yang campur aduk, yang pasti dia sangat menyesal.
"Tapi tan.."
"Masih berani kamu ngejawab? kamu punya perasaan ga sih? apa yang kamu harapkan dari pria br*ngsek itu? kurang apa Bintang buat kamu? tante saja bisa melihat dia sangat mencintai mu. Jangan sampai saat dia berpaling dari mu, kamu nangis darah!" emosi tante Di masih ada di level atas. Tak mungkin membantah, apa lagi bela diri. Bee memilih opsi aman saja dengan diam.
"Kenapa diam? mana lidah kamu yang suka ngejawab itu? jawab Bee" salak tante Di.
"Tadi mau ngejawab di suruh diam" jawab nya pelan. Mata tante Di hanya bisa melotot kehabisan kata-kata. Masih menyimpan kesal tante Di menatap Bee. Tidak tahu harus apa lagi untuk menyadarkan ponakan nya itu.
Jelas-jelas sudah dapat emas murni, masih aja suka make imitasi!
"Sudah, temui suamimu. Tante ga tanggung jawab ya, kalau kamu di marahi sama dia!"