Sold

Sold
Tak pernah bosan



Penyambutan yang di lakukan para pelayan di rumah, membuat Bintang dan Bee terharu. Tulisan welcome home jelas di peruntukkan untuk Bintang yang sempat meninggalkan rumah itu lebih dari sepuluh bulan lama nya.


Mira maju ke depan sebagai perwakilan dari para pelayan untuk menyerahkan satu buket bunga indah pada Bee. Di sana juga ada ibu dan Saga. Anak itu berlari menyambut kedatangan kedua orangtuanya.


"Selamat untuk kalian. Lihat, begini lah seharusnya, menjadi keluarga yang lengkap" ucap Ibu menatap ketiga.


"Terimakasih Bu" ucap Bee terharu. Bersyukur memiliki mertua sebaik ibu. Mau memberikan dirinya satu kesempatan lagi untuk masuk dalam keluarga ini.


Acara santap bersama di mulai setelah Kinan dan Piter tiba. Ibu sudah mempersiapkan semua hidangan untuk makan siang bersama.


Lagi-lagi Piter harus tunduk, saat ibu meminta nya untuk menjemput Kinan. Dari ekor matanya, Piter bisa lihat Kinan hanya mengaduk-aduk nasi nya dengan kuah sup tanpa ada keinginan untuk Menghabiskan nya.


"Apa makanan nya tidak enak?" suara ibu melepas jauh angan Kinan.


"Oh..bukan Bu, hanya saja.." Kinan tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya karena dorongan untuk menuju kamar mandi lebih besar.


"Masih duduk di situ? pergi lihat Kinan" suara tajam ibu membuat Piter tak lagi nyaman untuk duduk lebih lama, bangkit untuk melihat keadaan Kinan.


"Muntah lagi?"


"Yang lo lihat?" balas Kinan sinis setelah selesai kumur-kumur dengan air. Kinan tidak menghiraukan lagi, berlalu pergi meninggalkan Piter dengan geraman kekesalannya.


Gimana gue bisa hidup lebih lama kalau punya istri iblis kayak dia!


Bintang dan Piter yang menggendong Saga memilih untuk menikmati waktu dengan duduk di ruang perpustakaan sementara ketiga wanita yang punya andil dalam hidup mereka berkumpul di ruang teve.


"Ibu berharap, kalian akan sering datang ke mansion, nginap beberapa hari" ucap ibu yang diangguk Bee.


"Atau kalau bisa kalian semua tinggal di rumah ibu saja"


"Aku ga keberatan Bu"


"Aku juga Bu" sambung Kinan.


"Kami yang keberatan" suara serentak dari arah pintu membuat dengusan panjang dari ibu.


"Ibu kira kalian tidak ingin bergabung dengan kami"


"Niat nya memang begitu awalnya, tapi takut nanti di kutuk jadi sendal" timpal Piter.


"Tutup mulutmu. Kau Piter, bersikap baik lah pada Kinan. Beberapa Minggu lagi kalian akan menikah. Ibu ingin kau menjaga Kinan dan memperlakukannya dengan baik"


***


Dari pernikahan kedua nya ini, baru lah Bee bisa merasakan kebahagiaan seutuhnya. Setiap saat suaminya akan memperlakukan dengan penuh kasih dan kelembutan, hanya saja di tempat tidur, terkadang Bintang sedikit tidak sabaran.


Tapi tidak jadi soal, karena Bee menyukai cara pria itu menyentuhnya bagaimana pun bentuknya. Itu adalah perwujudan cinta kasih mereka.


"Makasih udah nganterin aku, kak" ucap Bee setelah mobil mewah itu berhenti di parkiran kampus.


"Senang bisa melayani mu tuan putri" sambut Bintang tersenyum.


"Iih..jangan pasang senyum begitu"


"Nanti aku semakin cinta sama kamu, kak" jawaban polos Bee membuat hati Bintang menghangat. Dia suka dengan sikap Bee yang selalu mengatakan dalam hal sederhana sekalipun.


"Itu adalah misi ku. Akan ku buat kau klepek klepek padaku" kalimatnya di tutup dengan kerlingan dan juga senyum menggoda.


Keduanya tertawa bersama. Memulai pagi dengan penuh cinta dalam hati. "Udah ya kak, aku masuk dulu" Bee melepas seatbelt dan menarik tangan Bintang untuk dicium nya.


"Baik-baik kuliahnya. Jangan nakal, jangan mau di godain"


"Siap kapten" Bee mengangkat tangan bentuk hormat pada Bintang yang membuat pria itu menarik tubuh Bee untuk memberikan kecupan pagi.


Tapi kecupan itu berubah jadi l*matan panas. Bintang merasa tidak pernah bosan menyentuh dan mengklaim tubuh istrinya.


Udara dalam mobil seketika berubah panas, padahal pendingin masih berfungsi dengan baik. "Apa kita pulang aja yang? aku pengen nih" desis Bintang setelah melepas aksi mereka.


"Kakak, apa-apaan sih. Udah ah, aku mau turun. Bentar lagi mata kuliah pertama segera mulai kak"


"Mata kuliah apa?" delik Bintang. Rencana nya kalau mata kuliah tidak terlalu penting, ingin meminta Bee bolos.


"Biologi oral II" sahut Bee membenahi kemeja nya yang sempat di buka Bintang kancing atas nya.


"Oh..harus masuk ya yang?"


"Iya lah harus. Udah kak, aku pergi. Eit..cium nya di kening aja, nanti kalau di sini ngulang lagi dari awal" celoteh Bee menahan dada Bintang yang berusaha maju.


Bintang setuju, dia pun mencium kening Bee saja, dan melepas kepergian Bee dengan perasaan rindu yang menggunung.


Bee harus berkonsentrasi untuk mengikuti mata kuliah nya saat ini, walau pikirannya hampir keseluruhan di sita oleh aksi mereka tadi di dalam mobil.


Kadang Bee bingung, Bintang seolah tidak ada bosannya mencumbu dirinya. Sebagian besar waktu mereka habis kan dalam kamar, bergulat dengan keringat dan memacu kepuasaan. Tiba-tiba jantung Bee kembali bergetar mengingat semua nya itu.


"Bellaetrix, coba jelaskan apa yang di maksud dengan mineralisasi dan demineralisasi jaringan keras gigi?"


Suara bariton dosen killer itu membuat lamunan Bee buyar berganti serangan jantung tiba-tiba. Beruntung nya Bee bisa menjawab seadanya walau tidak sempurna. Seminggu cuti untuk pesta pernikahan berarti dia sudah satu kali tidak ikut pertemuan dengan dosen ini.


"Lumayan, walau tidak sempurna. Saya minta kamu lebih berkonsentrasi, kalau tidak suka dengan kelas saya, kamu bisa menunda satu tahun lagi untuk mengulang dengan dosen lain. Karena untuk semester ini saya dosen pengampu nya" peringatan itu jelas, dan Bee hanya bisa menjawab dengan sungguh-sungguh bukti kesediaannya.


Ini semua salah Bintang, yang terus saja bermain dalam khayal nya. Bee seperti gadis ABG yang baru menemukan cinta. Baru di sadari nya, jatuh cinta pada orang yang tepat itu sangat menyenangkan membuat nya bahagia. Tanpa tekanan dan juga makan hati. Bukan, dia bukan mengingat masa pacarannya dengan Elang, tapi ya gitu deh..!


"Bete amat, itu wajah masam cemberut udah kayak jeruk purut yang kisut, tau ga?" ejek Caca menghempaskan bokongnya di sebelah Bee.


Dia baru saja menyelesaikan urusan pemesanan di pendopo kantin FBS yang harus order dan bayar ke kasir lebih dulu baru makan.


"Gue di tegur sama pak Yosep, dosen mata kuliah biologi oral" ucap nya lesu.


"Emang lu buat huru hara di kelasnya?" timpal Caca meletakkan ponselnya di atas meja selepas mengirim pesan pada pacarnya.


"Gue bengong di kelasnya"


"Mikirin yang jorok-jorok ya? keinget terus sama permainan panas kak Bintang ya? kalau ga pasti mikirin ntar malam gaya apa lagi yang mau di praktekkan ntar malam sama kak Bintang" goda Lala.