
"Jangan menangis lagi Bee, aku mohon sayang" bisik Bintang semakin memeluk erat tubuh telanjang Bee.
"Aku minta maaf, sudah membuat mu takut" ucap Bintang melerai pelukannya setelah tidak mendengar tangis Bee lagi.
Bintang beranjak, menuju lemari pakaiannya, menarik satu kaos putih dari tumpukan pakaiannya, memberikannya pada Bee untuk di pakai nya lengkap dengan boxer pria itu.
Bee sudah memakai kaos itu, tapi tidak dengan boxer nya. "Aku ga mau make ini" ucap nya dengan suara serak.
"Ga ada celana yang lain Bee. Semua celana pendek ku ya kayak gitu"
"Tapi ini kan kolor mu!" tolak Bee. Yang benar saja boxer pria itu harus di jadikan celana pendek, ya walau kalau sama dia memang seperti hotpant.
"Jadi kamu mau pulang hanya pake kaos itu? ya udah" goda Bintang tersenyum.
"Aku pake gaun aku yang tadi aja ya" ucap Bee menunjuk ke arah gaun yang dipaksa pria itu di buka nya tadi.
"Lebih baik sekalian kamu pulang telanjang, kalau pake gaun itu" ucap Bintang dengan suara tak ingin di bantah. Bee mengalah, memakai boxer itu.
Setelah berpakaian, Bintang memintanya untuk mendekat dan Bee menurut. Gadis itu sudah tak ingin lagi menyulut api amarah si pria penguasa.
Bintang menarik tubuh gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Face to face. Walau merasa malu, Bee berusaha untuk tetap bersikap biasa aja. Tubuhnya terlalu lelah, tapi coba tebak, setiap pria itu memeluknya, tubuhnya seakan mengkhianati dirinya, begitu ingin di peluk terus oleh Bintang.
"Please jangan lihat aku seperti itu" ucap Bee malu, suaranya bahkan hampir berupa bisikan.
Bintang tak menjawab, mengangkat tangan kanan Bee yang dia bawa ke bibirnya untuk mencium tangan itu lama. Seolah bentuk penyesalan nya malam itu membuat gadis itu begitu ketakutan.
Perlahan diambilnya kotak persegi empat yang berlapis kain beludru berwarna merah yang sudah dia letakkan di sampingnya.
Mata Bee membulat sempurna saat melihat isi kotak itu. kalung itu begitu indah dengan liontin berbentuk bintang. Sekilas terlihat satu, namun jika di dekatkan maka akan muncul satu bintang lagi.
Bintang mengalungkan pada leher yang sudah banyak di tandai warna merah oleh pria itu tadi. Bee hanya diam, patuh pada apa pun yang di perbuat pria itu. Nyatanya, ada riak bahagia yang begitu besar dia rasakan. Rasa yang belum pernah dia rasakan, merasa di hargai, dan di perhitungkan dalam hidup ini.
Belum pernah merasa se-special ini, hingga tersentuh dan ingin menangis.
"Selamat ulang tahun sayang..semoga kebahagiaan selalu mengikuti langkahmu" bisik Bintang parau sembari mengecup kening gadis itu dan setelah nya menyatukan kening mereka.
Ucapan itu perlahan bisa menggoyahkan dinding kesombongan dan kebencian di hati Bee.
"Terimakasih.."ucap nya tersenyum tulus.
"Kenapa liontin nya Berbentuk bintang? Apa karena nama mu Bintang? dan kenapa ada dua Bintang?" tanya Bee mengamati liontin itu. Liontin itu begitu indah, cahaya dari kilau berlian mengelilingi bintang yang paling besar. Jika Bintang yang di tengah di dorong ke belakang, maka akan ada satu bintang lagi yang akan muncul. Seolah bintang yang paling besar akan selalu ada menyinari bintang kecil di dalam nya.
"Benar gadis kecil, karena nama kita bintang, maka nya ada dua bintang, satu aku dan yang satu kamu, kita akan selalu bersama" ucap Bintang yang tanpa sadar menyenggol alam sadar mereka.
Selalu bersama? bukan kah itu pernyataan klise? ambang batas mereka hanya saat Bee melahirkan pewaris bagi Bintang, setelah nya..done!
"Ehem.." Bee berusaha mencairkan suasana.
Bintang tersenyum sembari mencubit ujung hidung gadis itu.
"Bellaetrix merupakan bintang tercerah ketiga di rasi Orion dan bintang paling cerah ke-27 di langit malam" terang Bintang. Dan kau akan selalu menjadi bintang yang paling cerah di hati ku, selama nya Bee..
Kalimat terakhir tentu saja diucapkan pria itu hanya dalam hatinya, dengan kesungguhan.
"Aku baru tahu, kalau nama ku adalah nama sebuah bintang." Bee merasa terharu, Bintang begitu memperhatikan semua yang berhubungan dengan nya.
Karena kamu begitu istimewa buat ku Bee..
"Apa kamu menyukai hadiah nya?"
"Suka.." jawab Bee sembari menguap, rasa ngantuk menyerang dirinya, bukan hanya karena ini sudah hampir jam dua belas malam, tapi karena tangisan dan ronta an nya yang lumayan menguras tenaga.
"Kamu pulang ya, aku antar sampai depan rumah" ucap nya sambil menyelipkan rambut Bee yang membingkai wajah nya ke belakang telinga gadis itu.
"Sebentar lagi ya" ucap nya. Rasa nyaman itu membuat nya betah untuk terus berada di pangkuan pria itu.
"Tapi kamu udah ngantuk, nah tuh nguap lagi kan" ucap Bintang saat Bee menguap untuk kali kedua.
"Baik lah.." ucap Bee berdiri yang di ikuti Bintang. Tapi belum sampai membuka pintu, Bee membalikkan tubuhnya hingga menghadap Bintang.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Bintang menatap wajah sendu gadis itu. Hanya gelengan yang di berikan gadis itu. Jari nya saling mengait satu sama lain, bentuk kegugupan nya.
"Aku..aku ingin memberikan balasan sebagai ucapan terimakasih ku padamu atas hadiah ulang tahun yang indah ini" ucap nya sambil menyentuh liontin kalung nya.
Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Gadis itu sudah mendekat dan menyentuhkan bibirnya pada pria itu. Lama, namun hanya menempel.
Lalu berubah menjadi ci*man yang menggoda. Bee mengecup Bintang, menggoda dengan sentuhan lidahnya hingga Bintang menyerah akan godaan itu, dan membalas ci*man yang semakin lama semakin panas.
Bahkan lengan gadis itu sudah melingkar di leher Bintang, sebagai tumpuan tubuh nya. Bee ingin melebur di tubuh pria itu.
Tak kuasa menahan nikmat, erangan tipis dan desahan keluar dari bibir gadis itu. Kini mereka saling menc*rcap, dan mengh*sap, mengirimkan gelegar hangat hingga sekujur tubuh.
Bintang harus melepas ciuman panas itu, kalau tidak ingin menarik Bee kembali ke tempat tidur, menuntaskan apa yang tadi sempat dia mulai.
Namun segera pikiran itu dia hempasan. Dia tak ingin tergesa-gesa memiliki Bee. Dia ingin melakukan nya saat Bee sudah sah menjadi istrinya, hanya tinggal dua hari lagi.
Genggaman tangan mereka tetap menyatu sepanjang menuruni anak tangga hingga tepat di depan rumah Bee.
Hutomo yang membuka pintu, hampir saja marah dan memaki putri nya yang pulang dini hari. Tapi karena yang mengantar adalah calon mantu nya niat nya diurungkan dan bergegas masuk kembali meninggalkan kedua muda-mudi itu.
"Istirahat ya..selamat malam Bellaetrix Elaina" ucap Bintang mencium kening gadis itu.