
"Bee..aku senang kamu pulang. Aku rindu banget sama kamu" Elang mulai bicara, mencoba mencairkan suasana.
"Kenapa kamu ga ngubungi aku selama hampir tiga Minggu ini? kamu kemana Lang?" tuntut Bee.
Bangku taman yang dingin itu, tak mampu mendinginkan hati nya yang panas mengingat kedekatan Elang dan Desi.
"Maaf Bee, aku sibuk. Ada orang yang mau membantu kami masuk dapur rekaman, tapi kami harus sediakan uang lima ratus juta untuk semua biaya nya" sahut Elang menatap manik mata Bee.
"Lima ratus juta?bukan nya pihak produser yang menyiapkan semua itu? setahu ku grup band hanya menyiapkan diri mereka sendiri" Bee merasa Elang dan teman-temannya sudah di permainkan.
"Iya, normalnya begitu, tapi zaman sekarang susah Bee untuk menembus pasaran kalau ga ada modal, terlebih kami hanya grup band lokal yang masih baru, belum banyak pengalaman manggung"
Kedua nya diam sesaat. Bee ingin pria itu bisa meraih impiannya, tapi dia juga kesal akan keputusan Elang yang dia dengar dari Caca tadi, bahwa pria itu bahkan sudah berhenti kuliah.
Mama Elang marah, dan memutus semua bulanan yang biasa dia dapat. Bahkan motor gede nya, satu-satunya harta Elang juga sudah di tarik.
Elang marah dan pergi dari rumah dengan segala harga dirinya yang tinggi. Menumpang hidup pada temannya.
"Terus, rencana kamu sekarang apa?" ucap Bee memecah keheningan.
"Bee, aku mohon, bantu aku. Pinjami aku uang lima ratus juta.."
"Kamu gila Lang?aku ada uang dari mana sebanyak itu?" bola mata Bee membulat. Apa yang tengah di pikirkan pacar nya itu hingga mengira dia memiliki uang sebanyak itu.
Bahkan honor dia saat menandatangani kontrak dengan pihak Sky, belum semua nya di transfer, karena masih banyak sesi pemotretan yang harus dia selesaikan. Pun jika sudah dibayar semua, honor nya tidak sampai lima ratus juga. Ini gila!
"Kamu kan model terkenal Bee. Baru-baru ini juga kamu di kontrak sama perusahaan besar kan?" desak Elang menarik tangan Bee untuk dia genggam. Hanya Bee harapannya.
Saat melihat Bee tanpa sengaja bersama teman-temannya di cafe tadi, sahabat nya Eki memberikan saran untuk meminta bantuan Bee, dengan pertimbangan gadis itu sangat mencintai Elang, dan dia akan mau melakukan apa pun untuk Elang.
"Iya, tapi aku ga punya uang sebanyak itu Lang! aku cuma model baru, honor aku juga ga setinggi model senior. Maaf, tapi aku ga punya uang sebanyak itu" ucap Bee membelai wajah Elang yang tampak kusut dan tidak terawat.
Bagaimana bisa Elang jadi seperti ini?
"Jadi kamu punya berapa Bee? aku janji sayang, nanti aku kembalikan, segera setelah kamu di orbit kan" seru Elang antusias, dengan wajah memohon yang sangat tersiksa.
"Kalau pun aku kuras semua tabungan aku, paling juga aku punya uang tiga lima atau empat puluh, sisa nya kan tante Di yang pegang"
"Empat puluh?Aaaaahhh..."Elang menatap Bee sesaat, tak menyangka hanya sedikit itu tabungan Bee, lalu menjambak rambut belakangnya yang mulai panjang, bentuk frustasinya.
Kembali diam. Bee benar-benar ga paham harus bagaimana lagi membantu Elang. Dia tulus mau membantu. Melihat pria yang di sayangi nya seperti itu, membuat Bee sedih.
Seandainya ada yang bisa dia lakukan, dia akan perbuat, apa pun itu, asal bisa membantu meringankan beban Elang.
"Perhiasan..jual perhiasan kamu Bee, pasti banyak kan?"
"Kamu gila Lang. Mana mungkin aku jual, itu semua milik mama ku, kenangan dari mama ku Lang. Dan itu pun ga akan sampai seratus juga!"
"Jadi aku harus gimana Bee? ini impian ku, harapanku. Aku lebih baik, jadi perampok, dari pada impian ku kali ini kandas di tengah jalan. Bee, kalau kamu sayang pada ku, please sayang, bantu aku.."
***
Hingga malam, Bee tak bisa tidur. Semua omongan Elang masih terus menggema di telinganya.
Papa nya masih punya surat tanah, apa dia pinjam saja, angunkan ke bank, agar bisa membantu Elang.
Dia bisa merengek meminjam pada papa nya, tapi..tanah mereka tinggal satu, surat tanah yang lain bahkan sudah berpindah tangan pada..Bintang..
Bintang? untuk sesaat Bee tertegun. Seolah nama itu bermakna untuk masalah Elang. Tapi bagaimana mungkin dia bisa meminta bantuan pria itu. Walau pertemuan terakhir mereka berakhir dengan manis, tapi jelas-jelas batal nya perjodohan mereka karena Bee memilih Elang, mengancam memilih mati dari pada tidak bersama Elang.Ironis sekali takdir ini.
Ga, mana mungkin gue minta bantuan sama dia? bisa diludahi wajah gue!
Bee melirik, jarum jam, pukul sepuluh malam. Bosan berdiam diri di kamar, memilih untuk turun. Ayunan di belakang rumah menggoda nya untuk mampir.
Dalam cahaya remang, Bee duduk memutar lagu dari ponselnya, dan mulai memejamkan mata. Awal ingin meminta penjelasan mengenai Desi tak jadi dia tanyakan, karena membahas masalah mencari pinjaman uang.
Ehem..!
Suara dehem an suara seseorang dari seberang sana berhasil membuat matanya terbuka.
"Elu? di sini?" tanya nya terkejut, namun satu garis senyum melengkung di wajah nya secara samar. Ada yang aneh, Bee merasa bahagia melihat pria itu ada dihadapannya saat ini.
"Ga boleh? ini kan rumah aku, ini masih halaman aku kan?" seringai dengan senyum menawan.
"Boleh sih, tapi kalau gini kayak lu nguntit gue tahu ga? baru beberapa hari lalu kita ketemu, gue ke Pekanbaru, lu juga ada disini sekarang. Jangan bilang lu kangen sama gue" ucap Bee sembari tertawa. Dia masih ada di tempatnya, tak berniat mendekat pada Bintang yang berdiri di sudut pembatas pagar halaman belakang rumah nya.
"Kalau iya aku kangen, gimana?"
Deg!
Becandaan Bintang keterlaluan. Kan hati Bee jadi jumping ga karuan.
"Kapan sampai?" akhirnya Bee bisa menguasai diri nya. Masih sama, jantung nya begitu tidak stabil Setipa ada di dekat pria itu, jadi memilih untuk berada sedikit jauh, dia masih ingin tetap hidup kan?!
"Baru aja" ucap nya tetap mengamati gadis itu.
"Mmmm..udah malam, aku masuk dulu. Bye.." ucap nya bangkit dan masuk ke dalam rumah.
Sesaat tingkah nya seperti anak kecil. Menghindari pria itu, dengan sikap cuek nya agar bisa bernafas dengan baik. Seolah jika di dekat Bintang, dia ga kebagian udara.
Di kamar, malah semakin panas. Pendingin udara bahkan sudah sampai enam belas derajat, namun hati nya belum adem. Getaran itu masih ada. Walau tipis, tapi terasa jelas.