
Dua hari setelah kelulusan nya, Bintang membawa Bee dan Saga keluar menikmati udara sore. Cuaca juga sangat bersahabat. Tempat pertama yang mereka tuju adalah toko mainan untuk Saga, setelahnya Bintang meminta pak Komar membawa mereka ke salah satu showroom mobil terbesar di kota ini.
Bee hanya mengikuti langkah Bintang sesampainya di tempat itu. Kadang dia tidak habis pikir, kenapa suaminya harus membeli mobil lagi sementara di garasi rumah mereka banyak berjejer mobil-mobil mewah yang bahkan ada juga yang belum sempat Bintang pakai.
Hadiah yang di janjikan Bintang untuk kelulusan nya adalah satu buah mobil mewah berwarna merah. Dia memilih warna itu karena sesuai dengan warna favorit Bee.
"Gimana yang, bagus ga?" ucap nya menunjuk sedan mewah itu.
"Bagus. Bagus banget malah. Tapi kayaknya kurang cocok deh untuk style seorang Bintang Danendra" sahut Bee mengelus body mobil berwarna merah yang jujur saja sudah menarik perhatiannya.
"Memang ga bakal cocok untuk aku, ini terlalu ringan. Ini buat wanita yang paling ku cintai" bisik Bintang lembut di telinga istrinya.
"Buat..aku?"
Bee terpukau, sama sekali tidak menyangka kalau suaminya akan membelikan sebuah mobil untuk nya.
"Iya dong, kan wanita yang aku cintai cuma kamu" ucap nya menarik Bee dalam pelukannya.
"Malu kak" Bee berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Hadiah kelulusan mu. Harus nya mobil ini datang di hari wisuda mu, tapi karena mobilnya belum sampai Indonesia, terpaksa meleset dua hari"
"Makasih suami ku sayang" cicitnya mencium dada Bintang.
Untuk mencoba mobil barunya, Bintang meminta pak Komar pulang, dan Bee yang menyetir mobil baru nya menuju rumah ibu. Tapi Bee masih ragu, pasalnya terakhir dia nyetir saat sekolah di Pekanbaru, itu pun cuma satu tahun sebelum Hutomo menjual kembali mobilnya.
"Jangan takut. Ada aku di samping mu. Kamu pasti bisa. Pelan-pelan aja dan jangan grogi"
Awal menyalakan mesin mobil saja dia sudah kikuk, apa lagi kalau harus membawa mobil itu di jalan raya. Tapi karena suaminya percaya padanya, Bee jadi bersemangat untuk membawa mobil itu.
Beruntung, pada jam segitu rute dari showroom ke rumah ibu jalanan tidak terlalu ramai, hingga Bee bisa menyetir dengan tenang tanpa grogi dan bisa tiba di rumah ibu dengan selamat.
Ternyata skill menyetir nya masih patut di perhitungkan. Dulu saat di Pekanbaru, Bee bahkan pernah membawa mobil pickup yang biasa di pakai para pekerja untuk mengangkut buah sawit di medan yang lebih terjal dan saat itu dia masih duduk di bangku SMP.
"Wah, mobil baru nih" Piter yang juga baru tiba di rumah ibu memuji mobil Bee yang memang sangat mewah.
"Iya, dari abang mu, hadiah wisuda. Dari kamu mana?" Bee menengadahkan tangan nya di hadapan Piter. Bee sebenarnya hanya bercanda, tapi ternyata Piter meletakkan satu kotak hitam di tangannya.
"Ini buat aku?" ucap nya surprise.
"Iya dong. Buat kakak ipar ku yang tersayang" ucap Piter meletakkan lengannya di bahu Bee, merangkul gadis itu yang masih terpukau dengan hadiah Piter. Satu buah jam mahal yang juga sangat dia sukai.
"Coba tangan lo nemplok lebih lama lagi di situ" hardik Bintang yang mengikuti langkah mereka dengan Saga di gendongannya.
"Suami lo gila ya Bee, sama gue adik kandung nya aja pun bisa cemburu banget. Apa lagi kalau lo kawin lari sama pria lain"
"Makanya, bacot lo jangan asal nyablak!" Bintang sudah menari Bee menjauh dari sisi Piter, merangkul gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah.
***
Walau pun Kinan hadir di hari Bee wisuda, tapi Kinan dan Piter tidak saling bicara. Piter tahu kedatangan Kinan karena persahabatannya dengan Bee. Selepas acara makan siang bersama Kinan pamit.
"Tolong antar Kinan, ya Ter" pinta Bee mendatangi meja Piter yang tengah asik ngobrol dengan Hutomo dan om Edo serta Bintang.
"Dia ga akan mau aku antar Bee. Biarlah dia pulang diantar supir"
Melihat sikap kedua nya, Bed sadar mereka memiliki masalah yang sangat serius. Jadi Bee memutuskan untuk memberikan waktu untuk mereka meredam segala bentuk emosi dan rasa sakit hati, baru mulai membantu mereka untuk bisa kembali bersama.
Siang itu, Piter harus menemui salah satu kliennya di sebuah restoran mewah. Setengah jam membaca berkas duduk perkaranya, Piter bersedia menjadi pengacara pengusaha itu.
Selepas bicara hal formal, mereka menikmati menu yang terhidang karena memang sudah waktu nya makan siang.
Sayup-sayup Piter menangkap suara yang familiar dua meja dari tempat, tepatnya di belakang mejanya. Piter berbalik dan melihat Setiawan yang tengah berbicara dengan seseorang. Wajah Setiawan kusut, dan tampak sangat lelah.
Piter berusaha menajamkan pendengarannya, mengikuti percakapan keduanya. Setiawan menginvestasikan saham nya dan seluruh harta yang dia miliki pada perusahaan yang dia pikir akan mendapatkan benefit besar dengan join bersama mereka. Ternyata perusahaan itu sudah bangkrut, bahkan saat ini terlilit hutang.
Kini keadaannya sangat menyedihkan, untuk membayar gaji karyawan nya saja dia tidak sanggup lagi. Harusnya dia tidak mengucurkan dana cadangannya.
"Aku ingin menjual perusahaan ku" ucap nya pada pria berjas hitam yang tampak seumurannya.
"Tapi perusahaan mu sudah diambang Kematian. Saham mu anjlok, dan sekarang sudah tidak produktif lagi" balas pria itu.
"Tapi hanya kau sahabat ku yang bisa membantuku. Kasihan para karyawan ku kalau perusahaan itu tutup" Setiawan menunduk, Memandangi cangkir kopinya.
Piter terus menguping. Apa pun yang sampaikan klien dan asisten pribadi nya tidak lagi menjadi hal menarik bagi Piter.
"Apakah Kinan tahu masalah yang tengah di hadapi papa nya? apa karena itu alasan wajah murung nya?" batin nya dalam hati, menebak-nebak kenyataan yang ada.
Sepulang dari sana, Piter tidak menuju apartemen nya atau pun bar baru tempat nya menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Piter bergerak menuju rumah Bintang.
Dirinya terlalu awal datang, bahkan Bintang pun belum pulang kerja. "Ada apa sebenarnya? kok wajah kamu serius. Aku tahu ada yang lagi kamu pikirkan" ucap Bee menemani Piter di ruang tamu bermain mobil-mobilan dengan Saga, duduk di karpet dari Persia nya.
"Apa Kinan ada cerita pada mu Bee?"
"Cerita apa?"
Piter tidak melanjutkan kembali, karena dia yakin Bee tidak tahu masalah yang terjadi pada keluarga Kinan.
"Nanti saja Bee. Saat abang sudah pulang, biar ga dua kali mengulang cerita" balasnya dengan senyum.