
Namanya Bintang Danendra, pengusaha yang menaungi banyak anak perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang, mulai properti hingga otomotif.
Bintang, pria sukses, CEO tampan yang memiliki keahlian memikat wanita, justru tak di pandang oleh gadis bau kencur yang baru muncul kepermukaan, ke dunia showbiz.
Tak ada niat untuk mencium gadis itu tadi. Awalnya, Bintang ingin tebar pesona, hingga gadis itu bertekuk lutut di hadapannya. Namun cara gadis itu meremehkannya, menganggap dirinya berbohong tentang identitas aslinya, membuat pria itu gemas, hingga rasanya perlu memberi soft Therapy untuk gadis bermulut pedas itu.
Namun kesalahan yang kedua dia lakukan setelah terpesona pada tawa renyah milik sang gadis jelita adalah mencium bibir lembut itu. Well, kalau itu bisa di sebut ciuman. Pria sekaliber Bintang Danendra pasti akan menyebutnya dengan perkenalan atau silaturahmi bibir, bukan kategori ciuman. Efeknya kini dia panas dingin menginginkan wanita itu untuk nya, malam ini jika perlu.
Saat kembali ke aula, yang di penuhi kolega nya sesama pebisnis, hal yang membuat jiwa nya terbakar adalah saat melihat Gadis itu sedang di gandeng tuan Sudibyo, berbincang entah apa yang mereka ceritakan.
Bintang Danendra bukan pria penyabar, terlebih jika barang yang dia ingin kan di incar orang lain. Dengan kesal niat untuk mencari gadis itu untuk mengajaknya bicara, dia batalkan hingga berencana meninggalkan acara. Padahal asistennya memanggilnya tadi guna memberi kata sambutan dan juga sekaligus press conference pada wartawan bersama Sebastien Menawan.
Rasa kesal dan arogansi nya membuatnya tak perduli akan kerja sama itu, meminta Riko, asisten sekaligus orang kepercayaannya untuk mewakilinya, sementara dia pulang, setelah lebih dulu meminta Riko menghubungi Carla agar datang ke hotel dimana tuan muda akan menghabiskan malam nya.
***
Sudah seminggu setelah malam dimana pertemuan nya dengan gadis ber lidah tajam itu untuk pertama kali, namun tak sedetik pun dia bisa mengusir bayangan dan suara tawa gadis itu. Bahkan malam setelah bercinta dengan Carla, Bintang tidur dengan pulas nya, namun bukan karena nikmatnya permainan Carla, Bintang justru tak bisa menyelesaikan permainan hingga akhir, saat bercinta dengan Carla, justru wajah Bee yang bermain dalam pelupuk matanya.
Terpaksa, Carla harus berjuang sendiri, memberi pijatan pada milik Bintang dengan lidah dan mulutnya, karena Bintang sudah ogah meneruskannya. Dan Bintang benci karena gadis itu membawa pengaruh besar untuk dirinya.
Suara ketukan menyadarkannya dari lamunannya yang berkepanjangan, bahkan kemarin malam, dia harus bermain solo. saat siluet tubuh Bee melintas dalam pikiran kotornya, memancing imajinasinya, membayangkan rintihan tubuh Bee di bawah kungkungannya, merintih nikmat. Hanya dengan membayangkan tubuh tel*njang gadis itu bisa membuatnya memuntahkan bibit-bibit unggul yang dia pijat sendiri dengan tangannya.
"Masuk.." bentak nya kesal. Bahkan untuk bermain dalam khayalan nya saja dia tak di perbolehkan, harus tetap dapat gangguan!
"Maaf bos, ini sudah saya kumpulkan data yang bisa saya peroleh dalam waktu dua hari. Dan ini hampir 95,% akurat dan dapat di pertanggung jawaban kan" ucap Riko menyerahkan satu dokumen.
Garis dahi Bintang berkerut, membaca semua yang di tulis di beberapa kertas itu. Lalu kesal melemparkan ke sudut meja kerjanya yang luas.
"Saya sudah membeli semua nya, menyiapkan tempat khusus bagi tuan, agar bisa melakukan yang tuan inginkan. Kapan pun tuan ingin ke sana, tempat itu sudah siap. Saya juga sudah menempatkan beberapa pelayan untuk mengurus tempat itu" tutur Riko.
Senyum puas melengkung di bibirnya. Tak menyangka, jalannya se terbuka itu. Ini seperti sudah takdir, kemarin pagi, ibunya meminta dirinya datang ke mansion utama.
Sebadung-badung nya Bintang Danendra, dia sangat menghargai dan menghormati ibu nya. Wanita teristimewa yang amat di sayangi nya. Dia selalu memantau kesehatan dan juga aktifitas ibu dan adik laki-laki nya yang saat ini kuliah di salah satu kampus nomor satu di Jakarta.
Dia memang tidak tinggal bersama mereka, memilih untuk tinggal sendiri, di salah satu rumah mewahnya di kawasan Jakarta selatan. Namun sesekali dia akan berkunjung, melepas rindu pada ibunya.
Pagi ini, wanita berusia hampir enam puluh tahun itu, menelpon dirinya. Dengan alasan kesehatan yang terganggu, Bintang segera meluncur ke sana. Tapi apa yang terjadi, wanita itu sehat-sehat saja, bahkan tampak bugar setelah selesai mengikuti senam dengan mengundang instruktur senam ke rumahnya. Tak hanya sampai disitu, wanita tua itu akan mengajak para pelayan wanita, untuk ikut senam bersamanya, meninggalkan pekerjaan mereka untuk sesaat.
"Ini yang ibu bilang sedang sakit? rematik dan asam urat yang kambuh?" ucap nya dingin menatap sang ibu. Wanita yang di tegur itu justru terkekeh, mendekat dan mencium pipi anak sulung nya itu.
"Sudah diam. Sebaik nya kau tutup mulut, jangan kira karena sekarang kau yang memberi bulanan ibu, lantas bisa sesuka mu bicara pada ibu mu? mau kau ibu kutuk jadi matras goya ibu?" deliknya tajam, duduk di kursi sambil mengatur nafasnya. Banyak gerakan baru yang diajarkan Farida pada nya pagi ini, membuat tubuhnya terasa pegal, tapi segar.
"Baik lah Bu, aku sibuk. Harus nya aku sedang di kantor saat ini, bukan meladeni tingkah konyol ibu" gerutunya. Sebengis-bengis nya seorang Bintang Danendra, langit nya tentu saja sang Ibunda nya. Siapa yang berani jika wanita tua itu sudah pasang tampang menyedihkan? drama pun di mulai. Jika tak berhasil, baru lah adu otot.
"Kau hanya memikirkan pekerjaanmu, apa kata ayah mu di alam sana melihat anak nya hanya menggilai pekerjaan?" pertarungan di mulai.
"C'mon Bu, jangan mulai lagi. Aku begini juga buat kita semua. Salah kan ayah, meninggalkan banyak perusahaan yang harus aku urus!" bantah nya tak mau kalah. Dia kenal baik alur cerita yang di kemas sang ibu. Sudah dua tahun ini di lakoni, lihat saja..pasti tujuan akhirnya tentang pernikahan!
"Anak durjana, berani nya kau menyalahkan ayahmu? jangan mentang-mentang suami ku sudah di alam yang berbeda, lantas kau dengan santainya ngata-ngatain dia ya! mau kau di datangi malam ini? kayak dulu punggung sama betis mu di belai ikat pinggangnya?" salak ibu tak mau kalah.
"Siapa yang ngatain ayah?lagian mana bisa orang yang udah meninggal datang mukulin anaknya dengan ikat pinggang?apa kata malaikat maut Bu?" anak dan ibu sama-sama ga mau ngalah.
"Udah, hentikan omong kosong ini, dua tahun aku mengalah, tidak untuk kali ini. Ini peringatan terakhir buatmu, wahai Bintang Danendra, dengarkan titah ku...jika sampai akhir tahun ini kau belum juga menikah, kau harus terima perjodohan mu dengan si Lilis, anak pak kumis, juragan kambing yang ada Subang!"