Sold

Sold
Gadis blasteran



"Hei, siapa gadis cantik ini?" tanya Bintang mendekatkan wajahnya ke telinga Saga.


"Ini Geona, pa. Teman aga" ucap Saga malu-malu. Bintang semakin geli melihat tingkah anak nya itu. Dia tahu Saga menyukai gadis cilik itu. Tapi ya Tuhan, anak nya itu bahkan masih tiga tahun.


"Hai Geona, om papa nya Saga" sapa Bintang berusaha masuk ke dunia para bocil. Geona mengangkat sedikit bagian gaunnya dan menekuk kakinya memberi hormat ala-ala tuan putri yang membuat Bintang terkesima sekaligus merasa lucu.


"Kamu tinggal di sini juga?"


"Iya om" Sikap sopan santun gadis cilik itu sungguh mempesona Bintang. Dia membayangkan kedua putri kembarnya nanti juga akan bersikap seperti itu nanti. Tapi Bintang akan berbeda dengan orang tua Geona yang membiarkan anak gadis nya bermain dengan pria walau pun itu masih berumur 3 tahun. Bintang tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Siena dan Siera.


"Orang tua kamu mana? kamu ke taman ini sendirian?"


"Aku sama tante ku om, dia adik mami ku. Tuh, ada di sana lagi ngobrol dengan ibu-ibu yang lain" tunjuk Geona ke arah beberapa wanita di depan pohon rindang yang sedang menyuapi anak-anak mereka.


Perbincangan pun terjadi antara kedua bocah itu. Bintang bagaikan penjaga nyamuk diantara keduanya. Pria itu geleng-geleng kepala melihat perkembangan jaman saat ini, terlebih pada sikap anak-anak yang masih kecil saja sudah tidak malu-malu lagi untuk bicara berdua padahal ada dirinya diantar keduanya.


Obrolan asik itu terjeda sesaat karena kehadiran seseorang di sana. Bintang mendongak melihat seorang wanita berpenampilan anggun muncul di depannya.


Merasa tidak mengenal wanita itu, Bintang hanya diam menunggu wanita itu bicara.


"Maaf, apa Geo menyusahkan kalian?" tanya nya lebih pada Bintang.


"Oh..tidak" Bintang menebak kalau wanita itu adalah tante nya si gadis cilik.


"Aku Hana, tante nya Geo. Terimakasih sudah menjaga nya" ucap nya penuh sopan. Dari cara bicara nya dia seperti bukan orang biasa


Kalau Geona lebih seperti anak kecil lainnya di negeri ini, Hana seperti wanita blasteran. Bahkan warna matanya berwarna abu-abu. Dan cara bicaranya juga berbeda aksennya dengan gadis pada umumnya.


"Aku Bintang, papa nya Saga"


Selesai saling memperkenalkan diri, tanpa segan Hana duduk di bangku sebelah Bintang. Senyum gadis itu mampu menghipnotis Bintang untuk terus memandang wajahnya. Aneh, rasanya tidak bosan melihat wajah Hana. Belum lagi tutur katanya yang lembut dan sopan, membuat Bintang begitu terbuai, dan betah untuk mendengar cerita Hana.


Informasi yang di dapat Bintang, Hana adalah blasteran Indonesia dan Inggris. Mama nya Indonesia asli dan ayah nya keturunan bangsawan Inggris bergelar Count dari leluhurnya.


Oleh ayahnya yang memang keturunan bangsawan, Hana dan saudari-saudarinya di ajarkan etika dan sopan santun sebagai lady yang terhormat. Dari ibu nya lah Hana dan kedua saudarinya mendapatkan pengetahuan dan pendidikan seputar Indonesia yang membuat mereka jatuh cinta.


Ibu nya juga mengajarkan bahasa Indonesia dan berbagai budaya di Indonesia. Pantas saja saat berbicara dengan Bintang seputar hal yang terkenal dari sini, Hana bisa mengimbanginya. Wawasan Hana sangat luas di umurnya yang sangat muda.


Perbincangan mereka tidak terasa sudah dua jam. Kedua bocah yang meninggalkan mereka untuk bermain ayunan dan pelosotan tadi pun sudah kembali.


"Udah sore, kami pamit pulang dulu" ucap Hana sembari membungkuk hormat. Bintang hanya mengangguk. Baru kali ini melihat wanita seperti Hana di jaman semaju ini.


Di jalan, tiba-tiba Bintang ingat sesuatu, lalu menghadang langkah Saga. "Ada yang mau papa bilang"


"Mmm?" Saga menautkan kedua alisnya menunggu kalimat papanya.


"Mmm...papa minta jangan cerita sama mama kalau tadi kita ketemu tante Hana ya"


"Kenapa?" sosor Saga. Kadang Bintang ingin sekali menjitak kepala anak nya ini. Di umur nya ini menurut Bintang Saga terlalu pintar, tahu dan mengerti ucapan orang dewasa.


"Mmm..itu..itu karena Papa..Ish, pokok nya ga usah cerita sama mama. Ini rahasia kita berdua. Rahasia sesama pria" ucap nya menarik ujung bibirnya.


"Ok.." ucap Saga melanjutkan langkahnya.


Merasa geli dengan tindakannya yang meminta Saga merahasiakan kejadian di taman itu. Seolah dia sedang bertemu dengan selingkuhannya.


Semua ini dia lakukan karena tidak ingin Bee berpikir macam-macam padanya. Tidak ada yang bisa menggantikan Bee dalam hati dan hidupnya. Hanya saja Bintang mengenal Bee nya. Dia tidak ingin ribut karena salah tanggap.


Bintang bersyukur saat mereka pulang, Bee tidak bertanya apa pun. Dia sibuk dengan Kinan di ruang bayi. Sementara si biang kerok Piter asik mengacak-acak koleksi mini barnya.


"Dari mana?" sapa nya seolah dialah tuan rumah.


"Bukan urusan lo. Jadi lo juga bakal tinggal di sini?"


"Terpaksa bang. Gue juga empet kok lihat wajah lo tiap detik. Minum" ucap nya menyodorkan old fashioned glass. "Biar segar otak lo bang. Gue janji ini paling lama dua hari. Gue bakal bujuk istri gue. Tolong ngertiin gue bang, gue ga mungkin ngerasin dia."


Tidak berniat menjawab, Bintang hanya mengambil gelas itu. Batu es di dalam nya menambah kesegaran minuman beralkohol itu. Biasanya minuman itu akan keluar hanya kalau ada perayaan di rumah nya.


"Lagian lo terganggu apa sih dengan kehadiran kita? toh lo juga masih puasa kan sama Bee? gue rasa sih lo uring-uringan gini karena kelamaan ga cr*t ya?" ucap Piter sembari tertawa menikmati wajah kesal Bintang.


"Dua hari ga lebih!" ujar Bintang dan menghabiskan minumannya, lalu meletakkan gelas itu dengan kasar di atas meja dan segera meninggalkan Piter dengan suara tawanya.


"Dari mana? kok baru pulang?" ucap Bee baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di kepala nya, membungkus rambut basahnya.


Wangi vanila muncul dari tubuh Bee yang mendekat pada Bintang. Pria itu menyesap kesegaran yang menyeruak dari tubuh indah Bee. Mungkin wanita itu sudah melahirkan tiga orang anak, tapi tubuh Bee masih tetap ramping. Saat ini saja dia sudah mulai mengikuti Yoga.


"Dari taman, kamu kok nunggu aku mandi?" ucap nya mengendus wangi di ceruk leher Bee.


"Makanya jangan kelamaan keluyuran. Awas aja ya kecentilan dengan cewek lain" ucap Bee tersenyum, berbalik meninggalkan Bintang yang berdiri kaku. Bee tengah sibuk memilih pakaiannya di lemari, sementara Bintang membatu dengan pikiran yang membuatnya sedikit berkeringat dingin.


Bagaimana mungkin Bee tahu kalau dirinya tadi bersama wanita lain? apa mungkin Saga sudah cerita? tidak mungkin. Kalau sampai Saga buka mulut, percayalah, tidak akan ada ketenangan dari sikap Bee seperti ini yang di tujukan padanya.