
"Lepaskan!" bentak Elang meronta, meminta tubuhnya di lepaskan oleh dua pengawal bertubuh besar itu.
"Ada apa kau mencari ku? tak puas setelah merebut paksa Bee dari ku? Kau sungguh menyedihkan. Memiliki banyak uang, kuasa tapi tidak bisa mendapatkan wanita yang benar-benar mencintaimu. Hanya karena uang mu lah kau bisa memiliki Bee, cuih...!" umpat nya kesal.
Tak perduli jika nanti kedua orang yang tadi menyeret nya itu akan di perintahkan Bintang untuk memukulnya. Dia sudah tak perduli.
"Aku kesini, untuk memberitahukan mu, bahwa aku tidak akan menikahi Bee. Kau benar, dia memilihmu, bukan aku. Jadi aku melepasnya" ada rasa pedih yang menyeruak saat mengatakan hal itu. Di bagian dada nya terasa sakit. Tapi dia tetap harus lakukan demi gadis itu.
"Apa maksud mu? bukan kah kau sudah sepakat dengan papa nya?" tanya Elang seakan tak percaya.
"Aku yang memutuskan, perjodohan itu lanjut atau di batalkan. Dan aku memilih untuk membatalkannya. Kini kau bisa bersama dengan Bee. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Kau harus membahagiakan Bee dengan seluruh kekuatan dan hidupmu. Jangan pernah kau sakiti dia, atau aku..Bintang Danendra, akan mengejar mu sampai ke ujung neraka sekali pun!" ancam Bintang dengan sorot mata yang tajam.
***
Pria itu kembali ke kota kelahiran dengan perasaan sakit. Dia sudah duduk dengan tenang di salah satu bar, tempat dia dan teman-temannya biasa ngumpul.
Setengah jam kemudian, seseorang menepuk punggungnya dari belakang. "Hei..udah nyampe lu?" ucap Bintang basa basi.
"Wajah lu lecek amat?" tanya pria itu sembari menguap. Dia ingin menertawakan nasib sahabatnya, tapi keadaan nya juga tidak lebih baik.
"Kalau lu ngantuk, ngapain datang nyet?" ujar Bintang memandang penampilan Bumi yang masih lengkap memakai jas.
"Gila, udah berminggu-minggu tidur gue ga jelas" Bumi mendudukkan dirinya di samping Bintang. Menundukkan kepalanya di meja bar.
"Dari mana lu?gimana hasilnya?"
"Tiga jam gue nongkrong di parkiran kantor Sky. Nungguin dia turun, baru setelahnya ngantar dia ke rumah..ralat..bukan ngantar tapi ngikutin dia ke rumah" ucap nya lagi tak bersemangat.
"Kenapa ribet banget ya Mi, kalau urusan udah main hati. Udah kayak orang gila kita tahu ga" celoteh Bintang mengangkat gelasnya lalu menenggak isi nya hingga ludes. Minuman itu terasa panas di tenggorokan nya. Tapi dia perlu itu, membakar rasa sakit di hatinya. Agar bisa lupa pada sosok Bellaetrix Elaina.
"Kalau lu pantas, lu sering main dengan banyak gadis, kalau kena karma ya wajar. Nah gue?bini gue itu orang pertama buat gue, terus karma dari mana? dari nenek moyang kita yang seorang pelaut?" bantah Bumi sembari bercanda.
Malam itu mereka habis kan dengan di temani minuman. slogan no woman no cry, nyatanya tidak berlaku bagi kedua nya. Karena jauh di relung hati, kedua pria yang tengah mengalami nasib yang hampir sama itu, hampir meneteskan air mata kala mengingat gadis yang mereka cintai.
***
Elang datang ke rumah sakit esok pagi nya. Setelah di izin kan masuk oleh tante Di, Elang duduk di samping Bee, menggenggam tangan gadis yang masih belum siuman itu.
"Bee..aku datang sayang..buka mata mu..ini aku Elang mu.." bisik Elang sambil mengusap rambut Bee. Berulang-ulang mengucapkan kata cinta, hingga berhasil. Gadis itu membuka matanya, dan saat pertama kali yang dia lihat adalah Elang, dia tersenyum.
Pria itu memang benar membawa dampak yang positif bagi kesembuhan Bee. Dua hari kemudian, Bee di perbolehkan pulang.
Walau ada pertanyaan di hati nya, tapi Bee sebisa mungkin tak memperdulikan nya. Hanya saja tampak aneh, dua hari setelah dirinya sadar, hingga pulang ke rumah, Bintang tak mencari nya.
Bodo amat! paling juga kayak kemarin, pergi ke Jakarta, ntar balik lagi kalau urusannya udah kelar..
Selesai makan malam, Hutomo dan tante Di mengajak nya untuk ngobrol di ruang keluarga.
"Bee, perjodohan mu dengan tuan Bintang sudah di batalkan. Sekarang terserah kamu kalau mau berhubungan dengan Elang. Asal kamu bahagia nak" ucap Hutomo.
Seperti petir yang menyambar, Bee sungguh sangat terkejut.
"Kenapa kamu diam Bee? bukannya ini yang kamu ingin kan? sekarang kamu bebas" ucap Diana sedih. Dia sudah terlanjur membuka hati pada Bintang, dan menyukai pria itu untuk menjadi suami Bee.
"Iya tante, aku gembira sekali. Ini berita luar biasa. Terimakasih papa" ucap nya berdiri untuk memeluk papa nya.
"Berterima kasih lah pada tuan Bintang. Karena dia yang membatalkan pertunangan kalian" ucap Hutomo.
Raut wajah Bee begitu gembira. Kini tak ada lagi penghalang. Dia akan bersama Elang, menikah dan mempunyai banyak anak. Apa lagi yang paling membahagiakan dari ini semua?yah..dia sangat bahagia..sangat..tapi kenapa ada ruang hampa terasa di hatinya? kosong..dan sedikit terselip rindu..
Bee menepis pikiran itu, tidak ada yang perlu diingat. Lupakan semua yang terjadi. Masa depannya ada bersama Elang. Dan dia akan bahagia.
"aku pamit ke kamar dulu ya pa, tante" ucap Bee beranjak.
Tak ada yang bisa merampas rasa bahagia nya saat ini. Dia akan merajut hari indah bersama Elang. Masa liburnya akan segera berakhir, seminggu ini akan dia habiskan selalu bersama Elang, agar saat Kembali ke Jakarta, dia bisa menahan rasa rindunya nanti.
Satu tahun lagi, dia harus menyelesaikan sekolah nya dulu sebelum menikah dan menjadi istri Elang.
Membayangkan dirinya bersanding di pelaminan bersama Elang, membuat wajah nya merah.
Seperti ABG pada umumnya, dia berguling ke sana kemari di atas tempat tidur.
Tok..tok..tok..
"Masuk.."
"Kamu sudah tidur Bee?" kepala tante Di menyembul di balik pintu.
"Belum tan, masuk lah" ucap Bee tersenyum, dengan bersemangat duduk di tempat tidur menunggu tante Di.
"Nih.." tante Di menyerahkan ponsel ke hadapan Bee. Itu ponsel milik tante Diana, Bee kenal. Tapi kenapa tante Diana menyerahkan pada nya?
"Apa ini Tan? ponsel tante kan ini?" tanya Bee tak mengerti.
Tante Di membuka recorder pada ponselnya, lalu menyerahkan kembali ponsel itu ke hadapan Bee yang diambil gadis itu.
Sebelum memutar rekaman itu, tante Di keluar kamar meninggalkan Bee dalam kebingungannya. Bee masih mengamati langkah tante Di hingga menghilang di balik pintu yang di tutup.
Sedikit ragu, tapi penasaran juga, Bee memutar rekaman yang bertanggal rekam tiga hari lalu.
Perlahan telinganya menangkap suara bergetar dari seorang pria. Pria yang sebenarnya dia cari tapi malu untuk mengakui..
Hei..aku masih di sini. Walau aku tahu, kamu ga suka aku ada di dekatmu. Tapi aku harus apa Bee?aku begitu khawatir dengan mu, ga bisa jauh dari mu.
Bee..aku minta maaf jika kehadiran ku dalam hidupmu, membuat kamu tersiksa. Maaf karena aku sudah mencintaimu. Aku hanya ingin kamu bahagia Bee. Tak ingin menderita. Kamu tahu, aku ketakutan saat melihat mu hampir meregang nyawa. Rasa takut yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku. Kalau memang menikah dengan ku membuat tak bahagia, aku akan melepas mu Bee, asal kamu janji, akan hidup dengan baik dan bahagia.
Lalu samar terdengar hembusan nafas. Diam lalu yang terdengar kemudian suara tangis yang terasa perih, pelan, tapi jelas ada luka di sana.
Sadar lah Bee. Buka matamu sayang. Aku akan pergi, melepaskan mu. Jangan begini Bee, aku mohon. Biar ku simpan cintaku padamu hanya di dalam hati saja. Bangun Bee..
Rekaman itu sudah berhenti. Habis. Tapi Bee masih menggengam ponsel itu, sementara pipinya sudah bersimbah air mata.