Sold

Sold
Jujur salah, bohong lebih salah!



Tentu saja omongan Bintang hanya dianggap lalu oleh Bee, tapi tetap saja berhasil membuat nya malu.


"Sana kak, ga usah dekat-dekat" ucap Bee risih, mendorong dada Bintang agar menjauh darinya. Tapi Bintang terus maju hingga tubuh Bee mentok pada meja.


"Menikah lah dengan ku Bee. Dulu kamu menolak dengan alasan mencintai pria lain, dan sekarang, saat itu sudah berlalu, kembali lah pada ku" Bintang menggenggam tangan Bee, membawa ke dada Bintang agar wanita itu bisa mendengar debar jantung nya.


Apa yang bisa Bee kata kan. Bahkan sebelum masalah Elang dengan nya berakhir, dia sudah jatuh cinta pada pria ini. Sekarang saja dia hampir pingsan mendengar perkataan pria itu yang meminta nya untuk menikah dengan nya.


Mengikuti kata hati, dia akan bersorak riang, bahkan melompat sambil berteriak bersedia, tapi semua itu tidak semudah itu kan? Bee kembali teringat pada ibu. Hati wanita itu sudah dia sakiti sebegitu besar.


Pasti akan sulit menerima dirinya lagi. Atau bisa saja ibu tidak akan percaya kalau kali ini Bee memutuskan untuk bersama Bintang karena memang mencintai pria itu.


"Hei, kenapa diam. Aku serius Bee. Menikah lah lagi dengan ku?" saat tangan Bintang terarah padanya, membelai pipi lembut Bee, gadis itu tidak menolak, seolah jadi bukti memang dirinya haus akan sentuhan pria itu sejak lama.


"Aku ga suka kakak bercanda. Apa lagi masalah kayak begitu" Bee memalingkan wajahnya, memutus kontak mata agar jantung nya tidak bergemuruh lebih cepat lagi.


"Aku ga bercanda. Aku serius Bee"


"Jangan tawarkan tangan kanan mu padaku, sementara tangan kiri mu sudah di belenggu oleh ikatan yang lain" perih mengingat hal ini. Saat dia sudah yakin akan perasaan nya pada siapa kini, justru ada tembok besar yang jadi penghalang mereka bersatu.


"Maksud mu Kinan? aku ga ada hubungan apa pun dengannya" sontak mata Bee membulat. Apa pria itu pikir dia gadis bodoh atau buta? Satu hari ini kemesraan apa yang tidak mereka pertontonkan? Bee mendadak kesal. Bahkan di hadapan Bee saja dia sudah berbohong tentang hubungan nya dengan Kinan.


Di tepis nya tubuh Bintang menjauh memberikan sedikit ruang padanya, lalu beranjak ke sofa.


Tak pelak Bintang juga mengikuti gadis itu. Bagi Bintang, ini seperti satu kesempatan bagus. Mood gadis itu baik saat dirinya mengajak untuk menikah tadi.


"Bee, kok jadi jutek wajah nya? aku salah ngomong?"


"Aku benci cowok munafik. Kakak bilang ga ada hubungan dengan mbak Kinan? aku ada di sana tadi kak, ngelihat di depan mataku kau mencium nya" ujar Bee dengan nada tinggi.


"Ralat, aku tidak mencium nya, dia yang nyium aku Bee. Aku serius, kami ga pacaran, maksud ku.." kalimat itu menggantung karena Bee menatap Bintang tajam. Nyali pria itu gentar. Bee kalau sudah marah mirip singa soalnya.


"Ok, gini. Aku akan jujur, aku dan Kinan tidak punya status hubungan. Kami dekat iya, itu pun karena aku pikir kamu sudah nikah sama Elang. Aku coba buka hati menerima perhatian dia, tapi nyatanya aku ga bisa mencintai dia, Bee. Cinta ku tetap untuk mu sejak malam kita bertemu di acara fashion show itu" Bintang menarik dagu Bee, memaksa gadis itu menatapnya.


Harusnya pernyataan cinta Bintang membuat nya gembira. Tapi hati wanita pasti bisa merasakan sesuatu yang belum tepat.


"Kakak ga bohong kan? aku ga mau di cap sebagai pelakor untuk hubungan kalian" Bee memilin jemarinya demi mengurangi rasa gugup yang dia rasakan saat ini.


"Aku ga akan bohong Bee, terlebih padamu. Aku ga mau memulai hubungan di atas kebohongan" Bintang menarik jalinan tangan Bee membawa ke bibirnya untuk dia kecup.


"Tapi aku merasa, mbak Kinan ga akan melepas mu kak. Aku bisa lihat dia sangat menyukaimu kak"


"Aku akan menemuinya, membereskan masalah kami, setelah nya aku akan datang padamu, membawa segenap perasaan cintaku untuk melamar mu" Bee hanya tersenyum menunduk malu. Bahagia itu nyata kini dia rasakan. Berharap kebahagiaan ini akan abadi untuk mereka.


"Aku mau tanya..mmmm..kakak sama mbak Kinan sudah sejauh mana?"


Dahi Bintang berkerut. Bukan.. pertanyaan itu bukan dia tidak mengerti. Tapi kerutan di dahinya adalah bentuk kebingungan nya harus menjawab apa. Mau berbohong, dia tidak mau membohongi Bee, tapi kalau jujur, kata iya yang tadi gadis itu anggukan, bisa di tarik kembali.


Penyesalan selalu datang terlambat kan. Dia mengutuk dirinya malam itu, atas perbuatan mereka di mobil saat mengantar Kinan pulang.


"Jawab kak..aku ga mau kita bersama, tahu-tahu kamu sudah punya anak dengan wanita lain" dengus nya mengerucut kan bibirnya. Bintang gemas sekali melihat bibir pink itu, ingin segera menarik dan bermain berlama-lama dengan benda kenyal itu seperti dulu.


"Sayang..ga usah di bahas. Percayalah ga akan ada kejadian kayak di sinetron ikan terbang, tiba-tiba pas nikahan kita ada seorang wanita yang datang mengacau dengan perut buncitnya"


"Iya, tapi aku mau tahu, udah sejauh mana kalian? buktinya aja, mbak Kinan ga segan cium bibir mu di depan kami" desak Bee. Dia pasti akan benci sekali mendapati milik nya yang sudah hampir dua tahun menjadi miliknya ikut di nikmati wanita lain saat dia tidak ada di sisi pria itu.


"Cuma ciuman kok"


"Cuma bibir?" nah kan Bee mulai panas. Kebanyakan cewek gitu, suka penasaran, nanya sama pasangan nya sejauh apa pasangan nya dengan sang mantan, nanti kalau jawabannya ga sesuai keinginan pasti ngamuk. Jadi pria memang serba salah!


"Bee, udah dong sayang.. pokok nya ga ada yang ke bablasan"


"Tinggal jawab aja susah amat. Aku ga mau bekas orang!"


Siapa pun selamatkan Bintang dari hidupnya yang nelangsa. Kalau hati pria itu bisa bicara pasti bilang, siapa suruh jatuh cinta sama ABG!


Bintang masih enggan menjawab. Dia tahu, watak Bee masih labil. Kalau dikalangan seusia nya, pacaran hingga bobo bareng dan bercocok tanam bukan lah hal yang aneh lagi, tapi beda dengan Bee. Gadis itu masih polos dan naif, tapi mau bagaimana lagi dong? yang di cintai pria itu adalah gadis polos dan suka meledak-ledak.


"Kak..jawab dong. Kalau ga mau jawab, aku tinggal tidur!"


"Sama cium ini.." Bintang menunjuk dada Bee yang sontak buat gadis itu marah. Geraman nya bahkan sampai terdengar oleh Bintang.


"Cium apa h*sap?" susul nya datar dengan wajah sangat tidak bersahabat seperti malaikat pencabut nyawa.


"Hi-sap!" suara Bintang begitu pelan, tapi Bee bisa mendengar dengan jelas. Di tatap nya sekali lagi pria itu, lalu berdiri.


"Kakak pulang dulu, aku mau tidur. Ngantuk!"