Sold

Sold
Tentang memahami



Setengah jam lalu, pengantin baru yang sudah tidak baru lagi itu meninggalkan aula. Itu pun karena si tuan tidak sabar itu mengancam, akan membubarkan tamu undangan yang menurutnya tidak tahu diri itu karena begitu menikmati acara pesta hingga serasa enggan untuk pulang.


Kini dalam kamar VIP hotel yang sudah di hiasi penuh bunga mawar di setiap sudut sudut ruangan. Begitu indah dan sangat menawan untuk dijadikan tempat beradu keringat nantinya.


Pria tidak sabaran itu sudah setengah jam mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Sesekali dia menempelkan telinganya pada daun pintu, berharap akan mendengar suara dari dalam, nyatanya tidak.


"Yang..masih lama? ngapain sih?" pertanyaan yang sama yang sudah kali keempat dia lontarkan.


"Bentar kak" Sebenarnya apa yang di lakukan Bee di dalam sana yang berhasil membuat Bintang tampak sengsara.


Gadis itu duduk di atas closed, berdiam diri berfikir di iringi suara gemericik air yang mengalir dari keran.


Dia butuh waktu untuk menenangkan diri dan menstabilkan jantungnya. Okey, ini memang bukan yang pertama bagi nya dan bukan dengan orang yang berbeda juga, seharusnya dia akan lebih rileks kan? tapi nyatanya justru jantung nya berdetak kencang. Dia tahu suaminya menunggu di luar sana, bersiap menuntut haknya, tapi jujur Bee belum siap.


Mau melakukannya? mau..bahkan hati kecilnya bilang ingin sekali, tapi tetap saja rasa takut mengalahkan segalanya. Takut apa kah dia bisa memuaskan Bintang malam ini? dulu dia tidak perduli karena dia tidak mencintai Bintang, dan tujuan penyatuan mereka agar dirinya cepat hamil, tapi sekarang? ada yang nama nya cinta diantara mereka.


"Ayo dong yang, udah tengah malam ini, nanti kamu masuk angin kelamaan di kamar mandi" Bintang semakin tidak sabaran. Rasa ingin nya sudah menguasai jiwanya. Dia tidak ingin ada halangan lagi untuk melebur perasaan mereka malam ini. Saga sudah diamankan, dengan senang hati ibu menjaga Saga malam ini.


Crek..


Seraut wajah masam keluar dari balik pintu. Bee bahkan masih menggunakan gaun pernikahannya.


"Ya ampun sayang, di dalam kamu ngapain aja?" Bintang menyongsong kemunculan Bee, memapah gadis itu untuk duduk di tepi tempat tidur.


"Aku..aku..kakak, boleh ga malam ini kita tidur aja?"


Dahi Bintang berkerut. Dia sudah tahu kearah mana tujuan kalimat ini. "Iya kita memang nanti tidur kan?" bersikap pura-pura b*go jurus yang ampuh untuk saat ini.


"Maksud aku, kita ga usah malam pertama-an. Besok-besok aja ya kak" ucap Bee memelas.


"Iya sayang. Ga akan ada malam pertama malam ini. Yang ada malam nerusin" ucap nya santai, membalik tubuh Bee agar membelakangi nya. Tapi Bee menolak dengan membalik tubuhnya kembali.


"Sini aku bantu bukain" Bee pasrah. Biar lah, kini dia sudah jadi istri Bintang. Saat Bintang mengucap janji suci nya tadi, saat itu pula Bee bertekad akan menjadi istri penurut, tidak seperti dulu, karena pernikahan mereka kali ini berlandaskan sama-sama cinta dan ingin memiliki satu dengan yang lain.


Tubuh ramping Bee kini terlepas dari gaun Indan nan berat itu. Bee menunduk malu, segera meraih handuk yang tadi dia genggam dari kamar mandi, menutup tubuhnya dari tatapan kelaparan Bintang.


"Aku mandi dulu kak" Bee sudah berdiri, mengambil kesempatan dari sikap terpanah Bintang.


Tapi kali ini, Bee tidak lama. Hanya sepuluh menit untuk menyelesaikan semua urusan pembersihan di kamar mandi. Dirinya sudah siap untuk melayani suaminya.


Bintang masih di sana. Duduk di tepi tempat tidur, dengan sangat mempesona. Perlahan dia menepuk tempat di sampingnya, sebagai kode agar Bee mendekat.


Gadis penurut itu pun tidak mendekat. Bintang memang sudah lebih dulu membersihkan tubuhnya, begitu semangat untuk memulai pertempuran nikmat yang sudah lama dia impikan.


"Kamu kenapa? kenapa gelisah?" ucap nya memonopoli tubuh Bee, memeluk gadis itu, menciumi ceruk leher yang begitu wangi.


"Eng...ga..sama sekali ga"


"Bee, sekarang kita sudah suami istri, kamu harus terbuka padaku, setiap hal yang mengusik pikiranmu, harus kau katakan pada. Karena aku mungkin bukan pria sempurna atau suami yang pengertian, yang mengerti setiap keinginan mu tanpa harus kau katakan lebih dulu" ucap nya yang terdengar merdu di telinga Bee.


"Dengarkan" Bintang melepas pelukannya, menangkup wajah Bee dan memaksa untuk menatapnya.


"Aku adalah dirimu, begitu pula kau adalah diriku. Kita satu. Kita harus saling terbuka, agar kebahagiaan dan kenyamanan selalu ada dalam rumah tangga kita" ucap nya mencium sekilas bibir mungkin Bee yang terasa dingin. Mungkin karena rasa gugup nya.


Hati Bee menghangat. Apa yang di katakan Bintang benar. Dia memang harus nya tidak perlu takut untuk mengatakan apa yang dia pikirkan.


"Kalau aku minta kita untuk tidak melakukan itu..kau tahu maksud ku, apa kau akan setuju kak?" ucap nya masih menatap mata pria itu.


"Sejak dari dulu, aku hanya menyentuh mu di saat kau menginginkan ku. Aku tidak ingin berc*nta dengan mu di bawah tekanan. Aku ingin apa yang kita lakukan adalah karena kita memang saling cinta dan ingin berbagi hasrat sebagi bentuk cinta kita"


Bee mengerti. Lagi-lagi hati nya berbunga, tidak hentinya mengucap terimakasih karena memiliki suami sepengertian Bintang.


Jadi lah malam itu mereka hanya tidur dengan saling peluk. Bintang memegang janjinya walau tiap kali kulit nya bergesekan dengan kulit mulus Bee, maka di bawah sana akan ikut menegang.


Belaian lembut di punggung Bee membuat tubuh gadis itu meremang. Begitu memuja sentuhan Bintang yang terasa pas di kulitnya.


Wajah cantik nya mendongak. Melihat mata Bintang yang terpejam. Perlahan Bee memanjangkan leher menyentuhkan Bibir nya ke bibir Bintang sekilas. Pria itu masih memejamkan mata. Sekali lagi Bee mengulang aksinya. Entah lah, dia hanya mengikuti kata hatinya, ingin mencium dan di cium pria itu.


Bukan kah sering di dengar makhluk yang paling sering plin plan dalam bertindak adalah wanita? Bee lah yang meminta untuk menunda aksi e*a-e*a mereka, tapi justru kini dirinya ingin menyentuh pria itu.


C*uman kedua sedikit lama menempel pada bibir Bintang, dan berhasil membuka mata pria itu. "C*um aku kak" bisik Bee malu.


"As your wish my Queen"


C*uman tipis itu berubah dalam, hangat dan menjelma menjadi liar. Awal hanya bibir kini seluruh inci kulit Bee merasakan jejak panas bibir dan lidah Bintang. Benar, ini yang dia ingin kan hanya saja, dia malu untuk mengakui dan memulainya.


Hingga pagi pertarungan nikmat itu tidak terelakkan lagi. Rasanya...ah, mantap.