Sold

Sold
I'm already yours



Gadis itu berhasil memancing amarah Bintang dengan sangat sempurna.


"Itu memang tubuh mu, tapi kau milik ku, si*lan!" amarah Bintang sudah sampai ke ubun-ubun. Terlebih ketika dia sampai tadi dia sempat melihat Elang keluar dari kamar Bee, yang pasti nya menjaga Bee seperti laporan Herman.


Gadis itu hanya diam. Membuang muka seakan tak Sudi melihat Bintang ada satu ruangan dengannya.


"Tak bisa kah sedikit saja kau membuat ku berhenti mengkhawatirkan mu saat jauh dari ku? Kau membuat ku takut, saat mendapat kabar kau terjatuh dari pohon sialan itu dan tak sadarkan diri!"


Sorot mata pria itu mampu mengirimkan rasa takut di hati Bee. Namun gadis pembangkang itu tak ingin memberi kepuasan pada Bintang untuk mengetahui rasa takut yang dia rasakan. Dengan ketenangan yang di buat-buat dia menantang pria itu untuk bersiteru dengan nya.


"Apa urusan lu, gue akan tetap melakukan apa pun yang gue suka. Atau bila perlu, besok gue akan melompat dari tebing, bukan..di sekitar sini ga ada tebing...gue bakal lompat dari gedung sekolah gue yang lama!" pekiknya setelah berfikir lama.


Benar-benar gadis itu sudah mengukur batas kesabaran nya. Tubuhnya lelah berhari-hari bekerja, dengan tujuan pekerjaan cepat selesai agar bisa kembali ke sisi gadis itu, tapi yang di khawatir kan justru membuat nya semakin marah, hingga ingin mencekik leher gadis itu.


"Jangan pernah coba berfikir melakukan hal itu Bellaetrix Elaina, bahkan sampai ke neraka sekali pun, gue bakal mengejar lu, mencekik leher lu sekalian!"


"Dasar sinting, emang kalau udah di neraka, lu bisa cekik gue lagi? bego!" umpatnya.


Sekali lagi, Bintang mengacak rambut nya, hingga sudah tak karuan lagi. Kali ini dia tak membalas. Jangan kan menang, seri aja dengan gadis labil itu susah.


Orang waras lebih baik ngalah!


"Apa kaki mu masih sakit?" tanya nya mendekat, menyentuh pergelangan kakinya yang kini di perban.


"Ga usah pegang. Tangan lu bawa sial, ntar kaki gue makin parah lagi" ucap nya mendelik.


Ya Tuhan..sabar kan hamba..kalau bukan karena gue terlanjur cinta sama gadis ini, beneran deh gue karungin, gue hanyut kan ke sungai Siak sekalian!


"Lapar ga? makan ya? kelamaan tidur, sampai jam segini belum makan" kini suara Bintang benar-benar lembut, terdengar begitu halus di telinga.


Setelah dipikirkannya, taktik mendapatkan gadis ini, bukan dengan kekerasan, karena dia sudah keras kepala. Bintang akan memulai dengan metode pendekatan dengan cara lembut. Walau pun bukan dia banget!


"Ngapain lu nanya-nanya. Udah, lu keluar aja! gue empet liat muka lo!"


"Gue nanya baik-baik, karena gue perhatian sama lu. Please deh ga usah kayak anak kecil.. Lu itu udah dewasa!"


"Gue benci sama lu. Pokoknya asal gue lihat wajah lu, gue pengen mati, menyesali hari dimana gue lahir!" ucap Bee menangis.


Sebenarnya dia juga ga mengerti kenapa selalu begitu. Dia selalu tersulut emosi setiap kali melihat Bintang. Padahal dengan orang lain, jangan kan tetangga, yang baru sekali bertemu aja, Bee pasti sopan dan ramah. Tapi pada Bintang?


Dia juga kesal, pria itu pergi tanpa pamit padanya. Setelah malam dia di hukum, Bintang pergi tanpa mengatakan apa pun.


Yang sebenarnya tanpa di sadari gadis itu, dia selalu ingin tahu keberadaan Bintang. Yah..sedikit perduli pada laki-laki itu, walau pun Bee tak mau mengakui nya.


Bintang keluar dengan membanting pintu kamar itu. Meminta tante Di, untuk membantu Bee makan.


"Tante, Elang pulang jam berapa tadi?"


"Pagi.."


"Tan.." susul nya saat wanita itu hanya diam, menambah kuah sayur ke piring Bee.


Hufff..hembusan nafas yang di lakukan Tante Di, menandakan dia malas untuk membahas masalah Elang. Tapi saat melihat wajah Bee yang masih menunggu, dia tak punya pilihan lain. "Dia ga nitip pesan..dia pergi setelah berbicara dengan papa mu"


"Apa papa memarahi nya tan?apa papa mengusirnya?" desak Bee penasaran.


"Sudah lah Bee. Kamu harus jaga jarak dengan Elang. Ingat kamu itu akan menikah sama Bintang. Jangan cari masalah lagi. Kasihan papa kamu" sungut tante Di.


Dia sebenarnya merasa sedih dengan nasib keponakan nya. Ini semua salah Hutomo. Tapi nasi sudah jadi bubur. Bintang sudah menekankan pada mereka, bahwa selangkah pun tak akan mundur untuk menikahi Bee.


Dan selama Elang masih beredar di sekitar Bee, gadis itu akan semakin berharap akan terlepas dari pernikahan itu, yang nyata-nyata nya mustahil.


"Tante..aku ga mau nikah sama pria itu. Aku cinta sama Elang tan.." ucap Bee meletakkan botol minumannya di meja samping tempat tidur. Selera makannya hilang sudah.


***


Pagi nya, Bee sudah di izinkan pulang. Bintang tentu saja datang menjemputnya. Suka atau pun tidak, Bee masuk ke mobil pria itu, dengan Herman sebagai supirnya.


Sementara tante Di dan Hutomo satu mobil dan sudah bergerak di depan. Bisa di tebak keadaan di dalam mobil. Bee duduk hingga mepet ke pintu mobil sebelah kiri, sementara Bintang tepat di belakang supir.


Sesaat melirik gadis itu, membuat perasaan nya kembali hangat. Dia tak pernah seperti ini. Bisa bertahan dengan gadis dengan tingkah menyebalkan seperti itu.


"Sini.." Bintang menepuk tempat di dekatnya, agar gadis itu mendekat. Dan tentu saja sia-sia. Bee bahkan memasang earphone, mendengarkan lagu dari ponselnya. Tak ingin mengalah, Bintang yang mendekati gadis itu.


Lengan kekarnya di sampirkan ke bahu Bee hingga membuat gadis itu terkejut. Bee berusaha mendorong, tapi tenaga nya bukan tandingan untuk Bintang. Dengan cuek, di lepas salah satu penutup telinga Bee, dan memasangnya di telinga nya sendiri ikut mendengar kan lagu To the Bone nya Pamungkas yang baru di putar.


"Kalau Kamu ga mau mendekat, biar aku yang datang. Dengar Bee, aku benar-benar menyukaimu. Setiap penolakan dari mu, sedikitpun tak membuat ku untuk menyerah. Kamu milik ku" Bibir Bintang sudah menutup aksi protes gadis itu. Hanya tatapan melotot sebagai aksi protes.


Tapi nyatanya, pikiran yang menolak serangan Bintang itu, tidak sinkron dengan sambutan tubuhnya. Untuk kesekian kalinya Bee terbuai oleh ciuman panas pria itu. Ingin lagi, dan terus. Bahkan kali ini, Bee dengan mudahnya membuka mulutnya, agar lidah Bintang bisa membelai lidah Bee dengan lembut. Menghisap dengan begitu menggoda hingga membuat Bee terlena. Tangan Bee sudah di genggam Bintang, di bawa pria itu untuk di letakkan di dadanya. Agar Bee bisa mendengarkan detak jantung Bintang yang hanya berdegub untuk Bellaetrix Elaina seorang..


*Take me home, I'm fallin'


Love me long, I'm rollin'


Losing control, body and soul


Mind too for sure, I'm already yours..


Walk you down, I'm all in


Hold you tight, you call and


I'll take control your body and soul


Mind too for sure, I'm already yours*..