Sold

Sold
Ada niat apa?



Bercinta dengan Bee rasanya tidak ada habis nya. Hingga makan makam pun terlewatkan oleh keduanya. Namun saat jarum jam menunggu pukul sepuluh malam, Bintang terbangun karena bunyi dari perutnya. Ingin membangunkan Bee, tapi Bintang tidak tega. Wanita itu begitu pulas berbalut mimpi. Permainan mereka kali ini memang begitu bergelora.


Tidak bisa menahan rasa laparnya, Bintang berniat ke dapur, untuk mencari makanan di kulkas. Lampu di ruang tengah hingga ke arah dapur sudah di padamkan seperti biasanya. Namun samar dari arah luar, Bintang masih bisa mendengar suara radio dari satpam nya di pos depan.


Awalnya Bintang ingin membuat nasi goreng karena ingin mengajak Bee makan. Gadis itu juga belum sempat makan.


Telaten Bintang mengupas bawang dan mengiris beberapa buah bawang merah dan putih. Saat akan menyalakan kompor, Bintang samar mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dia kira itu adalah Bee yang terbangun dan saat melihatnya tidak ada di ranjang, maka istrinya itu berinisiatif untuk mencarinya.


Bintang masih menahan dorongan untuk memutar tubuhnya mengejutkan wanita itu. Perlahan jemari lentik menyentuh punggung telanjang nya dan berhasil membuat buku kuduknya meremang. Satu baris senyum melengkung di bibirnya.


"Kau terbangun, my lady?" sapa Bintang menggenggam tangan itu seraya berbalik. Alangkah terkejutnya dia, saat di dapati bukan istrinya yang datang mencarinya. Bahkan tangan wanita itu masih dia genggam.


"Kamu? kenapa kamu ada di sini? sedang apa kamu di rumah ku?" ucap Bintang mundur hingga tubuhnya mentok ke meja pantry.


"Aku..aku tinggal di sini sejak hari ini" jawab Hana gugup. Suara bariton Bintang terdengar dingin, berbeda saat mereka beberapa kali mengobrol di taman kemarin.


"Jangan mengada-ada. Katakan kenapa kamu bisa di sini? kamu masuk lewat mana?" Bintang memperhatikan penampilan Hana. Wanita itu masih dalam balutan gaun tidur berwarna gading, persis seperti pakaian tidur para wanita bangsawan yang ada di film-film.


"Aku benar-benar tinggal di sini. Aku..aku menjaga bayi kembar itu"


"Hah? jadi kamu yang menjadi pengasuh putri-putri ku?"


Perlahan Hana mengangguk. Bintang menjambak rambut belakang nya. Ini tidak benar. Bagi Bintang tinggal nya Hana di rumah nya adalah petaka. Dia tidak ingin mendapat masalah dengan Bee. Lagi pula, apa alasan wanita ini bekerja di rumahnya? bukan kah dia seorang putri bangsawan?


Mulut Bintang terkunci. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Sejujurnya dia ingin bilang pada Hana, kalau dirinya tidak setuju wanita itu tinggal dirumahnya. Tapi Bee yang memilih wanita itu, dan lagi menurut Bee yang sejak tadi memuji-muji Hana, tidak akan menerima saran ku untuk mengganti Hana dengan pengasuh yang lain.


Dia kenal Bee. Istrinya itu akan minta alasan kenapa Hana harus di ganti, dan apa yang bisa Bintang katakan? kalau mereka sudah beberapa kali bertemu dan berbincang? bagaimana kalau Hana punya niat buruk terhadap rumah tangga mereka?


Tapi bisa saja Bintang yang terlalu berpikir buruk. Bisa saja Hana memang ingin bekerja. Tidak ingin menimbulkan masalah, Bintang berlalu tanpa mengatakan apa pun, meninggal kan Hana yang menatap punggungnya menjauh.


Buru-buru Bintang naik ke ranjang. Bee masih terlelap. Jantung Bintang berdetak cepat. Bagaimana kalau Bee mikir yang macam-macam kalau sampai tahu dia dan Hana pernah bicara di taman? Di sentuh nya wajah Bee, membelai lembut pipi gadis itu."Aku ga mau kita berantam lagi sayang, apa yang harus ku lakukan? kenapa membawa gadis itu ke rumah kita?" cicitnya. Namun suara Bintang sekecil itu pun berhasil membangun kan Bee. Gadis itu menggelinjang, lalu perlahan membuka matanya.


"Kakak...udah bangun? kenapa menatap ku seperti itu?" ucap Bee mengulurkan tangan dan di terima Bintang. Mencium punggung tangan gadis itu.


"Aku..aku kelaparan. Mau bangunin kamu, tapi ga enak. Kamu tidur nya pulas banget"


"Maaf ya kak. Aku buatin makanan deh" Bee bersusah payah bangun dan lupa mengapit selimut hingga turun ke perut, memamerkan buah d*da nya yang penuh tanda cinta hasil karya Bintang. Mendapat tatapan buas dari suaminya, Bee buru-buru menarik hingga leher, dan menyelipkan nya di kedua ketiaknya.


"Ga usah, aku udah ga lapar lagi. Kita tidur aja ya"


"Aku.."


"Eh..Hana, masuk lah" ucap nya memakai gaun tidurnya yang terlampir di samping ranjang.


"Maaf mengganggu. Ini aku buatkan nasi goreng" Hana melangkah maju memperlihatkan nasi goreng buatannya pada Bee.


"Han kok kebetulan banget kamu buatin nasi goreng, saat kak Bintang lagi lapar?"


"Aku ga lapar lagi sayang.." bantah Bintang tegas. Sedikitpun dia tidak ingin menoleh pada Hana, terus duduk menghadap Bee.


"Loh, tadi katanya lapar. Udah, sini aja Han..makasih ya" sahut Bee mengambil nampan berisi satu piring nasi goreng.


"Ya sudah. Aku keluar dulu" ucap Hana. Sekilas diliriknya Bintang yang sama sekali tidak mau melihatnya. Setelah terdengar bunyi pintu ditutup, baru lah Bintang merebahkan tubuhnya penuh kesal.


"Loh, aku lupa ngenalin kakak sama Hana. Dia yang jadi pengasuh bayi-bayi kita kak" ucap Bee meletakkan nampan di atas nakas, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh telentang Bintang.


"Makan yuk. Kayaknya enak nasi goreng buatan Hana"


"Aku udah ga lapar lagi Bee. Kamu aja yang makan ya sayang" ucap nya mengecup bibir Bee dan membantu Bee untuk duduk. Bintang tidak ingin memikirkannya lagi malam ini. Dia ingin tidur, dengan harapan saat besok bangun Hana sudah tidak ada di rumahnya.


Nyatanya harapan Bintang masih jauh panggang dari api. Pag itu Bintang harus bertemu dengan Hana di meja makan. Dia bahkan selayaknya raja yang di apit dua permaisuri. Bee di sebelah kanan sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Suasana hening membuat Bee yang sejak tadi sibuk menerima email dari salah satu rumah sakit tidak memperhatikan reaksi kedua orang di dekatnya itu. Hana terus saja curi-curi pandang, berharap Bintang mau meliriknya, nyatanya Bintang hanya diam dan terus menatap piring nya.


Bukan tidak tahu kalau gadis itu terus memperhatikan, dan Bintang risih.


"Sayang, makan sarapan mu, biar kita berangkat" Bintang menyentuh tangan Bee menyadarkan gadis itu.


"Eh..iya kak" ucap Bee mulai menyentuh sendok nya, tapi hanya sebatas itu, dia lalu kembali dalam dunianya, fokus pada layar tablet nya. Bintang yang mengamatinya pun tidak tinggal diam. Perlahan Bintang mengambil sendok dari piringnya dan mulai menyuapi Bee.


"Buka mulut mu, sayang"


Tanpa melihat Bee menganga dan menerima suapan Bintang. Wajah Hana terlihat sedih melihat adegan romantis itu.


*Buat semua kesayangan aku, makasih masih setia. Novel ini akan segera berakhir paling lama akhir bulan. Ikutin alur ya bebs. Aku cinta kalian..😘😘


*Aku bawa lagi nih, yang berbau berbagi cinta yang pasti buat baper..😩 kuy mampir