
Dengan isak tangis, Saga harus rela melepaskan Mira diboyong oleh Darren ke Prancis. Semua tidak rela, semua sedih dengan kepergian Mira. Baik Bee atau pun si kembar yang memang sudah mulai sayang dan dekat dengan Mira. Saga bahkan mogok makan, minta ikut dengan Mira, saat wanita itu berpamitan pada anak asuhnya itu dengan berurai air mata.
"Nanti tante Mimi bakal balik kok" ucap Mira membujuk Saga keluar dari lemari.
"Bohong. Ante Mimi mau pelgi jauh ke lumah om Delen, Aga ga mau ante Mimi pelgi" rengek nya. Tapi sudah jadi ketetapan, Mira memilih mengejar kebahagiaan dengan ikut bersama pria yang dicintainya.
"Hati-hati di jalan Mir. Ada apa-apa kamu kabari aku ya" ucap Bee saat memberangkatkan mereka di bandara. Air mata Bee tak kuasa untuk tidak jatuh.
"Titip Saga nyah. Aku pasti akan sangat merindukan nya" Mira lebih parah. Menangis sejadi-jadinya.
Kedua wanita itu berpelukan dengan air mata. Sementara para pria hanya menatap dengan kerutan dahi. "Apa mereka tidak lelah? Prancis itu dekat, kalau rindu ya tinggal ke sana" ucap Bintang menoleh pada Darren yang diangguk setuju oleh pria itu.
"Hei, anak muda, yakin ga mau pamitan dengan Mira?" ucap Bintang menggelitik leher Saga yang membenamkan wajah nya pada leher Bintang.
"Ok, kalau ga mau. Asal jangan nyesal aja. Kalau nanti ga pamit sama tante Mira, kau bakal rindu, nyesal deh" Saga langsung mengangkat wajahnya, meminta turun dan setelahnya berlari ke arah Mira. Kembali season dua dari drama perpisahan penuh air mata terjadi. Bahkan saat Mira akan naik ke pesawat, Saga meronta-ronta tidak ingin melepaskan pelukannya dileher Mira.
"Tante Mimi pasti kembali jumpai Saga, ya" ucap Mira masih menangis.
***
Bertahun-tahun kemudian..
Motor sport berwarna merah itu memasuki halaman rumah dengan dikendarai oleh seorang remaja tampan. Helem menutupi seluruh bagian wajahnya yang biasa tampak arogan.
Penuh percaya diri dia masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu seorang wanita yang selalu menatap nya penuh kasih menyambut dengan senyuman. Saga memicingkan sebelah matanya. Kalau mama nya sudah bertingkah seperti itu, ada sesuatu yang pasti membuat Saga kesal.
"Hai jagoan mama..udah pulang si ganteng mama" sapa Bee berdiri. Wanita itu masih terlihat sangat cantik di usia nya yang ke tiga puluh empat.
"Hai ma" Saga menyapa dengan malas. Sejak lulus SMP, anak itu sudah tidak mau lagi mencium pipi mama nya.
"Sini dulu" tarik Bee saat anak nya berniat pergi.
"Tuh, ada yang cariin"
Saga mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Saat masuk dia tidak menyadari ada orang lain selain mama nya di ruangan itu. Saga pun menoleh pada seorang gadis blasteran yang melempar senyum padanya, memamerkan barisan gigi kawat nya. Namum behel itu tidak memudarkan senyum indahnya. Cantik. Kata pertama yang Saga berikan pada gadis itu, tapi tidak menarik buat Saga si beruang kutub, yang selalu bersikap dingin pada orang lain.
"Dia Caroline.." terang Bee melihat dahi Saga yang berkerut.
"Hai..ini pasti kak Saga. Aku olin, anak nya papi Darren sama mami Mimi" ucap gadis itu memperkenalkan diri. Saga hanya terdiam, tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Oh..." sahut nya kaku. Lalu melirik Bee dan berencana melangkah masuk ke dalam. Tapi lagi-lagi tangan nya di tahan, tapi kali ini oleh Caroline.
"Lepas" ucap nya ketus. Satu hal yang tidak di ketahui Caroline, Auriga Sagara Danendra tidak suka di sentuh oleh siapa pun.
Kalau biasanya gadis-gadis yang di hardik nya akan ketakutan, bahkan akan menangis, Caroline justru cengengesan sembari melepas Saga.
"Saga, mama harap kamu jaga sikap. Kamu harus sopan dan bersikap lembut pada Olin. Dia akan tinggal di sini bersama kita"
"Apa?"
"Iya, Olin akan tinggal bareng kita. Dia akan sekolah di sini. Mama akan daftarkan ke sekolah kamu, biar sekalian kamu bisa menjaga dia" terang Bee, menarik tangan Saga untuk duduk bersama nya.
"Mama apa-apaan sih? kenapa tiba-tiba dia pindah kemari, mana sekolah di tempat aku lagi" protes Saga. Semakin melihat gadis itu, Saga semakin merasa aneh. Pasalnya gadis itu terus menatap nya sembari tersenyum. Saga risih dan ingin segera pergi dari sana.
"Mama ga mau di bantah. Besok mama mau ke sekolah buat daftarin Olin di kelas satu. Pulang pergi kalian bareng"
Kalau wajah Bee sudah berubah serius begitu, siapa pun di rumah itu tidak ada yang berani membantah.
***
"Biasa pa, belajar"
"Papa masuk ya" ucap Bintang yang bahkan sudah duduk di tepi tempat tidur anak nya itu.
"Papa juga udah duduk itu"
"Iya juga ya. Hehehe.."
"Ada apa pa?" Saga tahu kedatangan papa nya yang tidak biasa ini pasti ada kaitannya dengan Caroline.
"Kau yang akur ya sama Olin. Kasihan dia, Harus pindah kemari dan.."
"Dan apa pa?"
"Olin baru saja kehilangan orang tua nya"
"Apa? maksud papa.."
"Tante Mira mu dan juga om Darren sudah meninggal dua bulan lalu. Berbekal wasiat keduanya sebelum tiada, Olin akan tinggal bersama kita. Itu permintaan terakhir Mira, mempercayakan Olin, anak mereka satu-satunya pada kita. Karena baik Mira atau pun Darren tidak punya orang tua lagi"
Mulut Saga terkatup, terkunci rapat. Di balik wajah ceria gadis itu pasti memiliki lubang luka yang menganga dalam hatinya. Banyak orang menutupi kesedihannya dengan mengembangkan senyuman di wajah.
"Kau harus ingat bang, dua kali nyawamu di tolong oleh papa nya. Baik mama mu, dan juga papa berhutang budi pada Darren. Jadi saat dia tidak ada, kewajiban kami lah menjaga putrinya"
Saga paham. Dia mengerti. Kedua orang tua Olin adalah dua orang yang berarti buatnya. Ibu Olin menjaga dan menyayangi nya sejak lahir, dan papa nya, seperti kata Bintang, sudah menyelamatkan hidup nya dari maut. Sewajarnya saat ini peran Darren jadi tanggung jawabnya.
***
"Hai kak Saga" suara yang sudah mulai familiar di telinga nya, menyapa hingga ketiga teman Saga ikut menoleh.
"Wah, siapa nih? anak baru ya?" tanya Boby, si playboy sekolah. Berdiri dan segera menghampiri Olin.
Gadis itu cantik mengenakan seragam sekolah mereka. Wajar jika anak-anak di kantin menjadi ikut menoleh ke arahnya.
"Bawa mari Bob" sambar Fajar yang tidak mau ke tinggalan. Hanya Kanaya yang tampak datar. Hanya menoleh sesaat pada Olin, lalu kembali fokus pada ponselnya. Di meja itu hanya mereka berempat, dan seperti itu lah biasanya. Anak-anak yang lain tidak akan berani untuk gabung dengan mereka. Tiga pria paling di minati di sekolah Tunas Bangsa. Saga si jenius dan dingin serta cowok paling tampan dan juga ketua tim basket sekolah, Boby dan fajar juga anak basket, terkenal playboy, memanfaatkan ketampanannya memikat para gadis.
Kanaya, satu-satunya gadis yang ada di lingkaran mereka. Gadis yang selalu mengikuti Saga kemanapun pria itu pergi. Teman masa kecilnya karena kebetulan adalah tetangga dekat rumah nya. Kanaya pindah ke sebelah rumah Danendra, saat gadis itu berumur empat tahun. Menjadi teman Saga bukan lah muda, tapi perjuangan Nay - panggil pada gadis, itu akhirnya bisa meluluhkan hati Saga, menerima nya sebagai teman. Satu sekolah mulai dari taman kanak-kanak hingga SMA.
"Aku boleh gabung kakak-kakak semua?" tanya Olin dengan suara riang nya.
"Boleh dong cantik. Kamu kok cantik banget sih?" jurus Boby masuk. Si playboy satu ini tentu saja harus bergerak cepat, kalau tidak mau di rebut yang lain.
"Gimana bisa kalian kenal?" pancing Fajar.
"Oh, aku kan tinggal di rumah kak Saga"
"Apa?" ucap ketiganya serentak.
"Dia sepupu aku" sambar Saga sebelum sahabatnya berpikir aneh-aneh.
Kelima remaja itu akhirnya berteman. Memulai petualangan baru, yang mengisahkan cerita manis. Masa remaja bahagia yang penuh warna dan juga cinta. Pasti akan ada tawa dan juga air mata. Namun percayalah, semua itu memang harus dilalui, yang akan menjadi kenangan untuk di kenang hari esok. Satu hal yang menjadi rumit, adalah terjebak dalam cinta yang mengatasnamakan persahabatan. Karena sejatinya, persahabatan dan cinta dua hal yang sama-sama butuh ketulusan.
**
Hai..aku datang. Datang untuk pamit. Aku ga bisa bilang apa-apa Lagi. Aku cuma mau bilang makasih banyak sudah setia pada novel ini. Kalau ada kata lebih tinggi dari terima kasih, maka akan kukatakan. Peluk cium satu-satunya ππ
Sold end ya, terimakasih kalau ada yang kurang puas. Cerita Saga rencananya mau di bikin, mungkin bulan depan ya..makasih. aku pamitππππππ