Sold

Sold
Mengelabui



Pagi-pagi sekali, saat penghuni rumah saja belum turun dari tempat tidur, sang tetangga sebelah justru sudah duduk dengan pakaian rapinya, menunggu dengan sabar.


Pukul enam pagi, Bintang yang memang hanya terpejam lima jam saja tadi malam, kini sudah datang bertamu. Bi Jum yang sedang repot di dapur menyiapkan sarapan pagi, sedikit kesal karena harus ditambah membuka pintu untuk tamu ga tahu aturan itu.


"Pagi bi Jum, Bee sudah bangun?" ucapnya seraya menerobos masuk, tanpa menunggu jawaban dari bi Jum atau pun menunggu di persilahkan masuk, yang semakin membuat bi Jum mendengus kesal.


"Maaf tuan, non Bella belum bangun, begitu pun nyonya Diana dan tuan Hutomo. Semua nya masih di kamar, bergelut dengan selimut hangat, anda saja yang bertamu kepagian" ucap nya cuek.


Bi Jum tak perduli jika sang tamu akan melaporkan dirinya pada tuan Hutomo. Semenjak bi Jum tahu bahwa gadis kecil yang sudah dia rawat semenjak lahir itu sudah di jual


pada pria itu, bi Jum juga jadi ikut ga suka sama Bintang.


Dan cara jawab nya yang tak beretika bentuk demo nya pada tuan kaya raya itu.


Berbeda dengan Bintang, dia mendengar apa yang dikatakan bi Jum, dia pun merasa sifat cuek dan tak hormat bi Jum padanya, tapi Bintang sama sekali tidak marah.


Hati nya saat ini sedang berbunga-bunga. Karena mulai hari ini, dia akan bersama dengan Bee, melakukan apa yang mereka suka bersama. Bintang percaya, semakin banyak waktu berdua yang mereka habiskan, akan memudahkan gadis itu jatuh cinta padanya.


Tapi ya, nama nya menunggu, walau pun sedang jatuh cinta, ya bosan juga. Dua jam sudah Bintang menunggu, tapi tak ada yang turun.


"Bi Jum..." ucap nya memanggil asisten rumah tangga itu, tapi tak ada sahutan.


"Bi Jum.." ulang nya masih sabar. Bukan tak mendengar, bi Jum dengar kok, tapi pura-pura budek. Dia merasa tak punya tanggung jawab untuk menjawab tetangga menyebalkan itu.


Emang nya dia siapa?bukan majikan saya ini..


Kesabaran yang sudah punah, Bintang mencari keberadaan bi Jum ke dapur, dan menemukan wanita paruh baya itu tengah menggoreng telur mata sapi.


"Bi Jum, dari tadi saya panggil, kenapa ga nyahut?" ucap nya dingin.


Ini majikan sama pelayan kok sama-sama buat gue darah tinggi ya? kompak amat nyebelin nya..


"Maaf tuan, saya tidak dengar, fokus goreng telur" ucap nya masih cuek, tanpa menoleh sedikitpun pada Bintang.


"Tolong bangunin Bee, bilang saya ada di sini"


"Maaf tuan, saya lagi masak, nanti gosong. Tuan pulang saja dulu, nanti datang lagi, kalau udah pas waktunya buat bertamu" ucap bi Jum ketus, tanpa gentar.


"Bi Jum, ada masalah apa sih sama saya?kok sentimen amat?" susul Bintang. Ini perlu di luruskan. Dia seolah orang paling bejat sedunia, yang pantas untuk dikucilkan.


Biarin aja, sekalian aku muasin rasa kesal ku, kalau habis ini aku di pecat, tinggal balik kampung wae..


Seperti mati kamus, Bintang hanya terdiam. Mau marah, ga lucu marah sama pelayan, yang bukan dia yang gaji. Bintang akhirnya mengambil nilai positif nya saja. Itu adalah bentuk kesetiaan bi Jum pada Bee, dan cinta kasih nya pada gadis yang sedari kecil dia asuh.


"Sudah lah..tolong panggil kan Bee untuk ku, sekarang.." ucap nya dingin. Manarik nafas, agar amarah nya reda.


Masih belum beranjak, Bintang yang sudah benar-benar kesal mengancam akan naik sendiri ke dalam kamar Bee.


"Baik tuan, akan saya panggil kan" ucapnya meletakkan spatula nya dengan kesal, lalu berlalu menuju kamar Bee.


Di anak tangga terakhir, bi jum bertemu dengan tante Di, yang tampak segar dan wangi shampo yang berasal dari rambutnya.


"Pagi bi Jum.." sapa tante Di tersenyum.


"Pagi Nya, saya di minta orang asing itu untuk membangun kan non Bee" ucapnya menunjukan reaksi kesal dan tidak suka nya.


"Udah bi, ga usah di bangunkan dulu, kasihan Bee, dia lagi sakit, demam dari semalam" ucap tante Di.


"Terus itu si pria mesum gimana Nya?" ucap bi Jum merasa puas sekaligus sedih. Puas karena tak harus melakukan perintah Bintang, sekaligus senang pria itu tidak bisa mengganggu nona muda nya hari ini. Tapi sekaligus sedih, karena gadis kecil nya itu sakit, dan itu karena ulah si pria tempoyak itu yang mengajak Bee pergi hingga harus kena hujan.


"Biar saya yang kasih tahu Bintang" ucap tante Di melangkah meninggalkan bi Jum untuk menyambut tamu mereka yang sudah mengganggu ini.


"Pagi Bintang..sudah lama menunggu?" tanya Tante Diana dengan tulus, bukan menyindir. Hanya tante Diana yang bersikap netral. Walau tidak terima dengan jalan hidup Bee, yang bisa dia lakukan hanya berdoa untuk kebahagiaan keponakannya. Dan semoga kebahagiaan itu berasal dari Bintang.


"Pagi tante, aku ingin bertemu dengan Bee" ucap Bintang serius. Berbicara dengan tante Di yang begitu lembut membuat mood Bintang kembali membaik.


"Maaf Bintang, Bee sedang sakit. Sejak tadi malam dia demam, jadi kalian tidak bisa bertemu. Ada pesan? nanti tante sampaikan" ucap tante Di jujur, yang tidak jujur adalah Bee, yang saat ini sedang mendengarkan musik melalui YouTube di ponselnya, bersiul dan menggerakkan kaki nya di atas tumpukan selimut di atas tempat tidur.


Volume full, berusaha tak perduli dengan sekitar. Menikmati keselamatannya hari ini, dengan berhasil lolos atas kewajibannya menemani Bintang.


Tinggal enam hari lagi, gue tinggal cari akal buat ngasih alasan biar bisa jaga jarak sama dia..hehehehehe ..


Tawa nya menggema, merasa bangga bisa secerdas itu mengelabui Bintang. Semenjak ciuman itu, Bee merasa takut berdekatan dengan Bintang. Aneh, seolah dirinya jadi ketagihan untuk..di cium.


Mengingat ciuman mereka kemarin saja sudah membuat jantung nya tak karuan. Ada perasaan mendamba, dan saat mereka berciuman terasa begitu hangat dan menggairahkan kan seperti ada kumpulan kupu-kupu yang ikut berpesta di dalam perutnya.