
Kelelahan menangis, Sky tertidur dengan sisa air mata yang menjadi lengket di wajahnya. Bangun-bangun, mata nya udah merah. Entah apa yang dia tangis kan, hingga pukul tiga pagi. Bukan kah kepergian Bintang memang yang dia ingin kan?
Dengan malas, Bee menyeret kaki nya turun ke meja makan. Ini sudah kali kedua bi Jum memanggilnya untuk turun atas suruhan tante Di.
"Kenapa lagi wajah kamu? jangan bilang sangkin kesenangannya karena udah batal nikah sama Bintang, kamu nangis bahagia semalaman!" ucap tante Di datar.
Dengan sedikit malas Bee menatap tante Di. Semenjak Bintang memutuskan hubungan mereka, tante Di seolah kesal padanya. Gada ramah-ramah nya sedikit pun. Asal bicara pasti nyelekit.
Dalam diam Bee menyuap makanan ke mulutnya. Suasana menyenangkan, nyaman yang selalu dia rasakan bersama tante Di seolah hilang. Dia bak anak durhaka yang sudah merebut kebahagiaan dan harapan orang tua nya
Hallow...bukan nya dulu semua nya setuju atas perjodohan ini karena terpaksa dan hutang Budi? Bee masih ingat, gimana tante Di menangis se sunggukkan menenangkan dirinya, agar tetap tabah menerima takdirnya, di jodohkan dengan orang yang tidak dia kenal. Tante Di juga bilang, seandainya dia punya kuasa untuk membatalkan perjodohan itu.
Tapi sekarang? saat tuan kaya raya itu yang membatalkan, kenapa semua seolah seperti salahnya?seolah tante Di kesal padanya?
Kesunyian bak di kuburan itu, terpecahkan saat bel berbunyi. Bi Jum yang membuka pintu, kembali masuk untuk memberitahukan bahwa Elang ada si ruang tamu.
Dengan suka cita, Bee berdiri, ingin menyambut kekasih hatinya, namun dehem-an tante Di membuat nya termangu memandang wanita itu.
"Habis kan dulu makan mu" dingin dan tak bersahabat.
Dengan enggan Bee kembali duduk. Menghabiskan makanan nya secepat yang dia bisa. Tante Di yang menatapnya dengan tajam, tak diperdulikannya.
Elang menyambut kedatangannya dengan tersenyum. "Bagaimana kabar tuan putri kita hari ini?"
Mendengar pujian Elang, membuat pipinya merona merah. Ditambah saat Elang mengeluarkan setangkai bunga mawar merah.
"Makasih" ucap nya menatap Elang penuh bahagian.
"Aku kemari mau bawa kamu jalan-jalan. Pasti kamu bosan kan di rumah?" ucap Elang mengelus pipi Bee yang selembut kulit bayi.
"Iya mau" ucapnya sambil menganggukkan kepala bersemangat.
Saat Bee di kamar bersiap-siap, tante Di menemui Elang yang tengah menunggu dengan bermain ponselnya.
"Mau kemana?" tante Di sudah duduk di hadapan Elang. Menatap tajam pria itu. Sedari awal pertemuan mereka, tante Di memang kurang menyukai Elang. Entah lah, insting nya bilang, pria itu bukan pilihan yang tepat untuk Bee.
"Mau ngajak Bee jalan-jalan tante" sahut Elang kikuk. Siapa pun tahu, cara memandang tante Di yang tidak suka padanya.
"Bee ga boleh kelelahan. Ingat, dia baru pulih dari kondisi terburuknya kemarin" jelas, tegas dan tak bersahabat.
"Bai.."
"Pulang jangan kelamaan!" potong tante Diana sebelum Elang menyelesaikan kalimatnya.
Senyum tak pernah lekang dari wajah gadis itu. Kini dia sudah turun dengan penampilan nya yang selalu membuat dirinya tampak menarik.
Elang hanya mengangguk. Tak berani lagi bersuara di depan tante Di.
"Ingat Bee, kamu jangan sampai kecapean, jaga makanan mu, vitamin nya jangan lupa di minum, dan jangan pulang malam. Jam tujuh udah harus di rumah!" perintah tante Diana.
Bee bahkan sempat melongo mendengar intonasi dan semua ucapan tante Di. Dulu saat Bintang mengajak nya untuk pergi, bahkan tante Di tak mengingatkan bahwa itu sudah malam, dan sebagainya. Seolah sangat percaya dan senang jika Bintang mengajaknya. Begitu pun saat Bee pergi dengan Kia.
Mereka pergi tanpa tante Di Sudi mengantar sampai ke teras seperti waktu Bintang mengajaknya. Setelah memberikan perintah bak komandan batalyon, tante Di masuk ke rumah dengan menghempaskan pintu.
Kok gue merasa jadi anak durhaka banget ya.. tante Di yang selalu sayang sama gue kok jadi gini?
Hari itu, Bee habis kan bersama Elang. Mulai menemani Elang latihan, bahkan nongkrong bersama teman-temannya. Elang begitu bangga memperkenalkan Bee sebagai pacarnya yang seorang model.
Tak terasa waktu sudah hampir jam setengah delapan, dan dari tadi Bee juga sudah mengingatkan untuk pulang. "Ga enak nanti sama tante Di, Lang. Pulang yuk"
"Bentar lagi lah Bee. Aku masih kangen sama kamu. Bentar lagi ya. Lagian kamu ngapain sih takut sama tante Di?dia itu kan bukan mama kamu. Cuekin aja"
"Ya ga bisa gitu dong Lang. Dia kan tante aku, udah aku anggap kayak orang tua aku sendiri. Dia juga udah ngerawat dan jaga aku kan" Bee mengecek kembali ponselnya yang belum juga mendapat balasan dari tante Di.
Jam tujuh kurang sepuluh, tante Di sudah bolak balik menghubungi nya, tapi Elang melarang nya untuk menjawabnya. Lebih dari enam kali tante Di menghubungi nya.
Untuk menenangkan tante Di, Bee berinisiatif mengirim pesan, agar tante Di ga perlu khawatir. Dia akan pulang sebentar lagi.
Tapi hingga setengah jam berlalu, Bee masih di sini, menunggu sang kekasih yang asik ngobrol dengan temannya.
"Kamu dengar Bee? ada produser rekaman yang mau ngelihat kita perform. Sebentar lagi, aku bakal jadi Bintang..." ucap Elang jumawa.
Mendengar kata Bintang, membawa lamunan Bee pada sosok yang selalu membuat nya kesal tapi begitu hangat di hatinya.
Terselip rindu yang tetap di pungkiri gadis itu. Tanpa sadar Bee menyentuh bibirnya. Mengingat rasa pria itu, mengingat bagaimana dia mengajari Bee untuk membalas ciuman nya. Mengingat wangi tubuh pria itu, saat mendekapnya. Dan Bee mengingat rekaman itu..
"Lang, cewek kamu kenapa?" tanya Miko, drummer di band Elang.
"Kamu kenapa sayang?kenapa menangis?" tanya Elang panik. Kamu merasa sakit Bee? ya udah yok kita pulang"
Dengan merasa tidak enak, Elang pamit pulang pada temannya. Dan berjanji akan datang lagi nanti.
"Kamu kenapa Bee? kok nangis? aku jadi ga enak sama teman-teman ku. Kamu dengar sendiri kan kami lagi ngebahas masalah rekaman?" cerocos Elang sambil melakukan motornya.
Bayangan tentang menjadi superstar, sudah membutakan mata hatinya. Ambisi nya begitu besar, tak perduli jika benar Bee sedang merasakan sakit.
Bee tak menjawab. Hanya diam. Terus meneteskan air mata, tak memperdulikan celoteh Elang yang memarahinya. Pikirannya sudah jauh melayang pada sosok yang mungkin tidak akan pernah dia jumpai lagi.
Berkali-kali dia menyakini bahwa dirinya tidak tertarik pada pria itu, dia sedih hanya karena dimarahi Elang. Atau dia sedih karena tante Di bersikap dingin padanya, bukan karena merindukan pria itu!