
Di sudut ruangan, tempat nya duduk sejak tadi ibu mengamati anak mantu dan cucunya sedang saling bercengkrama bahagia. Hari ini seperti biasa keluarga Danendra berkumpul di rumah ibu, sekalian buat syukuran Kinan sudah pulang dari rumah sakit.
Tanpa disadarinya, air bening menetes di pipinya yang sudah mulai banyak keriput. Pemandangan itu adalah imun bagi tubuhnya, kebahagiaan yang membuat umur nya panjang.
"My Queen, sedang apa menangis sendirian di sini?" suara Bintang dari belakang mengejutkan wanita tua itu. Pria itu juga mengusap air mata sang ibu dan membawa nya ke dalam pelukannya.
"Jangan nangis bu, ibu terlihat jelek" goda nya yang buat Bu Salma memukul lengan anak tertuanya sembari tertawa.
"Terima kasih kalian sudah membahagiakan ibu. Tidak ada lagi yang ibu ingin kan. Kalau pun saat ini yang Maha Kuasa memanggil ibu, ibu sudah siap"
"Hentikan omong kosong mu Bu. Kami masih membutuhkan mu" hardik Bintang semakin mengeratkan pelukannya. Wanita luar biasa yang sudah memberi nya kehidupan itu kini mengulang tangis nya. Dia teringat akan suaminya. Kalau saja suaminya itu masih ada bersama mereka, pasti juga akan ikut bahagia.
Dari kejauhan, Bee melambaikan tangan memanggil mereka, makanan sudah terhidang di meja. Keduanya berjalan bergabung bersama yang lain.
***
Hari sudah gelap, ketika keluarga itu tiba di rumah nya. Anak-anak juga sudah tidur dengan pulas di belakang. Mira menggendong Siera dan Siena bersama Bee di depan. Saga sendiri juga ikut tertidur dengan bantal kesayangannya.
Melihat kedatangan mereka, Darren yang ternyata sudah menunggu dari sore ikut bangkit dari duduknya.
"Selamat malam.."
"Darren, kamu di sini? udah lama? kenapa ga kasih kabar?" tanya Bee menyerang pemuda itu dengan banyak pertanyaan.
"Aku coba hubungi, tapi ga aktif nomor mu" Darren memang bicara pada Bee tapi matanya tak luput mencuri pandang pada Mira.
"Saya pamit masuk dulu nyah, tuan" ucap nya membawa Siera masuk. Ekor mata Darren masih tetap mengikuti Mira hingga hilang di penglihatannya.
"Udah, jangan di lihat lagi. Nanti juga dia ke sini lagi" goda Bee yang mengerti isi hati Darren.
"Sebentar, kami bawa anak-anak masuk dulu ya"
Keringat di telapak tangan Darren jadi tanda kalau pria itu memang gugup. Duduk di hadapan suami istri keluarga Danendra menciutkan sedikit nyalinya. Suara langkah terdengar mendekat, spontan Darren menoleh berharap orang yang di cari lah yang masuk membawa minuman itu, tapi ternyata tidak. Wati lah yang datang membawa nampan berisi minuman untuk mereka.
"Katakan" tegur Bintang yang tahu ada sesuatu yang ingin Darren sampaikan.
"Apa?" tanya nya antara terkejut dan tidak mengerti arti ucapan Bintang.
"Apa yang ingin kau sampai? kami tahu, kau menunggu di sini selama berjam-jam seorang diri, karena ada hal yang pasti nya ingin kau sampaikan"
"Bintang, Bee..aku..aku ingin menikahi Mira" suara Darren gugup, tidak menyangka dia berhasil mengucapkan kalimat itu. Ada rasa plong menjalar di hatinya.
Bee dan Bintang saling pandang, lalu keduanya tersenyum. Ini sudah ditebak, bahkan saat pertama kali Darren berkunjung.
"Kenapa kalian diam? aku serius. Aku ingin melamar Mira jadi istriku"
"Walau kau tahu status dia?" potong Bintang.
"Tidak jadi masalah. Aku mencintai nya apa adanya. Aku jatuh cinta pertama kali bertemu dengan nya. Aku tahu dia hanya pengasuh Saga, tapi aku mencintai nya. Dia wanita polos yang sudah menyentuh hatiku dengan kelembutannya. Sikap nya sangat mirip dengan mama ku yang sudah tiada"
"Jadi apa rencana mu? kamu sudah coba mengungkapkan pada Mira?" tanya Bee lembut. Dia ikut merasa bahagia Mira bertemu dengan jodoh nya. Dia yakin, Darren adalah pria baik yang akan membahagiakan Mira.
"Aku ingin kalian lebih dulu setuju, baru aku akan bicara dengan Mira" ucap Darren dengan tatapan memohon.
"Kalau Mira memang mau menikah dengan mu, kami akan merestui dan ikut berbahagia untuk kalian"
Sudah tidak sabar, Bee memutuskan untuk menemui Mira di kamar anak-anak. "Kamu belum istirahat Mir?"
"Belum nyah, sebentar lagi"
"Mira, ada yang ingin aku tanya padamu. Bagaimana perasaan mu pada Darren?" tanya Bee to the point.
"Maksudnya nyah?"
"Kamu suka ga sama Darren?" goda Bee mengerling. Mira jadi salah tingkah, wajah nya memerah.
"Jawab Mir"
"Saya mana berani nyah"
"Jawab aja. Menurut kamu Darren itu gimana orang nya? dua hari berturut-turut kalian jalan bersama, masa iya kamu ga simpatik sama dia?"
"Mir, Darren ingin melamar mu" ucap Bee tidak sabar melihat Mira yang masih malu-malu kucing.
Mendengar penjelasan Bee, Mira terkejut, mengangkat wajahnya melihat Bee. Tidak mungkin pria bule yang kaya raya itu suka padanya. Lagi pula, dia hanya seorang pembantu, jadi menikahi pria seperti Darren adalah mimpi yang tidak berani dia impikan.
"Gimana Mir? dia menunggu jawaban mu. Kalau kamu ga mau, biar kak Bintang tolak aja lamarannya"
Seketika Wajah Mira menegang. Sejujurnya dia juga sudah terpikat pada pria bule itu. Tepat saat hari kedua, hujan yang turun memaksa mereka berteduh, dari pada harus lari ke parkiran. Saga tertidur di pangkuan Darren. Tiba-tiba kilat menyambar di siang itu, yang membuat Mira terpekik hingga tanpa sengaja Mira mencengkeram sisi gaun nya.
Darren menangkap gerakan itu, dan rasa ingin melindungi wanita yang sudah memporak-porandakan hati nya itu muncul begitu saja. Darren menarik tangan Mira dan menyatukan telapak tangan mereka. Jari keduanya saling mengait, menggenggam dengan erat.
Tidak ada yang bicara, namun genggaman tangan itu mengatakan lebih dari apa pun juga. Mira tidak menarik tangannya, membuat Darren yakin kalau wanita itu juga punya rasa untuk nya.
Hal itu lah yang menjadi acuan bagi Darren, untuk memberanikan diri datang ke keluarga Danendra untuk melamar Mira.
"Jawab Mir" ulang Bee.
"Saya ikut kata nyonya dan tuan saja" ucap nya kembali menundukkan wajahnya.
"Ga bisa gitu. Yang menjalani kan kamu, jadi keputusan itu ada di tangan kamu sendiri. Percayalah, apa pun keputusan mu, kami semua akan mendukung mu" ucap Bee menggengam tangan Mira.
"Makasih nyah, untuk semuanya" ucap Mira terharu. Sejak pertemuan nya dengan Bee pertama kali, Bee sudah sangat baik memperlakukan Mira. Bagi Mira, Bee sudah seperti sosok kakak.
"Jangan nangis" Bee memeluk Mira, mengusap punggungnya agar lebih tenang.
"Yuk kita kebawah. Jangan terlalu lama buat calon suami mu gelisah menanti jawaban mu"
***
**Hai..aku datang lagi...kembali aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya buat semua yang udah baca, dukung aku. l love you allππππ
Ga terasa Sold udah mau end aja. Besok bab terakhir ya gaes ππ© mau minta saran nih, rencana mau buat sekuelnya, cerita Saga. Tapi ini pure cerita lebih ke remaja. Mau buat yang muda yang bercinta, pada setuju ga? jawab di kolom komen ya.
Duh..bener deh, kalau bisa aku mau sungkem, cium kalian satu persatu karena udah sangat setia mengikuti hingga akhir cerita ini. Aku sayang kalian. Jaga kesehatan kalian ya..love you so muchπππ