
Harusnya Bee bisa menebak siapa tamu special yang di maksud. Senyum wanita itu tampak memukau menyambut kedatangan mereka. Entah lah siapa yang disambutnya hingga membuat dia tersenyum gembira, Bee atau Bintang. Tapi melihat gerakan refleks nya berdiri dan menyongsong Bintang, bergelayut manja di lengannya membuat Bee menemukan jawaban. Cuih!
"Kenapa lama datang nya?" ucap Ranika dengan suara khas manjanya.
"Loh, kalian sudah pernah ketemu sebelumnya di sini? ibu kira ini pertemuan kalian setelah sekian lama" ucap Bu Salma tersenyum melihat keakraban keduanya.
Kalau bukan karena menghargai mertuanya, Bee pasti sudah menjambak rambut Ranika. Baru dua hari lalu dia menegaskan pada wanita itu untuk tidak menyentuh bagian tubuh suaminya, tapi ternyata wanita itu tidak mengindahkan peringatan nya.
Bee sudah duduk di salah satu sofa, sementara Ranika dan Bintang masih saja bicara dengan berdiri. Bulu kuduk Bintang meremang, seolah ada makhluk menyeramkan sedang mengintainya. Seketika dia berbalik melihat kearah Bee, tepat dugaannya. Permaisuri nya sedang menatap tajam ke arahnya. Lebih tajam dari pisau yang biasa dipakai nya mencincang daging.
"Ran, kita duduk dulu" ucap nya melepas tangan wanita itu yang sejak tadi ada di lengan Bintang. Masih ingin tetap hidup, Bintang memilih duduk di samping istrinya sementara Ranika duduk di samping ibu.
"Yang.." bisik Bintang. Tapi seketika Bintang terdiam karena di pelototi oleh istrinya sebagai pertanda kekesalannya.
"Kinan mana,Ter?" Bee mengalihkan pembicaraan agar Bintang tidak mengajaknya bicara lagi.
"Dia di dapur, kakak ipar"
"Aku akan melihatnya" Bee sudah bergegas beranjak. Masih lebih baik di dapur dari pada hati nya jengkel melihat tingkah Ranika yang sok manja itu.
"Hai, sedang apa?" suara Bee seperti hembusan angin surga di telinga Kinan. Senyum nya yang tadi sirna kini merekah melihat kedatangan wanita itu.
"Kenapa lama? sejak tadi aku menunggumu" ucap nya meletakkan sendok yang dia gunakan mengaduk teh yang baru dia seduh.
"Emang ada apa?" Bee memperhatikan raut wajah Kinan yang murung.
"Kamu sudah bertemu gadis itu?" pertanyaan Bee di jawab Kinan dengan melempar kembali pertanyaan.
"Gadis? oh..Ranika maksudmu?mmm...sudah" ucap nya duduk di meja makan, mengamati Kinan yang tampak lesu.
"Kamu sakit Nan? kok lemes gitu?"
"Sakit di hati..di pikiran juga..nanti deh kita janjian ketemu di tempat biasa. Aku mau ngobrol banyak sama kamu. Yuk.." Kinan sudah mengangkat nampan berisi air teh yang sudah di tambahi untuk Bintang dan Bee juga.
Sampai di ruang tengah, langkah kedua nya terhenti saat mendengar gelak tawa ke empat orang yang sedang asik bercengkrama itu. Kedua nya saling melempar pandang lalu kembali melanjutkan langkah mereka bergabung dengan yang lain.
"Kok lama yang?" bisik Bintang saat Bee sudah duduk di samping nya.
"Bingung mau milih senjata mana. Pisau atau gunting buat senjata" jawab nya asal, tapi mampu membuat Bintang bergidik ngeri.
Jamuan makan berlangsung dengan lancar. Ibu tampak bahagia melihat anak mantu dan cucu nya ada di dekatnya pada hari bahagianya.
Kedatangan tuan Andri Setiawan sedikit banyak membuat suasana mencair. Kinan dan Bee bisa menikmati acara dan sejenak melupakan kehadiran Ranika yang tidak henti-hentinya menebar pesona pada Bintang.
Bee harus keluar dari lingkaran tempat mereka berkumpul karena Saga merengek ingin tidur siang. "Aku bawa Saga ke kamar dulu ya" ucap Bee pamit. Tapi Saga yang sudah besar membuat Bee kesusahan untuk berdiri.
"Biar aku yang" ucap Bintang mengambil alih Saga dan membawa ke kamar nya. Obrolan berlanjut, Piter yang sedari tadi menikmati wajah cantik Kinan yang tertawa semakin merasa jatuh pada pesona gadis itu.
"Kalau begitu aku ingin mencoba nya"
"Baik lah. Aku akan minta Yati untuk mengambil nya. Kemana anak itu.." ucap ibu mencari asistennya.
"Biar aku yang ambil Bu" Bee menawarkan diri yang di angguk ibu. Lagian Bee memang ingin mengambil air hangat, tenggorokannya terasa sakit menelan. Mungkin karena sejak tadi minum air es terus.
"Baik lah Bee, bantu ibu ambil kan di lemari penyimpanan, herbal yang kemasannya berwarna coklat"
Setelah mengambil ramuan yang di maksud Bee kembali duduk, kini asik bercerita dengan Kinan yang sudah memilih duduk di sofa terpisah dengan Piter. Maksud hati Piter mengajak Kinan menjauh dari sana ingin ngobrol berdua, tapi gadis itu justru memanggil Bee.
"Kak Bintang belum turun?" Piter menggeleng malas. "Aku lihat dulu deh"
Dugaan Bee mungkin Saga terbangun hingga menahan Bintang di kamar untuk kembali membelai-belai punggung bocah itu agar kembali terlelap. Kebiasaan Saga yang menurun dari Bee.
Pintu kamar tidak terkunci, bahkan terbuka sedikit, hingga Bee bisa masuk tanpa menyentuh daun pintu.
"Aku ga nyangka kamu memilih menikahi wanita seperti itu, Tang"
"Maksud kamu apa, Cha?" ucap Bintang yang masih diiringi tawa, seolah perkataan Ranika itu bukan bentuk penghinaan bagi Bee, istri nya.
"Ya seperti itu. Bee sikap nya bar-bar. Tang, duku kamu sampai tiga kali nembak aku. Kamu bilang kamu suka bahkan cinta mati sama aku yang punya sifat penurut, dan juga lemah lembut. Kok malah milih istri yang urakan dan bar-bar? apa semua model memang sikap ya begitu ya?"
"Ran, jaga ucapan mu. Dia itu istri ku, dan aku sangat mencintai dia. Aku suka apa yang ada dalam diri Bee" perasaan Bee melambung mendengar ucapan Bintang. Remasan di dadanya yang tadi terasa sakit, kini perlahan menguap. Dia bisa mempercayai Bintang.
"Aku kenal kamu, tang. Kamu cuma terobsesi sama dia. Kamu cuma mau lupain aku dengan cara menikahi dia" ucap Ranika santai. Bee ingin sekali keluar dari persembunyiannya dan mencakar wajah wanita iblis itu, tapi kaki nya seakan di paku ke tanah, tidak bisa bergerak.
Ranika yang awalnya hanya berdiri di hadapan Bintang yang tengah mengusap punggung Saga, kini duduk di samping Bintang. Tangannya membelai paha Bintang hingga pria itu menatap tajam pada Ranika.
"Kamu masih mencintai aku kan tang?"
"Hentikan Cha. Di hati aku cuma ada Bee, istriku" tegas Bintang berdiri.
"Kamu yakin?"
"Yakin" sahut Bintang mantap.
"Apa Bee tahu, aku lah cinta pertama mu? aku tidak mungkin bisa tergantikan di hati mu!"
"Itu hanya masa lalu, Cha. Kau dulu menolak ku, aku sangat mencintaimu dan mengharapkan mu, tapi kau mencampakkan ku dan pergi meninggalkan ku, hingga aku tidak percaya lagi pada cinta. Lalu aku bertemu dengan Bee, satu-satunya orang yang bisa membuat ku kembali tersenyum dan membuat aku kembali hidup. Sekarang dan selamanya, hanya ada dia dalam hatiku"
"Tapi aku juga penyelamat mu. Aku menolong mu dari kecelakaan itu. Dan kau tahu, aku pergi dari mu bertahun-tahun karena dokter sudah memfonisku tidak akan bisa memiliki anak lagi. Kecelakaan itu membuat rahim ku diangkat, aku merasa tidak sempurna untuk mu, maka nya memilih untuk pergi, bukan karena aku tidak mencintaimu, tang" perlahan Bee bisa mendengar Isak tangis Ranika.
Dengan tangis tertahan Bee meninggalkan kamar itu, pergi menyendiri di tepi kolam renang. Di sana tidak akan ada yang melihatnya menangis.