Sold

Sold
Insting seorang ibu



Seminggu berbulan madu, membuat Piter semakin posesif dengan Kinan. Setiap detik ingin selalu mendekap wanita itu.


"Kita ga usah ke rumah mereka aja deh Nan. Mendingan kita di sini, pelukan, ciuman.."


"Cukup ya Ter. Kamu lihat ga sih, aku sampe susah jalan, perih banget. Kamu kok gada puas-puasnya sih?" gerutu Kinan geleng-geleng kepala. Semua hadis yang akan di bagikan untuk keluarga nya sudah dia masukkan ke dalam box besar.


"Memang aku ga pernah puas sama kamu. Pengen lagi, dan lagi..legit banget"


"Makanya pikiran jangan mesum" umpat Kinan menyandang tasnya. "Ayo.."


Piter tidak punya pilihan lain. Selain ingin tetap bermesraan dengan Kinan, sebenarnya Tubun Piter juga sangat lelah. Baru kemarin mereka tiba, dan hari ini Kinan minta untuk mengantar oleh-oleh untuk Bee dan Saga. Sekaligus punya ibu yang saat ini juga ada di rumah mereka.


Suasana ramai, kini bertambah karena kedatangan mereka. Saga berlari menyambut Piter.


Para wanita sudah sibuk membedah isi Du box besar yang di bawa Kinan.


"Lo ga gabung kak, hadiah lo juga ada di sana" ucap Piter duduk disamping Bintang. Pria itu tampak malas, melihat laptopnya tanpa memperhatikan ke sekelilingnya.


"Sibuk amat lo, kerjaan sampe di bawa ke rumah?"


Bukan menjawab, Bintang justru mengendus-endus tubuh Piter, setelah semakin jelas bau yang berasal dari tubuhnya adiknya, Bintang menutup mulutnya, ada dorongan dari dalam perut nya untuk segera memuntahkan isinya.


Semua orang yang ada di sana sontak mengalihkan wajah melihat Piter berlari cepat ke arah wastafel. Samar-samar terdengar suara Bintang yang muntah. Bee yang merasa khawatir mencari tahu dengan melihat Bintang di dapur, namun baru saja di tengah jalan, mereka bertemu di ruang makan.


"Kakak kenapa? kakak sakit?"


"Ga tau sayang. rasanya mual" Bee menggengam tangan suaminya, kembali duduk di tempatnya semula. Baru Bintang sampai di kursinya semula, rasa mual itu kembali menyerang.


"Sana lo. Ini gara-gara lo gue mual" umpat Bintang menjauhi Piter.


"Gila lo bang? kok gue? dari tadi gue jadi anak baik, duduk di sini" protes Piter tidak terima di salahkan.


"Iya tapi parfum lo buat gue mual"


"Dasar sarap suami lo kak, bawa gih ke psikiater"


Bintang ingin mendebat lagi, tapi Bu Salma cepat melerai. "Sini, kau duduk di dekat ibu. Biar ibu oleh kan minyak"


Bintang yang semakin merasa lemas karena sudah memuntahkan banyak sekali isi perutnya menurut apa kata ibu nya. Wanita tua itu tentu memiliki barang-barang kecil yang nyatanya sangat di butuhkan dalam keadaan seperti saat ini.


"Cium, mual mu hilang?" tanya Ibu mengedarkan wangi minyak di bawah lobang hidung Bintang. Aroma terapi yang keluar dari minyak angin itu mampu menenangkan Bintang. Mual nya sudah berkurang, bahkan kini tidak terasa lagi.


Ibu menatap Bintang, lalu bergantian ke arah Bee. Saat melihat mantu nya, Bu Salma tampak menyidik tubuh Bee, lalu sedikit senyum misterius nya terkembang.


"Kau istirahat. Besok, kalian berdua datang ke rumah sakit yang ada di dekat rumah ibu"


"Nurut apa kata ibu" tegas Bu Salma. Bunga di hatinya kini mulai mekar. Jika dugaannya tepat, maka ini akan membawa satu kebahagiaan besar buat keluarga anaknya.


***


Sejak pukul delapan pagi, ibu sudah mulai menghubungi mereka, mengingatkan untuk datang ke rumah sakit.


"Sore deh Bu, aku ada kerjaan. Ada meeting di kantor" ucap Bintang meletakkan tas kerjanya di kursi yang ada di dekatnya dan mulai melahap nasi goreng yang di siapkan Bee untuk nya.


"Kau kan bisa suruh si Riko" protes ibu tidak ingin dibantah.


"Ga bisa bu. Ini meeting dengan klien penting"


"Ya sudah, kalau begitu ibu tunggu kalian di sana sore nanti"


Bintang baru saja ingin protes lagi, tapi sambungan sudah di putus sepihak. Bintang heran, kenapa ibu nya ngotot ingin mereka periksa padahal dia baik-baik saja. Buktikan ***** makannya sangat baik. Dia ingi melahap semua menu yang tersaji, tapi baru dua sendok, kembali rasa mual menerjang dan Bintang kembali lari ke wastafel terdekat, memuntahkan makanan yang baru saja dia santap.


Bahkan untuk memuntahkan nya sangat sulit, tenggorokan nya seperti tercekat. Bahkan air matanya mengembang di sudut mata.


Bee dengan sabar memijit tengkuk Bintang yang tubuh nya kini merosot ke lantai dengan tangan masih menjuntai di mencengkram sisi wastafel.


"Kak, kayak nya kamu memang harus ke dokter. Aku khawatir banget sama kamu kak. Udah beberapa hari ini kamu mual terus. Bahkan semakin parah dalam dua hari ini"


"Aku ga papa sayang. Aku baik-baik aja. Mungkin hanya masuk angin. Kau tidak ingat, hampir tiap malam kita melakukannya. Bahkan belakangan ini justru kau sangat agresif"


Bee manyun. Ucapan Bintang seolah mengatakan dirinya yang terus meminta jatah pada Bintang. Padahal kan mereka berdua sama-sama mau. Ya walau Bee akui, belakangan ini dia memang lebih banyak menuntut. Tidak tahu kenapa, ada dorongan dari dalam tubuh Bee untuk selalu di cumbu oleh Bintang.


"Kok manyun?"


"Habis kakak ngomongnya gitu. Aku kan jadi malu. Kalau mulai sekarang, aku ga bakal minta duluan lagi"


"Waduh, jangan dong sayang. Aku justru sangat suka kau yang agresif dan bermain sedikit liar. Aku suka kau yang melakukannya tanpa malu-malu" Bintang memeluk erat tubuh Bee. Mencium ceruk leher wanitanya yang selalu berhasil rasa tenang dan menghilangkan mual nya.


"Bee, gimana kalau kau ikut aku ke kantor sayang? aku ingin sekali terus ada di dekatmu. Rasa mual ku hilang di dekatmu. Aku takut mual ku datang lagi pas meeting" ucap nya merengek-rengek persis kayak anak kecil.


"Ya udah deh. Habis dari kantor, kita langsung ke rumah sakit ya" bujuk Bee.


"Ga usah deh yang. Aku tuh malas ketemu dokter, ketemu banyak orang, nunggu lagi"


"Kakak, ga usah kayak anak kecil dong. Buat orang khawatir aja. Aku kan pengen tahu kak, dengan kondisi kakak yang hampir tiap hari muntah, setiap masuk makanan, pasti muntah"


Kalau suara Bee sudah melejit satu oktaf dari biasanya, Bintang tidak akan berkutik. Siapa yang berani melawan perintah permaisuri?


Pukul tiga sore, mereka sudah tiba di rumah sakit. Saat di kantor tadi, sembari menunggu Bintang yang sedang meeting di ruangan meeting, Bee yang menunggu di ruang Bintang menghubungi rumah sakit untuk mendaftar agar mereka tidak perlu terlalu lama ngantri nantinya.