Sold

Sold
Si menyebalkan



Sejak pukul delapan pagi, Bee sudah tiba di kampusnya. Hari ini dia akan menemui satu orang dosen untuk revisi skripsinya. Kalau dua dosen lainnya sudah memberikan tanda tangannya dua hari lalu, dosen satu ini tampaknya sangat ingin mempersulit dirinya.


Dua jam sudah dia menunggu pak Yosep di depan Biro rektor. Saat dia ke jurusan nya tadi, kaprodi mengatakan beliau ada urusan di sana. Satu botol air mineral yang tadi dia beli di kantin jurusan sudah habis dia minum. Bosan dan jenuh, tapi dia tetap menunggu demi tanda tangan si dosen killer.


Kalau di pikir-pikir entah apa alasan pak Yosep tidak menyukainya. Sementara dosen lainnya malah berlomba-lomba menarik simpatinya agar mendapatkan sebuah photo bersama nya.


Melihat sosok yang sejak tadi di tunggu nya keluar dari gedung, Bee berdiri menghampiri pria arogan itu. "Maaf pak, saya mau minta tanda tangan bapak" pria sombong itu bahkan tidak mau berhenti, terus melanjutkan langkah nya tanpa menoleh sedikitpun pada Bee.


Bee tahu ini tidak mudah, sudah banyak cerita yang tidak menyenangkan kala berhadapan dengan sang profesor. "Pak, saya sudah merevisi skripsi saya sesuai yang bapak minta, mohon kesediaan bapak untuk memeriksa nya pak" ucap Bee masih penuh sabar.


"Saya sibuk. Saya tidak ada waktu hari ini" ucap si arogan terus berjalan. Bee tidak menyerah, terus mengejar, berjalan beriringan dengan pak Yosep.


"Tapi bapak nyuruh saya datang hari ini" ucap Bee bersikeras. Ingin sekali menjitak kepala dosen menyebalkan ini. Kemarin juga begini, dia di suruh datang ke kampus, empat jam menunggu tapi pak Yosep tidak juga muncul.


"Oh, jadi kamu merasa keberatan? kamu jangan sombong sementang kamu itu artis" umpat nya menghentikan langkahnya tiba-tiba, menatap wajah Bee penuh rasa kesal.


"Bukan begitu pak, tapi saya"


"Cukup! Saya tidak mau berdebat. Kalau kamu mau skripsi itu saya periksa, tunggu kabar dari saya" Bee mengepal tangan, menahan emosi memandang punggung pak Yosep yang menjauh.


"Dasar dosen sialan!"


***


"Gimana yang? kelar semua urusan hari ini?" tanya Bintang mengikuti istrinya yang sudah lebih dulu berbaring di tempat tidur.


Bintang berbaring dan menarik Bee dalam pelukannya. Gadis itu hanya menggeleng atas pertanyaan Bintang. Lebih memilih untuk menciumi dada dan perut pria itu sebelum merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Apa aku perlu turun tangan, sayang?" Bee seketika mengangkat wajah nya, menatap wajah Bintang dengan bola mata membulat.


"Jangan kak..aku bisa selesaikan sendiri" ucap nya cemberut.


"Iya-iya. Sekarang kamu rebahan, tengkurap" pinta Bintang menarik Bee yang tadi sempat terduduk.


"Buat apa?"


"Nurut aja"


Selama menikah dengan Bintang, baru kali ini lah Bee tahu kalau suaminya itu ternyata punya keahlian memijat. Bee sampai memejamkan mata, menikmati sensasi tangan Bintang pada tubuhnya. Syaraf nya yang terasa tegang kini bisa rileks lagi. Setengah jam di manjakan tangan Bintang, Bee sudah tertidur. Bahkan dengkuran halus mulai terdengar dari bibir mungilnya. Bintang menyelimuti tubuh istrinya yang sudah beberapa hari ini tidak tidur dengan cukup. Dikecupnya puncak kepalanya penuh sayang, lalu perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan ke nakas mengambil ponsel Bee yang sedang mengisi baterai.


Bintang membuka semua pesan masuk dan juga pesan keluar Bee pada dosen yang di beri nama kontak, Si menyebalkan Yosep.


Jadi kali ini Bintang menghubungi nya, Riko tebak ingin kembali mengajaknya keluar, menjadi tempat curhat dadakan, tapi justru makian yang dia dapat.


"Diam lo. Sekali lagi lo ngeledek, gue mutasi lo ke Kalimatan!"


"Ampun bos. Saya salah"


"Gue kirim nomor orang. Lo cari data tentang dia, dimana alamatnya. Lo bisa lacak kan dari nomor dia!"


"Siap bos"


***


Bee membuka mata, sinar mentari pagi sudah menerobos paksa masuk ke dalam kamarnya. Di tariknya nafas dua kali, lalu setelah ingatannya kembali, dia melempar pandangan ke sekeliling. Suaminya sudah tidak ada di samping. "Aduh, aku ke siangan. Emang udah jam berapa sih ini? kak Bintang udah pergi kerja, aku malah belum buat sarapannya" ucap nya ber monolog.


Segera di singkap nya selimut yang masih menempel di kaki nya.Tidur nya begitu nyenyak hingga ogah untuk bangun. Tubuhnya pun kini terasa ringan dan sangat bersemangat. Baru akan menurunkan kakinya menapaki lantai kamar, pandangannya tertarik ke nampan di atas nakas.


Ada nasi goreng yang masih terlihat asapnya yang mengepul dan juga segelas air putih dan susu. Bee mendekat, diambilnya satu card yang ikut berada di nampan itu.


Selamat pagi permaisuri ku, dihabiskan sarapannya ya. Maaf aku tidak membangunkan mu. Tapi aku sudah mencuri cium kening dan bibirmu. Love


Senyum Bee mengembang. Didekapnya kartu itu ke dada, tak lupa mencium nya juga. Lima menit kemudian, Bee sudah menikmati sarapannya. Dia mengenal rasa ini, nasi goreng ini buatan suaminya. Hati nya menghangat di cintai sebegitu besar oleh Bintang.


Satu hal yang kini dia sadari, dia tidak menyesal pernah menjual dirinya pada Bintang, karena nyatanya hanya pria itu yang bisa membahagiakan dirinya.


Satu suapan terakhir menuntaskan sarapan pagi yang sudah terlambat itu, bersamaan dengan getar ponselnya. Bergegas dia raihnya, menebak pesan itu dari Bintang, yang menanyakan apakah dia menyukai sarapannya. Tapi nama yang muncul di layar sebagai pengirim pesan membuatnya menautkan alisnya.


Temui saya di jalan mawar no. 11 blok c 5 perumahan Grand Royal residen. Saya tunggu sampai pukul 11.


Bee masih menatap pesan itu. Diliriknya jam di dinding kamar, masih pukul delapan. Dia masih punya banyak waktu mencari alamat itu. Lalu Bee bergegas untuk mandi. Kali ini dia berharap untuk bisa menyelesaikan urusannya dengan pria paling menyebalkan dalam hidupnya.


Sebelum Bee pergi, dia mengurus Saga dulu. Baru akan berangkat, ponselnya berdering.


"Ya Bu? di rumah, tapi sebentar lagi mau menemui dosen Bu. Oke kalau gitu sekarang aku ke rumah ibu"


Bee menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ibu mertuanya meminta nya untuk mengantar Saga. Dia sudah sangat rindu pada cucu kesayangannya itu. Berkat terapi, Saga kini sudah tidak takut lagi berhubungan dengan orang lain. Bahkan anak itu sudah mau di gendong Bintang.


"Mir, siap-siap kita ke rumah ibu. Ibu mau main dengan Saga. Kamu di sana sama Saga ya, aku ke rumah dosen sebentar" ucap nya membersihkan wajah Saga yang belepotan menghabiskan buah naga nya.