
"Han, kamu kenapa diam? kak Bintang tadi ke kamar mu ngapain?" Bee menghentikan kegiatan mengiris wortel. Dia bahkan sudah malas untuk melanjutkan kegiatan memasak itu.
"Bintang hanya membantuku membetulkan keran air yang mampet di kamar mandi" ucap nya santai. Bee terus menatap wajah Hana. Hati nya semakin terluka kala melihat wajah gadis itu begitu serius mengatakan hal itu yang menandakan dia jujur. Lalu kenapa alasan mereka berbeda? siapa yang jujur dan yang bohong diantara mereka? luka itu semakin menganga kala Bee merasa di permainkan.
Satu detik..dua detik Bee termangu menatap wajah Hana, lalu memilih untuk membalik badan menghadap talenan dan mulai melanjutkan kerjaan nya. Membelakangi Hana agar tidak melihat tetesan bening yang mengancam untuk keluar.
"Ya udah Bee, aku lihat anak-anak dulu ya" Hana pergi, bersamaan dengan tetesan air mata Bee yang jatuh. Dengan kesal di letakkan nya dengan kasar pisau yang tadi dia genggam erat.
Makan malam yang di hidang kan pelayan malam itu semua tampak nikmat. Tapi tidak satu pun yang bisa menggugah selera Bee. Rengekan Saga yang mengantuk menjadi satu alasan yang tepat untuk nya meninggalkan meja makan. Di sana, baik Bintang atau pun Hana tampak tidak punya beban, keduanya asik menyantap hidangan itu.
Satu hal yang Bee sadar, Bintang juga sudah berubah. Biasanya dia akan perhatian jika Bee tidak bernafsu untuk menghabiskan makanannya, dengan sigap Bintang pasti akan menyuapi nya. Kali ini bahkan menolak pun tidak.
Tertatih Bee berjalan menggendong Saga menaiki tangga. Dia berharap pada langkah pertamanya Bintang akan mendatangi nya untuk mengambil Saga dan menggendong ke kamar, tapi itu hanya dalam harapan Bee. Di kamar Saga, menangis sesenggukan hingga tidak sadar ikut tertidur di samping Saga.
Saat azan subuh berkumandang, Bee terbangun dan baru menyadari kalau dirinya masih berada di kamar Saga. Hati kembali seperti di hantam hingga ke dasar bumi. Bintang tidak mencarinya sama sekali. Apa benar pria itu sudah tidak perduli padanya? apa karena Hana? apa mungkin diantara mereka ada hubungan?
Pemikiran-pemikiran beracun itu nyata nya berhasil membuat hati nya kacau. Dia takut kehilangan Bintang. Takut membuangnya dan memilih Hana. Oh Tuhan..jangan sampai hal itu terjadi. Bee tidak akan sanggup melanjutkan hidupnya.
Dia tengah menimbang apakah lebih baik dia kembali ke kamar itu atau tetap berada di sini hingga pagi. Lalu besok dia akan bersikap seperti apa? merajuk, marah atau mendiami Bintang karena sudah tidak memperdulikan nya?"
***
Akibat terbangun saat subuh, Bee jadi terlambat bangun. Dia terjaga dari tidurnya pukul setengah tujuh pagi. Bergegas mengikat rambutnya sembari berjalan menuju dapur. Tapi langkah nya terhenti saat di meja makan sudah duduk Bintang yang sudah rapi tengah menikmati sarapan paginya. Dan coba tebak, Hana duduk di samping nya menemani Bintang sarapan.
"Kak..kau udah sarapan? bekal mu aku siapkan dulu ya" ucap nya berbalik. Tapi langkah nya terhenti saat suara Hana terdengar. "Ga usah Bee, aku udah siapkan bekal untuk Bintang. Nih" tunjuk nya tas kecil tempat box makan siang Bintang. Bee hanya bisa meremat gaun nya.
"Aku pergi" ucap Bintang yang tidak tahu pada siapa. Bee hanya bisa menatap nanar punggung yang begitu dia rindukan itu memeluk tubuhku nya.
"Aku juga udah siap sarapan. Mau lihat si kembar" ucap Hana menghabiskan tehnya. Haruskah Bee berteriak menumpahkan isi hatinya? kenapa dunia nya menjadi kacau begini?
Pagi ini diawali nya dengan meneteskan air mata lagi. Belakangan ini seolah air matanya di produksi terlalu banyak hingga sering kali turun.
Bee memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan masalah sikap Bintang yang dingin padanya saat ini. "Mungkin kak Bintang masih kesal padaku. Aku yakin dia akan memaafkan ku nanti dan kembali bersikap lembut dan penuh kehangatan padaku" cicitnya menghapus jejak air matanya. Kini dia ada di kantor, duduk termenung menatap photo dirinya dan Bintang saat Bee wisuda.
Hari ini alam sedang mengerti dengan kesedihan hatinya. Pasien hanya ada tiga orang yang datang hingga pukul tiga sore jadi Bee punya waktu untuk melamun dan memikirkan Bintang.
"Bee, ini aku Rio, hari ini jadi kan kita pemotretan untuk iklan susu anak itu?"
"Oh, iya mas Rio. Jadi, aku segera ke studio" ucap Bee dan segera mengakhiri telepon. Hampir saja dia lupa akan jadwal pemotretan.
Sebelum ke studio, Bee mampir dulu ke rumah untuk menjemput Saga karena yang akan menjadi model anak nya adalah Saga.
"Mir, aku udah di depan, kamu siap-siap ya bawa Saga" ucap Bee lewat telepon. Untuk menghemat waktu, Bee tidak turun dari mobil, hanya menunggu di depan gerbang.
Pemotretan itu berlangsung dua jam saja. Saga begitu senang melakukannya hingga tidak perlu mengulang beberapa kali.
"Makasih ya Bee, Saga hebat deh" ucap Rio mengajak Saga tos.
"Sama-sama mas. Untuk jadwal syuting nya kapan mas?"
"Kalau ini udah kelar, kayak nya bisa langsung lanjut besok" terang Rio yang diangguk paham oleh Bee.
Sejak tadi Bee tidak hentinya melirik jam di pergelangan tangannya. Harapannya tadi dia bisa sampai di rumah sebelum Bintang pulang dari kantor, tapi macet yang tidak ada habis nya ini dipastikan akan membuatnya terlambat sampai di rumah. Dan pastinya Bintang sudah lebih dulu tiba. Bee hanya bisa pasrah jika Bintang nanti akan memarahinya lagi, karena tidak tepat janji untuk berada di rumah sebelum Bintang pulang kerja.
Saat memasuki halaman, mobil Bintang sudah ada di sana. Sebelum membuka pintu mobil, Bee berdoa dalam hati agar tidak ada pertengkaran diantara mereka lagi hari ini. Bee terlalu lelah untuk menyambut pertengkaran yang mungkin akan Bintang hadirkan.
Masih ada di ambang pintu, Hana sudah menyambut mereka. "Kamu dari mana sih Bee? Bintang marah loh kamu tidak di rumah pas dia pulang tadi"
"Apa kata kak Bintang Han?" ucap nya was-was. Sikap Bintang yang sudah tidak perduli padanya lagi itu, tidak menutup kemungkinan pria itu juga akan main tangan memukulnya. Namanya juga sudah tidak sayang..
"Entah lah, dia cuma ngomel yang ga jelas ku dengar. Aku hanya bisa menangkap dia bilang, maaf..kamu bukan istri yang baik"
Mendengar itu Bee hanya bisa menunduk sedih sementara Hana tersenyum gembira dalam hati nya. "Si kembar udah makan Han?"
"Sudah..udah makan, mandi dan itu lagi pada tidur" sahut Hana tersenyum.
"Oh..iya. Makasih Han. Aku masuk dulu ya" ucap nya melangkah menemui sang penguasa yang akan menghukumnya.