Sold

Sold
Kepalsuan Hana



"Kenapa kau senyum-senyum? apa tadi Pino menerjang begitu hebat hingga salah satu saraf istri hamba jadi lari?" ucap Bintang seolah pada diri nya sendiri. Bee menghadiahi nya satu cubitan di perut.


"Jadi kenapa? kok senyum-senyum?" susul Bintang.


"Ga papa. Aku cuma merasa damai aja kalau udah dipeluk begini" Bee semakin mengeratkan pelukannya tangan Bintang.


"Tapi kamu belum dimaafkan" ujar nya memberi lebel pada benda kenyal kesukaan nya dengan genggaman tangan nya.


Susah payah Bee melonggarkan dekapan Bintang agar bisa berbalik menatap rahang tegas suaminya yang terpejam. Jari-jari lentik Bee menelusuri setiap jengkal wajah Bintang. Dorongan untuk mencium pipi Bintang membuat Bee bangkit yang membuat bola mata Bintang terbuka untuk nya.


"I love you" bisik Bee sepenuh hati. Dia tidak tahu kenapa harus berkata seperti itu, tapi hatinya memang ingin.


"Love you more" Bintang pun menarik leher Bee agar bisa memagut bibir mungil itu.


"Jangan pernah tinggalkan aku, jangan pernah menduakan aku" perasaan sensitif nya membuat air mata mengalir di pipinya.


"Apa ini? kenapa menangis?"


Bee tidak langsung menjawab. Perlu jeda untuk menguasai diri. Mengehentikan laju tangisnya agar apa yang akan dia ucapkan bisa di pahami Bintang. "Aku ingin mempercayaimu. Bukan..aku mempercayai mu, tapi hati ku tetap ingin bertanya" Bee diam, kalau tadi saat bicara dia menatap dagu Bintang, kini dia memberanikan diri menatap matanya.


"Waktu kakak ke kamar Hana, kakak bilang bantu dia ambil kalung ibu nya.."


"Memang begitu"


Selimut yang tadi menutupi bagian atas tubuh Bee terjatuh saat gadis itu duduk di hadapan Bintang yang menopang kepalanya dengan lengan.


"Tapi Hana bilang kakak bantu dia benerin keran air?" tatapan serius mematri wajah Bintang.


"Benerin keran air gimana, dia minta aku ngambil gelang nya yang jatuh dalam lobang saluran air di wastafel kok"


Kedua nya diam, memikirkan hal yang mungkin sepikiran. Bintang ikut duduk. Mungkin ini sudah saat nya Bee tahu siapa Hana. Setidaknya biar istrinya itu bisa memutuskan walau perlahan.


"Dengar sayang, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Kau percaya padaku?"


Bee mengangguk cepat. "Lebih dari siapa pun, bahkan diriku" Bintang membelai puncak kepala Bee terbaru.


"Hana bukan lah gadis yang sebaik kau pikir. Dia punya niat tidak baik sayang. Dia..dia.. menginginkan ku"


Kerutan di kening Bee bisa di pahami Bintang. Apa lagi kabar ini pasti tidak mudah di terima Bee yang selama ini percaya pada Hana dan menganggap nya sebagai teman.


"Hana beberapa kali mendekatiku, bahkan mengungkapkan niatnya untuk menjadi istriku, dengan alasan agar bisa mengurus anak-anak karena kau terlalu sibuk bekerja" Bintang masih menggenggam tangan istrinya. Berharap Bee tidak akan menjadi depresi karena di tikam dari belakang.


"Hana ga mungkin begitu kak.." ucap nya lirih tapi dia sendiri pun tidak yakin dengan pembelaan nya. Dia masih ingat bagaimana sikap Hana yang mencoba mempermalukan nya di hadapan ibu dan semua tempo hari.


Mulut Bee menganga. Sungguh ini yang di sebut duri dalam daging. Sebegitu percayanya dia pada Hana. Bahkan saat awal-awal dia bertengkar dengan Bintang, Hana datang menemui nya, bersikap perduli dan bertanya ada masalah apa. Mengapa malam itu Bee menghabiskan malam di kamar Saga, bukan di kamarnya.


Penuh percaya, Bee menceritakan semua masalahnya dengan Bintang. Bahkan Hana menasehati nya untuk memberikan waktu bagi Bintang untuk menenangkan diri. Setelahnya baru menjelaskan pada Bintang bahwa ibu rumah tangga juga bisa menjadi wanita karir, mengamalkan segala ilmu yang di dapat agar bisa membantu banyak orang.


Pemikiran Hana yang terbuka membuat Bee merasa segaris dengan dirinya, bisa memahami keinginan dan impiannya.


Namun kini mendengar semua penjelasan Bintang, membuat nya geram pada gadis itu. Seenaknya ingin masuk dalam rumah tangganya.


"Lalu ibu bilang apa kak?"


"Kau tahu ibu. Awalnya ibu tidak setuju dan mengatakan kau pasti bisa membagi waktu. Tapi saat Hana bilang kau akan terjun ke dunia hiburan lagi, ibu marah"


"Tapi kenapa kak? apa salahnya? aku hanya membintangi iklan saja, dan itu juga dengan Saga. Ini juga sebagai iklan layanan dari pemerintah"


"Sini.." Bintang menarik tubuh Bee untuk di dudukkan di pangkuannya. "Ibu takut kalau kau akan meninggalkan kami lagi, seperti waktu itu karena berhubungan dengan.. "


"Elang?" sambung Bee menebak. Dia tahu suaminya itu enggan untuk menyebutkan nama Elang. Bintang mengangguk sembari mendengus.


"Kenapa sih kalian ga percaya sama ku. Aku memang pernah menyukai Elang. Bahkan sampai nalar ku tertutup, tapi asal kakak tahu, saat kita berpisah pun, aku juga sudah tida bersama nya lagi"


"Ibu melihat konferensi pers yang mengatakan kau bertunangan dengan nya"


"Aku sudah meminta perpisahan. Tapi Elang tidak mau, bahkan dia hampir memperk*sa ku, untung aku bisa kabur dari apartemen nya" ucap Bee terisak. Kenangan buruk itu kembali di pugar Karen masalah ini.


"Apa? dia melakukan apa?" geram Bintang memegang kedua lengan Bee, memaksa wanita itu untuk melihatnya.


"Tidak sempat kak, aku memukulnya dengan botol minuman dan akhirnya bisa kabur. Tapi dia menuntut ku, untung nya ada Kia yang menolong, memberi ancaman pada Elang hingga pria itu mau melepaskan ku" tangis Bee tidak terbendung. Rasa sakit dan kecewa pada orang yang sudah tidak mempercayai nya membuat nya hancur.


Tidak ada yang tahu bagaimana dia melalui semua penderitaan itu seorang diri, kini dia justru di ragukan kesetiaannya.


"Sudah sayang, jangan menangis lagi" bisik Bintang menenangkan. Namun amarahnya yang dia simpan untuk Elang karena sudah memperlakukan Bee seperti itu akan tetap dia perhitungkan.


"Kau juga meragukan ketulusan ku padamu?" ucap nya menyeka air matanya dengan tangan. Bintang menangkup kedua sisi wajah Bee, menatap dalam pada manik mata yang tengah menggambarkan luka.


"Aku percaya padamu. Bahkan, kalau pun kau hanya mencintai ku setengah dari yang ku rasakan padamu, maka aku tetap akan mempercayai mu. Sudah, jangan menangis lagi, yang perlu kita lakukan sekarang, bagaimana menjebak Hana agar mau menunjukkan wajah asli nya"


Bee terdiam. Jika benar Hana memang ingin menyingkirkan nya dengan mengadu domba dirinya dan Bintang, maka Hana mencari lawan yang salah.


"Kalau benar dia punya niat busuk, aku akan mencekiknya, menjambak bahkan mengulitinya" desis Bee, persis seperti pemeran antagonis di sinetron azab, Bintang bergidik menatap istrinya dengan senyum di sudut bibirnya.