
Jauh dari Bee, Bintang mulai melanjutkan hidupnya. Fokus dengan kerjaan, dan juga gadis-gadis yang menawarkan diri padanya.
Bedanya hanya, kini Bintang tak pernah lagi berkencan hingga sampai ke tempat tidur. Dia pria normal, dan butuh pelepasan. Untuk itu, dia hanya dibantu oleh mulut wanita yang menggilainya.
Sedikit aneh memang. Seperti malam ini. Riska yang tengah mengusap mulutnya, belepotan penuh amunisi yang ditembakkan Bintang beberapa menit lalu.
Gadis itu memandangi tubuh setengah telanjang pria itu, yang tengah duduk di sofa. Wajahnya menengadah ke langit-langit hotel. Setelah sekian lama, Riska mampu membuatnya rileks.
"Tang, kenapa harus di mulut? gue kangen sama lu, kangen sama ini ada di dalam milik gue" bisik Riska dengan suara sensualnya, memegang senjata Bintang yang masih mengacung tegak, sehabis mengeluarkan timah panasnya.
"Lain kali Ris. Untuk malam ini cukup.Lu bisa pulang sekarang. Tinggalin gue sendiri, ucap Bintang tanpa melihat wajah gadis itu. Masih terpejam, dengan wajah gadis lain di pelupuk matanya.
"Gue ga mau. Gue mau disini sama elu, boleh ya?" bujuk nya. Dia akan malu jika orang tahu dia tidak menghabiskan malam dengan Bintang. Ini semacam kehormatan bagi model-model yang bermimpi bisa berbagi tempat tidur bersama Bintang.
Well..tak mengapa jika malam ini dia tidak di pake oleh Bintang, tapi setidaknya kalau dia bisa bermalam di sini, Riska bisa mewartakan pada teman-temannya bahwa dia berkencan dengan Bintang Danendra.
"Gue mau sendiri, please jangan buat gue marah elu!" bentak Bintang, bangkit mengambil boxer nya. Setelah di pakai berjalan ke arah tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya di kasur dengan posisi telungkup.
"Gue ga akan ganggu kok. Gue juga mau tidur aja. Ga bakal ganggu lu. Boleh ya gue ikut tidur di sebelah lu, tang?" bujuk nya ikut mendekat di tempat tidur.
"Terserah!"
Malam itu dengan wanita lain di sisinya, Bintang menjelajah mimpinya dengan wanita yang begitu dia rindukan.
***
Seminggu sudah Bee kembali ke Jakarta bersama tante Di. Kembali ke rutinitas nya. Dia sudah kelas tiga, harus lebih serius dalam belajarnya.
Kalau biasanya dia mengikuti kelas bimbel tiga kali seminggu, tante Di mendaftarkan nya untuk bimbingan tiap hari. Agar nilai Ujian akhirnya nanti bisa bagus.
"Ke kantin yuk, gue lapar" ajak Kiki menarik tangan Bee.
"Gue bawa bekal Ki, mana boleh gue makan sembarangan" Bee meletakkan kepala di meja dengan lengan sebagai alasnya.
"Emang lu ada show lagi dalam waktu dekat ini?" hanya anggukan malas sebagai jawaban.
"Temani gue dong.. please.." Bee mengeluarkan tempat bekal miliknya yang sudah di siapkan tante Di tadi pagi.
"Kuy lah.." ucapnya berjalan mendahului Kiki.
Kantin seperti biasa padat, penuh manusia yang kelaparan. "Lu ngerasa ga kalau Jessi ngeliat lu kayak mau nelan lu hidup-hidup?" ucap Kiki menyikut Bee agar ikut memperhatikan objek yang sedang mereka bahas.
"Kenapa gitu?" sahutnya cuek. Memasukkan potongan buah dan salah dengan mayones rendah kalori buatan tante Di.
"Ya mungkin dia kesal. Yang duluan terjun ke dunia model kan dia. Artis sekolah ini kan dia, tapi semenjak lu masuk agensi, dan di pakai kak Seba, dia jadi sebel sama lu" terang Kiki masih melihat ke arah Jessi yang juga masih melotot sini ke arah mereka.
"Udah Ki, cuekin aja. Buruan habisin makanan lu, biar balik ke kelas"
"Gue enek tahu ga, lihat kalian. Pacaran bukan, tapi lengket banget. Lu juga kak, ngapain jemput dia, kan gue gada tema buat pulang" salak Kiki kesal.
"Makanya lu cari cowok!" ucap Kia yang di sikut Bee, tak tega melihat wajah muram Kiki.
"Jadi gimana dong? ga mungkin pulang tarik tiga kan?ntar di kira kita cabe-cabean plus terong lagi" sambar Bee menengahi pertikaian.
"Udah, gue pulang sendiri. Gue mau singgah ke mall, ada yang mau gue beli" balas Kiki, mencium pipi Bee dan berlalu pergi.
"Bener nih ga papa?" kejar Bee hingga langkah Kiki berhenti.
"Iya, bawel. Tapi besok jatah lu sama gue!" bentak nya lebih menunjukkan kepada kakaknya yang mengejek dengan menjulurkan lidah.
"Udah kalian pergi duluan sana. Kesal gue sama lu pada!" sambung Kiki.
Masih memandang laju motor Kia, hingga menghilang di simpang empat.
"Hidup gue miris amat ya. Punya kakak satu ga ada sayang-sayang nya sama gue! punya sahabat satu, diembat kakak gue yang ga ada perduli nya sama gue!" cicit nya berjalan.
Taxi online yang membawa Kiki ke salah satu mall, berhenti tepat di depan pintu mall. Dia ingin melampiaskan kekesalannya dengan makan banyak hari ini. Rute nya di mulai dari resto cepat saji.
Selain lapar, Kiki juga tak ingin terlalu lama mengantri, hingga dia berlari masuk ke dalam mall. Sayup-sayup seolah ada yang memanggil dan berlari ke arahnya, tapi karena merasa tidak punya teman selain Bee, dia cuek, dengan anggapan tidak mungkin orang yang di panggil adalah dirinya.
Kini mendapat antrian ke lima, dan setelah tiba gilirannya, dia memesan banyak varian menu. Ayam satu bucket, burger kentang goreng, chicken fillet, float dan juga rice bowl.
"295 ribu rupiah mbak" ucap kasir resto.
Kiki langsung membuka tas nya yang sudah setengah terbuka. Buru-buru berlari setelah turun dari taxi membuat nya lupa mengancing tasnya dengan rapat.
Lama merogoh, dompet berwarna pink dengan model kepala unicorn itu ga ketemu juga. Hingga Kiki jongkok, mengeluarkan secara paksa semua isi tasnya, agar lebih cepat menemukan dompetnya, tapi tidak ada.
"Gimana mbak?" tanya sang kasir lagi.
"Sebentar mbak" ucap nya dari tempatnya berjongkok.
"Ini.." suara pria yang berdiri di hadapannya dengan mengangsurkan benda yang dia kenali sebagai dompetnya membuat Kiki menjulang menengadah ke arah si pria.
Bergegas di masukkan nya semua barang-barang nya ke dalam tas, lalu berdiri.
"Kenapa ada sama elu? jambret lu ya?" salak nya menarik dompet milik nya. Hendak melanjutkan omelan nya, tapi kasir resto yang sedari tadi menunggu, ber dehem meminta kepastian akan pembayaran pesanan Kiki.
Tiga lembar uang merah, diambil dari dalam dompet, lalu menyerahkan pada kasir, setelahnya, Kiki beranjak ke samping, ke antrian pesanan.
Pria yang di tuduh sebagai penjambret itu kini mendapat tatapan sinis nan penuh curiga dari pengunjung lain yang sedang mengantri.
Berbisik-bisik, dengan pandangan penuh curiga pada pria itu. Bahkan emak-emak yang berdiri di dekat nya, spontan memindahkan tas tangannya agar jauh dari jangkauan sang pria tertuduh.