Sold

Sold
Berduaan



Untuk kesekian kalinya Bee berguling di tempat tidur, tubuh nya masih di balut selimut tebal.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tak ada alasan untuk bangun pagi, hari ini dan lima hari ke depan dia hanya akan di rumah. Mengingat hukuman itu, kembali membuat nya kesal.


"Aaarrgh.." Bee memukul tempat tidurnya, lalu bangkit untuk duduk. Pagi ini dia sungguh bad mood, mana perutnya juga sakit.


Dihempaskan nya selimut yang masih menutup kakinya, melangkah ke dalam kamar mandi. Tak lama suara aliran air terdengar.


Lima belas menit kemudian, suara ketukan di pintu kamarnya membuat Bee yang masih mengenakan handuk mandinya, tidak jadi menuju lemari pakaian.


"Siapa?" teriaknya.


"Saya Nya, Mira" sahut pelayan itu, yang kemudian masuk setelah di minta Bee.


"Ada apa Mir?" tanya nya dengan tampang malas. Perut nya yang tiba-tiba sakit membuat mood nya semakin buruk.


"Tuan minta Nyonya untuk turun sarapan bersama"


"Sampaikan aku belum bangun. Eh, tunggu nanti dia malah ke sini lagi. Bilang aja aku lagi mandi, suruh dia sarapan aja duluan" ucap Bee merasa mendapat alasan tepat untuk menghindari Bintang. Tadi malam mereka bertengkar hebat.


Walau Bintang sudah menjelaskan bahwa photo itu tak berarti apa pun, Bee terlanjur kesal, dan dasar sifat keras kepalanya melebihi apa pun, dia terus aja melawan apa pun yang di ucapkan Bintang.


"Kata tuan, saya di minta menemani nyonya, dan membantu semua keperluan anda, hingga bisa turun ke bawah. Kalau ga...saya ga di bolehin turun, dan gaji saya bakal dipotong 50% nya" ucap Mira dengan kesedihan yang nyata.


Tak punya pilihan lain, Bee segera memakai bajunya. kaos putih pas badan dan hotpants yang sangat pendek sekali berwarna Biru menjadi pilihannya.


Pria itu ada di sana. Masih sama..tampan. Bee menggeleng-gelengkan kepalanya atas pemikiran aneh yang sempat-sempatnya mampir di pikirannya.


Ehem..! suara dehem-an nya membuat Bintang menoleh ke arah nya, lalu tersenyum.


"Pagi" sapa pria itu. Tepat sekali, mana mungkin di balas oleh gadis itu. Dia menarik kursinya dan duduk senyaman nya seolah Bintang tak ada di sana.


"Masih ngambek?" tanya Bintang sembari meletakkan roti yang sudah diolesi selai di piring Bee.


Gadis itu masih tak bergeming. Dia masih kesal dengan Bintang. Baginya dia di hukum begini karena Bintang. Siapa suruh pria itu banyak di minati cewek!


"Apa rencana mu hari ini?" tanya nya menatap ke arah Bee. Tapi gadis itu hanya mendengus, lalu membuang pandangannya ke arah luar.


Masih nanya gue punya rencana apa! emang gue bisa apa selain membatu di rumah?emang kalau gue mau pergi, lo ngizinin?


Untuk kedua kalinya, hembusan nafas berat terdengar dari Bee.


"Kalau kamu masih diamin aku, aku ga segan-segan buat cium kamu di depan mereka" Bintang menunjuk beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka, yang selalu standby saat mereka sedang makan.


"Ga percaya? mau ngetes aku?" tanya Bintang saat Bee seolah mengejek perkataannya dengan memutar bola matanya.


Namun saat pria itu sudah bangkit dan akan mendekat padanya, Bee langsung buka suara.


"Lo mau apa sih? gue ga mau ngomong sama Lo" salak Bee kesal. Bintang masih sempat mendengar hentakan kaki Bee di lantai.


"Menurut lo?"


"Jangan-jangan kamu cemburu lagi aku dekat sama cewek lain" goda Bintang.


Akibatnya, pria itu mendapat tatapan tajam dari Bee, hingga membuat Bintang tertawa keras. Begitu bahagia bisa bersiteru kecil dengan istrinya yang suka ngambek-an.


"Gue ga perduli kalau Lo dekat sama cewek mana pun, tapi bilang sama mereka ga usah pamer kemesraan hubungan kalian di depan gue! dan satu lagi, gue juga bakal mesra-mesraan dengan Elang nanti. Dan lo ga boleh mantau gue dengan pengawal Lo itu!" hardik nya.


"Oh, ga bisa sayang. Perjanjiannya, selama kamu jadi istri ku, kamu harus jaga sikap, dan tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain, bahkan untuk bertemu pria lain harus seizin aku dulu"


"Enak banget jadi Lo ya. Gue ga boleh, tapi Lo boleh? dasar brengsek" Bee melempar sisa roti yang sudah lebih setengah dia makan, lalu berlari naik ke atas tangga.


Dalam kamar, Bee menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, telungkup dan menangis. Memukuli bantal yang ada di sana, sebagai landasan untuk melampiaskan amarahnya.


Tak lama pintu terbuka. Bintang sudah di dalam kamar, masih berdiri diam memandang Bee yang masih belum sadar keberadaan nya.


Perlahan, dia duduk di tepi tempat tidur, mengelus rambut gadis itu. "Jangan nangis lagi, aku minta maaf kalau udah buat kamu kesal. Aku janji, ga akan dekat-dekat dengan gadis lain, bahkan untuk sekedar photo" ucap nya.


Bintang memilih mengalah. Dia tak ingin Bee begitu tersiksa selama bersamanya.


Janji itu jelas dia dengar di telinganya. Membuat Bee bergegas duduk, memandang Bintang. Air mata gadis itu masih memenuhi pipinya.


"Janji?" tanya Bee sesungguk kan.


"Aku janji" ucap Bintang dan tersenyum, Lalu menarik Bee ke dalam pelukannya.


"Kakak ga kerja?" tanya Bee sesudah bisa menguasai diri, tangis nya pun kini sudah berhenti.


"Ga. Aku mau nemani kamu hari ini. Kita jalan yok?"


Wajah Bee seketika sumringah. Ajakan ini lebih indah dari tepukan penonton di sisi catwalk saat dia sedang berjalan.


"Benar? kemana?" tanya nya antusias.


"Kemana aja. Kamu yang tentukan. Mau?" ucap Bintang menarik dagu Bee, menatap sesaat ke dalam mata gadis itu. Saat Bee sudah mengangguk, Bintang kemudian menyatukan bibir mereka. Mel*mat bibir merah gadis itu, yang sudah semakin candu baginya.


"Ya sudah, aku tunggu di bawah ya" Bintang membelai rambut Bee kembali, sebelum meninggalkan gadis itu.


Dengan semangat 45, Bee berdandan cantik. Ini kencan pertama mereka. Bee ingin tampil memukau di hadapan Bintang. Loh kok? entah lah, mengalir begitu saja. Bee ingin terlihat mempesona bagi Bintang hingga tak membuat malu dirinya.


Bee tersenyum menatap pantulan dirinya yang cantik di cermin. Buat Lo yang mau ngerayu suami gue, simpan dalam khayalan Lo!


Gadis itu sudah tak sadar, kalau kini dirinya sudah mulai perduli pada Bintang. Tak ingin miliknya di rebut oleh siapa pun.


"Cantik banget istri aku" bisik Bintang saat Bee sudah ada di sampingnya. Gadis itu hanya tersenyum malu, menunduk. Pipinya merah, dan saat di gandeng Bee hanya menurut, debaran jantung nya semakin kian terdengar. Dia suka di dekat Bintang, tapi tidak tahan dengan debaran yang selalu berdetak semakin kencang.