
"Kok cemberut? kenapa?" tanya Bintang yang sudah mematikan mesin mobil.
Yang di tanya bukan menjawab malah makin manyun. "Aku mau pulang" salaknya tiba-tiba.
"Loh..kok pulang, kita baru nyampe Bee, belum juga masuk" Bintang bingung melihat sikap labil istrinya. Tadi masih semangat, bahkan mau mutar lagu. Tapi sejak Bintang memberitahukan password layar ponselnya, Bee justru diam, tak lama melempar ponsel Bintang ke dashboard mobil.
"Bodo!" seru nya kesal.
"Jangan gitu dong Bee, aku mau kita nemuin seseorang dulu sebelum pulang"
"Ga mau. Aku mau pulang. Ajak aja cewek cantik bak bidadari yang elo bilang itu!"
Damn! Mati lo Bintang!!
Baru lah Bintang sadar alasan sikap ngambek tidak jelas Bee. Dia cemburu pada gadis yang di puji Bintang tadi.
Hahahahaha...tawa Bintang meledak. Membuat Bee yang awalnya terkejut kini menatap kesal. Dia baru sadar kalau yang di tertawakan Bintang itu dirinya.
"Ketawa aja terus. Gue pulang!" Raung Bee membuka paksa seatbelt nya. Namun Bintang dengan cepat menahan tangan Bee sebelum berhasil membuka pintu mobil.
Menarik tubuh Bee mendekat padanya, hingga bisa memeluk gadis itu.
"Aku masu cerita sebentar. Kamu dengarkan ya. Pada tanggal itu.."
Bee langsung menarik tubuh nya saat Bintang memulai ceritanya. Bee tak sudi mendengar cerita Bintang tentang kisah nya dengan sang gadis cantik yang memang tak bisa di lupakan Bintang hingga saat ini.
"Dengar dulu sayang.. sekali-kali nurut napa sama suami.." ucap nya mencubit ujung hidung Bee.
"Pada tanggal itu aku melihat seorang gadis cantik yang tertawa lepas, tanpa harus menjaga penampilannya untuk terlihat elegan. Dia bersikap apa adanya. Jujur, aku terpesona, bahkan bisa di bilang langsung jatuh cinta padanya malam itu"
Ada denyut sakit dan perih di balik dadanya. Perih. Sebegitu terpesona nya Bintang pada gadis itu. Bee benar-benar tak bisa terima. Tapi dia bisa apa?
"Lalu saat acara yang mungkin memuakkan bagi si gadis cantik, dia menyusup keluar dan aku mengikutinya. Terjadi perdebatan kecil, Bahkan dia meragukan identitas ku.." Bintang diam sesaat. Menunggu reaksi Bee apakah gadis itu ingat kelanjutannya.
Gadis itu memang menatap nya. Raut wajahnya menyimpan tanya dan rasa tak percaya.
"Aku berhasil mencuri ciuman pertama gadis itu. Walau sesaat tapi begitu berkesan untuk ku. Lalu aku berusaha untuk mendapatkan nya, dan aku yakin kamu sudah tahu kelanjutannya.." ucap Bintang menarik dagu Bee menatap dalam pada manik coklat gadis itu.
Wajah Bee masih terkejut. Menatap Bintang dengan luapan perasaan yang sulit di jelaskan. Tangannya menutup mulutnya setelah semua memori yang dia rangkai menemui puncaknya.
"Kamu..malam itu..?" Bee terbata, bahkan dia tak sanggup merangkai kalimat yang benar.
Bintang hanya mengangguk. " Itu lah tanggal pertama kali aku melihat mu, dan jatuh cinta padamu Bee.."
Nyes!
Hatinya mencelos mendengar semua penuturan Bintang. Jadi selama ini pria ini lah yang mencuri ciuman pertamanya.
Sulit menggambarkan apa yang Bee rasakan saat ini. Bahagia, gembira karena ternyata pria itu adalah Bintang. Dan lebih bahagia karena wanita yang mengisi hati Bintang adalah dirinya. Bee menitikkan air mata haru.
"Jangan menangis sayang..maaf kan aku ya. Selama ini menutup ini dari kamu. Tapi benar Bee, sejak malam itu hingga saat ini, aku mencintaimu" ucap nya.
Entah dorongan dari mana, Bee memajukan wajah nya menangkup wajah Bintang lalu mencium bibir pria itu lembut. Kali pertama Bee lebih dulu ingin mencium bibir Bintang, tanpa paksaan dan juga beban. Pure keinginan hatinya.
Dengan suka cita Bintang membalas ciuman itu. Memberi rasa pada Bee, menumpahkan semua yang dia rasakan pada gadis itu.
Nafas kedua masih memburu, saat ciuman itu di akhiri. Senyum yang di berikan Bintang padanya, membuat Bee malu.
"Masih marah?"
Hingga duduk di sofa empuk nan mewah itu Bintang tetap masih menggenggam tangan Bee. Seolah ingin melindungi gadis itu dari serangan besar nantinya.
"Kak, ini rumah siapa? besar banget kayak istana?"
"Kamu suka rumahnya? nanti aku buatkan untuk mu" sahut Bintang serius.
"Iih..bukan gitu. Suka sih suka, tapi ya ga juga kakak beli rumah segede gini buat aku" ujar Bee geli. Senyumnya membuat bola mata nya bersinar.
"Kamu tambah cantik kalau senyum gini" puji Bintang, yang menadapat cubitan pelan di perutnya.
"Ehem.." suara seorang wanita setengah baya menyadarkan mereka, kalau sedari tadi wanita itu sudah ada di sana mengamati mereka.
Bee tak mengerti, lalu melihat ke arah Bintang, lalu semakin bertambah kaget saat mendengar suaminya menyapa wanita itu.
"Ibu.." ucap Bintang berdiri mendekat pada wanita itu, lalu mencium punggung tangan yang di panggilnya ibu, tak lupa menutup dengan cipika-cipiki.
Bee yang mulai paham tampak kikuk. Dia hanya bisa ikut berdiri mendekat pada Bintang.
"Bee, ini ibu ku.."
"Ibu.." ucap nya menyapa sembari ikut mencium punggung tangan ibu.
"Sana kamu" hardik ibu. Bee begitu pucat. Tak menyangka ibu nya Bintang akan mengusirnya.
Masih terkejut, Bee melangkah mundur. Sakit. Bahkan Bintang pun tersentak.
"Bukan kamu, tapi anak durjana itu!" ujar ibu memicingkan mata ke arah Bintang. Baru lah Bintang bisa bernafas lega.
Biar lah ibunya memaki dirinya, bahkan menghajarnya dengan tali pinggang seperti ayahnya dulu, asal tidak bersikap kasar pada Bee.
"Sini..ga usah dekat-dekat padanya. Nanti kamu tetanus" Ibu sudah menarik Bee ke sofa di seberang Bintang, dan memapah untuk duduk bersamanya. Diam.
Ibu menatap lekat wajah Bee. Seolah mencari sesuatu di wajahnya.
"Cantik.." gumamnya.
"Nama kamu siapa nak?" suara ibu berubah lembut, bahkan Bintang baru pertama kali ini mendengar ibu nya bisa bicara selembut itu.
"Bee.. Bellaetrix Bu" walau masih kentara tapi rasa takut Bee sudah berkurang. Jujur jantung nya tadi hampir berhenti berdetak. Saat dia pikir ibu marah pada nya.
"Apa hubungan mu dengan anak nakal itu? kamu tahu, jika dekat-dekat dengan nya, nama baik mu bisa hancur. Dia itu predator wanita!"
"C'mon Bu, aku ini anak mu!" protes Bintang geli. Itu lah ibunya, selalu blak-blakkan. Kalau memang anaknya tidak benar, maka dia juga tak mau menutupi nya.
"Jangan hiraukan dia. Anggap lalat yang mengaum"
Singa kali Bu mengaum!
Bintang memilih untuk diam. Tak guna berdebat dengan ibu suri. Tak akan menang.
"Katakan padaku, apa hubungan mu dengan dirinya? ingat, ibu paling tidak suka di bohongi"
"Aku..kami.." Bee terbata, menoleh pada Bintang meminta bantuan.
"Ibu, jangan tekan dia. Tidak semua bisa menerima perlakuan tegas ibu" ucap Bintang melindungi Bee.
"Tutup mulut mu. Kau bersiap lah, pak kumis akan datang sebentar lagi bersama putrinya Lilis!"