
Bulan yang di nantikan tiba. Selama menuju hari ini, Kinan selalu di selimuti kegelisahan. Gelisah karena memikirkan nasib nya yang akan berakhir bersama pria brengsek yang sangat dia benci.
Beruntung riasan itu bisa menyamarkan wajah muram nya. Kinan sempat memelihara niat nya untuk lari saja dari pernikahannya hari ini. Ini bukan pernikahan yang sejak remaja dia impikan.
Tapi siapa yang tahu takdir hidup diri? Begitu pun dirinya. Karena kesalahannya, hidup nya harus berakhir dalam derita yang kelam. Hanya anak ini lah penguat dirinya. Berharap kelak, anak ini akan mencintai nya seperti dirinya yang sudah mencintai bayi itu sejak tahu keberadaannya.
Acara itu itu berjalan lancar dan terasa sakral, seolah ini adalah pernikahan yang memang di harapkan semua orang termasuk pengantin.
Lantunan suara Piter saat mengucapkan janji suci nya entah mengapa begitu merdu di telinga Kinan, terlebih saat pria itu menyebutkan nama lengkap Kinan dari bibirnya di hadapan banyak orang, seolah ucapan itu dari hati sang mempelai pengantin, tulus atas keinginan hatinya. Bahkan pria itu hanya perlu sekali saja mengucapkan dan sah.
Kini, mereka sudah sah menjadi suami istri. Ironi memang menyandang status itu dengan seseorang yang begitu asing bahkan sangat di benci.
"Bisa ga sih, wajah lo ga usah di tekuk terus? gue malu, teman gue banyak datang, muka lo udah kayak cabe kriting aja"
"Bukan urusan lo. Lagian gue juga ga kenal sama teman-teman lo itu, jadi sorry to say, gue ga perduli"
Nah, benar kan. Mereka padahal baru setengah jam lalu mengikat janji sehidup semati. Sekarang sudah Kembali ke peran masing-masing, seperti tom dan Jerry.
"Dasar cewek gila!"
"Cowok brengsek, penjahat kelamin" decit nya tak mau kalah.
Piter masih ingin membalas, tapi niat nya terhenti saat para tamu undangan mulai naik ke pelaminan untuk menyalami mereka. Ada sebagian yang dikenal dan sebagian lagi entah siapapun mereka tidak kenal.
Pada saat giliran teman-teman sejawat nya, Piter bahkan bercanda tawa begitu gembira. Menggoda nya dengan kebebasan yang akan hilang setelah berstatus sebagai suami dan ayah nantinya.
"Gue beda. Gue tetap bisa clubbing. Istri gue ini baik kok, iya kan sayang?" ucap nya merangkul Kinan di depan para teman-temannya. Kinan tahu ini salah satu cara Piter untuk membalas sekaligus mempermalukan nya.
"Beruntung banget lo kalau gitu. Mana istri Lo cantik banget, baik lagi" puji Dodit, salah satu teman Piter yang memang terkenal polos pikirannya.
"Tentu dong, istri gue" cup..tanpa sadar aksi Piter terlalu jauh dari skenario nya sendiri. Harus nya tidak ada adegan cium pipi, tapi udah terlanjur.
Kinan hanya diam. Betapa dirinya sudah sangat di permalukan Piter dengan sikapnya tadi. Air mata mulai merebak di pelupuk mata, namun dia tahan.
Setelah teman-temannya pun berlalu, Piter masih lupa mengangkat tangannya, hingga Kinan dengan senang hati mengambil sedikit kulit bagian pinggang Piter, lalu memilin hingga bola mata pria itu membulat menahan sakit.
"Dasar cewek psyco!"
"Itu bukan sikap lo yang brengsek di depan teman-teman lo dan karena udah berani nyentuh gue" delik Kinan.
Bee melihat perdebatan yang terjadi dari tempat nya berada. Sikap Kinan sangat dia pahami, karena dulu dia pernah ada di posisi seperti itu.
"Kalian kenapa? kok ribut sih?" bisik Bee pada Kinan. Wajah cemberut Kinan semakin tidak bisa di hilangkan, bahkan semakin bertambah parah.
"Aku benci banget sama dia Bee. Aku nyesal udah nikah sama dia" cicit Kinan setengah mati menahan tangis nya.
"Ga boleh gitu. Kalian udah nikah kan? harus akur Nan, demi Saga. Kalau pun kamu belum bisa membuka hati, coba lah menerima dia sebagai teman, hingga bisa menerima nya sebagai ayah dari anak mu" ucap Bee menghapus punggung Kinan.
"Maaf, mungkin kamu merasa aku terlalu menggurui mu, tapi ini demi buah hati kalian. Kamu jangan stres Nan" lanjut nya melihat Kinan yang seolah tidak terima akan nasehat Bee.
"Iya. Demi anak ini Bee. Makasih ya" Kinan menyadari yang dikatakan Bee benar. Kasihan anak nya kalau sampai dirinya stres.
Bee sudah berlalu, saat di anak tangga berpapasan dengan beberapa tamu undangan yang mengenakan pakaian minim.
"Selamat ya mas Piter" ucap mereka bergantian. Piter menyambut mereka dengan senyum khas playboy nya yang membuat Kinan jijik. Pada saat tepat giliran salah satu gadis paling belakang, Piter menyambut ny begitu intens. Intuisi Kinan bilang gadis itu bukan hanya sekadar teman bagi Piter.
Lihat saja cara gadis itu memberi selamat. Mencium pipi Piter sangat lama, dan berbisik di telinga pria itu yang mampu membuat nya tertawa gembira. Oh, jangan lupakan tangan mereka yang setelah dua menit masih saling bertautan.
Kinan memandang jengah pada keduanya. "Pasangan yang cocok, sama-sama menjijikkan dan tidak tahu malu" dengus nya menatap ke arah lain.
"Wajah lo semakin menyedihkan banget. Kenapa? ga ada teman lo yang datang?" ejek Piter.
"Gue mending ga punya teman yang datang, kalau yang datang harus seperti itu modelnya" cibir Kinan tidak mau kalah.
Sisa waktu pesta itu dijalani dengan diam nya kedua pengantin. Sama-sama tidak saling suka dan tidak ingin terikat.
Berbeda dengan Bintang dan Bee saat menikah dulu, kedua pengantin itu tidak ingin tinggal di kamar hotel VIP, ibu tahu mereka memang tidak akur, dan pernikahan ini pun terpaksa, jadi ibu meminta mereka untuk menginap di mansion utama, tapi jelas akan di tolak Piter.
"Kami sudah menikah ibu. Aku mohon berhenti lah mengurusi kami. Aku akan membawa istri ku ke apartemen ku" putus Piter tidak ingin di bantah.
Koper Kinan yanga hanya ada satu sudah di minta Piter untuk di masukkan supir ke bagasi mobil.
"Ga papa Nan, kamu langsung di bawa ke apartemen sama anak durjana itu?" ucap ibu merangkul Kinan menuju teras depan. Piter bahkan sudah masuk mobil, duduk dengan wajah tidak sabar nya menunggu Kinan masuk.
Hanya klakson mobil nya yang di gunakan sebagai bentuk permisi, lalu melajukan mobil nya dalam kecepatan sesuka hatinya, yang jelas hati Kinan ciut melaju sekencang itu.
Terkutuk lah kau Piter..membusuk lah di neraka!
Kinan membuang pandangannya ke sisi lain. Tangan menggenggam kuat pegangan di pintu mobil. Tidak ada yang tahu, malam itu hati Kinan hancur, dan bersumpah tidak akan memaafkan pria itu. Berharap takdir akan memisahkan mereka segera mungkin!