Sold

Sold
Menuntut hak



Pikiran Piter kacau prahara daster yang tersingkap. Di persidangan pun dia lebih banyak bengong, untung Aspri nya sigap mengingatkan dia hingga tidak menjadi bahan ejekan di sana.


Satu hal yang pasti, tubuhnya membutuhkan Kinan. Tapi bagaimana dia akan mengatakannya? bisa-bisa dia akan di damprat oleh gadis itu.


Kenapa harus takut di tolak? bukan nya itu hak gue? dan melayani gue itu kewajiban nya?


Dengan pemikiran itu, Piter memutuskan untuk pulang. Membulatkan tekad nya untuk meminta hak pada Kinan.


"Udah pulang?" sapa Kinan menoleh sesaat ke arah Piter lalu kembali sibuk memasukkan puding agar-agar ke dalam cetakan dan memasukkan ke dalam kulkas


Piter masih berdiri di ambang pintu, mengamati Kinan yang cekatan. Kenapa dia jadi sangat tertarik mengamati Kinan? gadis itu tampak sempurna dengan celemek di tubuhnya.


"Lapar? mau makan sekarang?" tanya Kinan yang menduga diam nya Piter di sana karena perutnya ingin di isi.


"Aku lapar. Tapi bukan perutku"


"Lalu?" kening Kinan berkerut. Dia masih bisa mencerna kalimat yang baik. Setahu dia hanya perut yang lapar yang bisa kenyang jika di isi makanan.


"Di bawah perutku. Dia kelaparan. Bahkan sangat lapar" ucap nya mendekat. Kinan masih terus fokus menatap mata setajam elang itu yang terus mendekat ke arahnya.


"Dua bulan aku tidak menuntut hak ku. Maka sekarang aku ingin mengambil yang jadi hak ku" ucap Piter mendesak tubuh Kinan hingga mentok ke wastafel.


"Ter..kau mau apa?" Pertanyaan itu hanya melayang di udara tanpa mendapatkan jawaban. Pria itu sedang sibuk mengendus menciumi ceruk leher Kinan yang begitu wangi. Hasrat nya semakin besar, dia sudah tidak sanggup lagi, secepat kilat tanpa di prediksi Kinan, Piter sudah ******* bibir mungil Kinan. Menj*lati bahkan menggoda dengan menggigit.


******* nafas Kinan kian memburu menjadi irama yang indah mengiringi sentuhan Piter. Lidah Piter terus memaksa masuk, hingga pertahanan Kinan runtuh. Balasan dari Kinan membakar tubuh Piter seketika. Tanpa sadar erangan tertahan pun keluar dari mulut pria itu.


Piter melepas p*gutan guna membawa Kinan ke tempat tidur. B*rahi sudah menguasai Piter hingga membuka pakaian Kinan kasar. Saat itu lah kesadaran Kinan kembali. Bunyi robekan pada pakaian nya membuat nya tersadar dan cepat mendorong tubuh Piter yang tanpa siaga.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Piter dengan nafas masih memburu. Hasrat nya sudah sampai di ubun. Dia menginginkan nya sekarang juga. Bahkan bila perlu dia sanggup membunuh.


"Aku yang harus nya bertanya. Apa yang sudah kau lakukan? kenapa kau merobek pakaian ku" perasaan Kinan begitu sakit di perlakukan Piter seperti itu. Dia seolah perempuan j*lang tempat pelampiasan n*fsu Piter saja.


"Ayo lah. Tidak perlu drama seperti itu. Aku menginginkan mu Kinan. Aku ingin sekarang juga. Lakukan kewajiban mu" bentak Piter. Nalarnya sudah tumpul terbawa arus nafs* nya.


"Dasar br*ngsek. Kau tidak akan mendapatkan apa pun!" geram Kinan. Tangannya menggenggam pakaian yang sudah sobek di beberapa tempat.


"Kau tidak bisa menolak ku. Kau sudah janji, jika kau tidak ingin aku bersama kekasih ku, kau yang akan melayaniku!"


"Pergi saja ke neraka! Dasar terkutuk!"


"Pergi lah ke neraka! Membusuk di sana!" ucap Kinan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Mengunci pintu dan tidak menghiraukan ketukan keras dari luar. Lima belas menit pintu di gedor di sertai makian dan juga umpatan yang di tujukan pada nya bentuk kekesalan Piter.


Melihat tidak ada tanda pintu akan di buka, pria itu berhenti. "Ok, kalau kau menolak. Tidak apa-apa. Maka aku akan meniduri pacarku lagi. Kau tahu, banyak wanita yang menginginkan ku, dasar br*ngsek!"


Sunyi senyap. Kinan menajamkan pendengarannya, tapi tidak mendapatkan suara apa pun yang meyakini nya pria itu sudah pergi. Melaksanakan apa yang dia katakan tadi, menunaikan ancaman nya pada Kinan.


Dengan berurai air mata, tubuh Kinan merosot jatuh terduduk di lantai. Bersandar pada dinding kamar mandi yang dingin, yang berguna mengurangi rasa panas tubuhnya.


Apa yang dia tangisi? perbuatan kasar Piter atau pergi nya Piter ke pelukan kekasihnya? Atau ketidak siapan dirinya untuk melayani suaminya?


Entah lah. Kinan tidak ingin memikirkan nya sekarang. Yang dia butuhkan hanya menangis agar sesak di dadanya berkurang.


Dia mengutuk kejadian itu. Harusnya malam ini jadwalnya periksa ke dokter kandungan, dan Kinan berniat untuk mengajak Piter menemaninya.


Hingga pukul sepuluh, Piter tidak kunjung pulang. Kinan lelah dan memilih untuk berbaring di tempat tidur. Lelah menangis membuatnya tidur begitu nyenyak. Namun dorongan ingin buang air kecil membuatnya dengan malas membuka mata. Dilirik nya jam dinding, pukul lima pagi.


Seketika dia ingat sesuatu dan buru-buru melirik ke sisi tempat tidur nya. Piter tidur dengan membelakangi tubuh nya. Entah jam berapa pria itu sampai di rumah.


Perlahan Kinan berjalan ke kamar mandi, lalu setelah selesai berbalik ke arah dapur. Makan malam yang tadi sudah dia siap kan tak sedikitpun di sentuh oleh Piter. Hatinya sesak.


Kembali di memasuki kamar, melihat gurat wajah Piter yang terlelap. Dari nafasnya yang teratur, Kinan pastikan pria itu tertidur dengan nyenyak. Mungkin dia sudah menunaikan pelepasannya hingga bisa tidur pulas.


Ah..rasanya sakit sekali. Bagaimana bisa dia memulai rumah tangga, jika hatinya sudah hancur kembali. Kenapa Piter harus kembali pada pelukan wanita itu saat dirinya belum siap?


Kinan tidak bilang dia tidak mau melakukan kewajibannya, hanya saja dia belum siap. Dan harusnya sebagai suami yang baik Piter bisa mengerti, sayang nya Piter bukan pria yang baik!


Hingga pagi, Kinan memilih untuk meringkuk di sofa, mendengarkan lagu dari YouTube lewat ponselnya. Suara yang berdegung dari earphone nya justru membuat nya kembali menangis. Lagu itu seperti ungkapan hatinya saat ini.


Kepala Piter rasanya mau pecah. Sekejap dia kembali menutup mata guna mengumpulkan nyawa nya sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur.


Semua rentetan kejadian tadi malam kembali melintas dalam ingatannya. Dia menoleh ke samping, bagian itu sudah kosong, sekejap di rabanya, terasa dingin yang artinya si pemilik sudah lama meninggalkan tempat itu.


Dengan kesal di Sibak nya selimut yang menutupi tubuhnya. Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Matanya sempat menangkap pakaian yang sudah di siapkan di atas meja, dan di dekat kaki meja juga sudah ada sepatu dan kaos kaki.


Hati nya kembali mencelos. Bagaimana bisa dia membenci wanita itu, kalau perhatiannya sudah membuat Piter ketergantungan.