Sold

Sold
Duel



Setiap Bulan pada awal Minggu pertama, kedua anak Bu Salma akan datang ke rumah wanita itu untuk berkunjung. Piter sudah membujuk Kinan untuk tidak perlu datang, tapi Kinan menolak. Dia tidak ingin membuat mertuanya kecewa padanya.


"Ayo lah Nan, kau tahu sendiri aku malas ketemu sama Bintang"


"Ga Ter. Lagian ya itu abang mu, masa iya kamu itu aneh, masa iya sama saudara sendiri musuhan?"


"Aku ga suka aja dia semena-mena marahi istri aku"


Jengah mendengar alasan Piter, Kinan hanya memutar bola matanya ke arah Piter dan segera berlalu pergi.


Di sisi lain, di rumah Bintang Danendra pun, tuan rumah pun menolak untuk pergi. Tapi sama saja, apa pun yang di katakan untuk menjadi alasan, tidak bisa membantah perintah permaisuri nya.


Disinilah keduanya, duduk berjauhan di ruang tamu. "Ada yang aneh dari dua makhluk di depan, apa yang terjadi pada mereka?" tanya ibu pada kedua menantu nya yang sedang menata makanan di meja makan.


"Biasa Bu pada kompakan ngeluarin ego masing-masing" ucap Kinan menggelengkan kepalanya.


"Memang nya ada masalah apa mereka?"


Bee pun menceritakan permasalahan yang terjadi hingga membuat Danendra bersaudara itu saling gontok-gontokan. Ibu yang mendengar penuturan Bee ikut marah pada gadis itu. "Kamu juga salah Bee, kenapa sampai membahayakan keselamatan mu dan anak yang ada di dalam kandungan mu? wajar kalau Bintang marah"


Haduh, gen Danendra ini memang suka nya meledak-ledak kalau sedang marah. Bee hanya bisa diam saat mertuanya menasehati nya.


"Ibu harap kedepannya kau bijak Bee. Perlu peduli pada sesama tapi jangan sampai membahayakan diri sendiri" Bee hanya mengangguk paham.


Sementara di depan sana, kedua pria keras kepala itu masih saling diam. "Om Pitel kenapa ga ngomongan sama papa aga?" tegur Saga yang sejak tadi memperhatikan keduanya saling bisu.


"Kita lagi main lomba diam paling lama, yang menang boleh jitak kepala yang kalah" ucap Piter mencubit pipi chubby itu.


"Olang besal aneh-aneh keljaannya" Saga pun berlari ke arah nenek nya yang datang dari arah dapur.


"Kalian berdua, bisa tidak hentikan kegilaan kalian ini? kalian udah tua, ga usah bertingkah kayak anak kecil" hardik Bu Salma duduk di depan mereka. Saga, si wakil ibusuri duduk di samping nya.


Karena keduanya tetap memilih tidak mau bicara, maka bu Salma mengeluarkan ikat pinggang pusaka. Keduanya terperanjat.


"Bu, kenapa ikat pinggang itu harus di keluarkan?" ucap Piter menatap kearah Bintang nanar. Bukan karena rasa sakit yang di timbulkan, tapi karena ikat pinggang itu adalah milik ayah mereka. Benda sakral yang jika di keluarkan ibu nya pertanda wanita itu marah dan kecewa pada keduanya.


"Kalian memilih untuk bernostalgia dengan sentuhan ayah kalian kan, dari pada mendengarkan perkataan ibu?" Keduanya menunduk.


"Ibu tahu kamu mengkhawatirkan istri mu, tang. Tapi sebagai anak yang paling besar, harus kau bisa bersikap bijak. Menasehati Bee saja sudah cukup tidak perlu harus memarahi adik ipar mu" ujar Ibu. Tapi Bintang tampak nya masih tidak terima.


"Aku hanya memintanya untuk menjauhi istri ku"


"Apa lo gila, mereka temenan, ipar juga dan udah sering jalan bareng, tapi gada kejadian apa-apa kan? ini semua pure insiden, bukan salah Kinan" bantah Piter tidak suka istrinya dianggap bersalah.


"Sama aja. Kalau hari itu istri lo ga ngajak Bee keluar, Bee tidak akan dalam bahaya"


Kedua nya masih saling adu argumen, sama-sama merasa benar dan tidak terima jika istri masing-masing dipersalahkan.


"Udah dong kak, jangan ribut lagi" pinta Bee yang masuk bersama Kinan.


"Kita pulang. Ga usah lagi berurusan dengan mereka" pinta Piter.


"B*ngke, lo pikir gue takut sama lo? jangan lo pikir karena lo yang paling tua, gue bakal takut"


"Jadi mau lo apa?" amarah Bintang mulai naik.


"Mau lo yang apa?" Piter mulai menggulung lengan kemejanya.


Yang membuat para istri heran, mertua mereka begitu anteng menyaksikan adu argumen anak-anaknya sementara mereka sudah panik akan terjadi perkelahian.


"Maju lo" bentak Bintang. Keduanya sudah mulai pasang kuda-kuda siap memenuhi hasrat mereka yang ingin saling hajar.


"Udah kak, aku mohon" pinta Bee panik. Tapi harga diri keduanya lebih dari itu. Satu pukulan di perut Bintang di berikan Piter, di balas dengan pukulan Bintang mengenai wajah Piter.


"Kakak..." Jerit Bee panik bercampur khawatir. Rasa sakit di perut tiba-tiba menerjangnya. Dia yakin kalau akan tiba saat nya dirinya akan melahirkan, dan mungkin ini saat nya.


Masih menikmati adu jotos mereka, tidak satu pun yang memperhatikan Bee yang sudah merosot ke kursi. "Bee, nak...kau ga papa?" ibu bergerak dari duduknya mendekati Bee begitu pun Kinan yang sejak tadi memperhatikan kedua pria itu saling coba melayangkan tinju.


"Kayak nya aku mau lahiran Bu"


"Berhenti kalian berdua! Bintang istri mu sudah mau melahirkan ini" teriak ibu geram.


Mendengar jeritan ibu, abang beradik itu refleks berhenti, berlari ke arah Bee yang merintih kesakitan.


"Sayang...kamu ga papa?"


"Berantam aja terus sana, ga usah perdulikan aku" jerit Bee menahan sakit sekaligus rasa kesalnya.


"Maaf sayang.."


"Kau baik-baik aja kakak ipar? mana yang sakit?" Piter ikut panik.


"Ga usah perdulikan aku. Kalian lanjutkan saja acara baku hantam nya" salak Bee setiap rasa sakit nya datang menyerang.


Malam itu kedua abang beradik itu berdamai di rumah sakit, sesaat setelah Bee melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.


"Selamat, lo hebat. Udah punya anak cowok dan cewek" ucap Piter menyalami Bintang. Uluran tangan Piter menggantung di udara. Lama Bintang melihat uluran tangan itu, lalu mendongak melihat wajah si pemiliknya nya.


Bintang memang tidak menerima uluran tangan tanda ucapan selamat dari adiknya, tapi pria itu justru memeluk tubuh Piter, menepuk punggung nya. "Maafin gue, kalau udah nyakitin perasaan lo. Benar kata ibu, sebagai anak tertua harusnya gue bisa lebih bijak"


"Gue juga minta maaf bang"


"Akhirnya kalian sadar juga. Hampir ibu menghapus nama kalian dari daftar ahli waris" ucap ibu yang duduk diantara mereka berdua. Kinan sedang menemani Bee di dalam ruangan. Proses bersalin itu termasuk cepat. Ketika tiba di rumah sakit, Bee sudah masuk bukaan lima.


"Maaf kan kami bu. Terimakasih sudah menjadi ibu yang luar biasa untuk kami. Aku tahu ibu tadi diam, membiarkan kami saling baku hantam agar kami tahu, jika salah satu diantara kami pun menang, itu sama saja dengan kalah, karena pada dasarnya kami adalah satu. Sama hal nya mengoyak baju di badan sendiri, menang jadi arang, kalah jadi abu" ucap Bintang tersenyum getir.


Piter menepuk-nepuk punggung Bintang, tanda setuju akan ucapan saudaranya.


*Terimakasih sudah mampir, nunggu aku up, kuy mampir di sini🙏