
Sudah dua kali Bee menguap, mengucek matanya berusaha mengumpulkan nyawanya. Alarm yang masih terus berdering segera di matikan.
Sebelum bangkit, Bee menyadari dirinya tidur di tempat tidur kamarnya. Sementara dia ingat betul kalau semalam dia menunggu Bintang pulang hingga ngantuk menyerang dan memutuskan rebahan di sofa.
Di tunjang nya selimut yang masih menyelimuti tubuh nya, bergegas turun lalu masuk ke kamar mandi.
Gue yakin, kak Bintang yang mindahin gue. Pokoknya pagi ini kita harus udah baikan..
Kecepatan penuh dia kerahkan agar bisa selesai mandi dengan cepat. Bee tak mau ketinggalan sarapan pagi nya dengan bonus suami tampan yang nangkring di sana lebih dulu.
"Gue pake liptint merah apa yang nude ya? merah aja, biar dia ga bisa berpaling dari wajah gue.." bisik nya lebih pada dirinya sendiri. Setelah melihat penampilannya sudah good looking, Bee melangkah menuju meja makan.
Sedikit heran, Bee tetap duduk di kursi tempat biasa dia tempati. Kepalanya celingukan mencari sosok yang sejak bangun tidur tadi ingin dia temui, tapi nyata nya sudah tidak ada.
"Mir..miraaaa.." teriak nya panik. Ga mungkin dia kesiangan kan? ini masih jam enam pagi loh ya. Rekor ter pagi dia siap berangkat sekolah.
"Iya Nya?" Mira lari dari dapur. Sarapannya dia letakkan begitu saja setelah mendengar jeritan Nyonya nya. Memang harus terbuat dari baja jantung pelayan di rumah ini, karena tuan dan nyonya mereka memang rada gila. Suka ngagetin.
"Ini masih jam enam pagi kan ya?" tanya nya memastikan bukan halusinasi semua yang dia lihat.
"Iya Nya"
"Terus kak Bintang mana? belum bangun?"
"Tuan..tuan..sudah berangkat Nya" ujar nya takut. Mira sedikit takut menyampaikan hal itu pada Bee. Tadi malam Bee curhat sambil nangis mengenai Bintang yang kunjung ngajak dia bicara. Dan pagi ini, Mira tahu Nyonya bangun pagi karena ingin bertemu dengan Bintang, tapi gagal lagi.
"Cepat amat. Jam berapa?"
"Jam tiga subuh Nya" suara Mira melemah.
"Kemana?" suara Bee tercekat hampir menangis.
"Kurang tahu Nya. Mungkin pak Jarwo tahu Nya"
"Pak Jarwo.." teriak Bee.
"Saya Nya.." pak Jarwo yang baru memeriksa hasil kerja tukang kebun, masuk menemui Bee dengan setengah berlari.
"Kak Bintang kemana pak?" tak ada lagi suara tinggi. Karena tubuh Bee sudah lemas. Kemanapun pria itu, intinya mereka tidak bisa bicara hari ini.
"Ke Bandung Nya. Ada urusan mendadak kata tuan" terang pak Jarwo. Bahu Bee seketika merosot ke kursi.
Ke Bandung? mau ngapain? ketemu siapa? kok ga bilang sama gue? apa dia punya simpanan kali ya di sana? duh..kok hati gue sakit? mau nangis..masa iya gue nangis pagi-pagi begini. Mana udah dandan cakep gini..
Bee meremas kemeja di dada nya. Rasa sakit yang dirasakan nya di bagian dada membuat air mata di pelupuk mata nya mengenang.
***
Langkah Bee begitu tidak bersemangat untuk melangkahkan kaki ke dalam kelas. Pelajaran yang dia ikuti pun tidak nyantol di otak nya. Semua buyar yang sisa hanya pertanyaan-pertanyaan mengenai alasan Bumi ke Bandung.
"Lo sawan ya? tiba-tiba nendang meja. Gue getok pala Lo ya" umpat Kiki yang hampir terjungkal ke dekan karena tubuhnya direbahkan di atas meja.
Bu Susi guru bahasa Inggris yang sedang membaca sebuah dialog dari buku paket, ikut kaget. Wanita itu membenarkan letak kaca matanya, memastikan apa yang terjadi di belakang.
"Ada apa itu? siapa yang membuat keributan itu?"
"Bellaetrix Bu.." serempak semua teman nya mengumandangkan nama nya.
Hasilnya, Bee di suruh berdiri di lapangan, hormat bendera hingga jam pelajaran bahasa Inggris selesai.
Hampir satu jam Bee di jemur kayak kain di terik mata hari. Tak henti dirinya mengutuk Bu Susi yang tega menghukum nya begini. Panas, haus dan lapar. Selera makan nya hilang semenjak mendengar Bintang ke Bandung.
Pegal di tangan nya mulai terasa. Ingin menurunkan tangan, takut ketahuan, bisa-bisa hukuman di tambah lagi. Pelu mengalir di pelipis dan turun hingga rahang nya.
Bertahan Bee..sebentar lagi kelar..
"Di hukum lagi?" suara bariton dari belakang nya mengejutkan Bee. Ingin menoleh tapi tak bisa. Tak lama pria itu berjalan ke hadapannya hingga bisa melihat jelas siapa pria itu.
"Oh, bapak. Iya pak.." ucap nya malu pada pak Alex, guru penjaskes di sekolahnya.
Pria itu hanya menatap Bee dengan gelengan dan senyum geli. Umur pak Alex yang mungkin hanya berpaut enam tahun dengan para siswa kelas tiga, membuat banyak siswi-siswi menggilai pria itu. Wajah tampan bersih dan tubuh atletis nya membuat para gadis-gadis ABG itu histeris setiap berpapasan dengan guru baru itu.
Teeeeeeett...akhirnya suara bel berbunyi. Dengan perasaan lega, Bee menurunkan tangannya tepat saat pak Al- sapaan akrab para murid memberinya minuman botol dingin.
"Makasih pak. Ucapnya duduk di pembatas tiang bendera. Lagi-lagi pak Al hanya tersenyum manis pada Bee.
Sedikit risih dengan tatapan sang guru, tapi Bee tidak ingin bersikap kurang ajar membalas dengan wajah jutek kan.
"Maaf pak, saya masuk dulu. Terimakasih untuk air mineralnya" ucap Bee memberi hormat dengan mengangguk kepala sebelum berlalu. Bee memang bukan tipe gadis yang gampang jatuh cinta pada lelaki. Motto nya kalau sudah satu yang dia suka, maka itu untuk seterusnya. Malas untuk melirik atau terpikat pada yang lain.
Itu lah sebab nya bagaimanapun kelakuan Elang, Bee tetap bertahan pada hati nya.
"Gimana rasanya di jemur? nikmat kan?" goda Kiki saat melihat wajah memelas dan kelelahan Bee.
"Sue Lo. Senang bet teman menderita ya" Bee menghempaskan bokong nya di kursi. Mengambil buku tulis dan menjadikannya kipas untuk mengurangi panas tubuhnya.
"Habis, belakang ini gue ga kenal sama Lo. Suka gila sendiri. Seram gue!"
Anak-anak udah pada keluar berhamburan menuju kantin sejak bel tadi berakhir. Kini hanya tinggal mereka berdua di dalam kelas. Walau sangat lapar, Bee benar-benar malas pergi ke kantin, tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.
Braaaak...
Kedua nya terkejut saat salah satu dari tiga orang gadis menggebrak pintu kelas mereka. "Dasar *****, baru juga Lo habis di skors, ini udah kena hukum lagi. Dasar bebal Lo ya..kasihan banget nyokap Lo lihat anak nya kayak gini. Ops, nyokap Lo udah the end ya.." ucap Jesi mencibir.
"Hahahahaha...hahahaha..." gelak tawa ketiga nya menggema di ruangan yang semaki. membuat wajah Bee memerah penuh emosi.