
Tubuh Bintang menegang. Setelah mendengar semua penuturan dari nya, Bee tampak diam tidak bergeming dan itu membuat Bintang semakin tidak tenang.
"Yang.. ngomong dong" ucap nya menggenggam tangan istrinya di atas paha nya, lalu membawa tangan itu mendekat ke bibirnya untuk di cium.
"Bee..sayang.."
"Kakak mau aku ngomong apa? aku lelah untuk berpikir"
"Sayang, aku minta kamu jangan pikirkan hal lain. Aku sama sekali tidak punya perasaan pada Ranika. Dan aku juga tidak akan menikahinya" ucap Bintang penuh kesungguhan.
"Tapi bagaimana dengan nasib nya kak?"
"Itu bukan urusan kita sayang. Aku tidak mencelakai nya. Saat itu aku sudah mencarinya, tapi keluarganya membawa nya jauh. Itu kecelakaan. Murni kecelakaan Bee. Aku mohon kamu jangan terbebani"
Bee tidak bersuara, hanya mengangguk lemah. Bintang menariknya dalam pelukannya. "Temani aku melalui ini sayang. Kau yang terpenting buat ku. Kau kekuatan ku. Aku tidak akan pernah berpaling dari mu" Bee meremas ujung jas Bintang mendengar ucapan suaminya.
Kenapa masalah selalu mengikuti mereka. Dia hanya ingin bahagia dengan Bintang dan anak mereka. "Kak, apa kau masih mencintainya?" tanya Bee mengingat cerita Bintang, kalau dulu dia begitu menyukai Ranika.
"Tidak. Hati ku saat ini hanya ada kamu, sayang. Tidak akan bisa tergantikan"
Mata Bee tidak bisa terpejam walau sudah berapa kali mencoba. Pikirannya tetap saja melayang pada masalah Bintang dan Ranika. Bee memiringkan tubuhnya menghadap Bintang. Pria itu tertidur dengan nyenyak nya sejak pergulatan mereka tadi. Bahkan Bee masih polos di balik selimut tebalnya.
Kesukaan Bee, menatap wajah tampan suaminya, saat tertidur. Deru nafas Bintang yang teratur menandakan dia tidur begitu pulas.
Sebagai istri, dia juga berkewajiban menjaga keharmonisan keluarga nya, keutuhan rumah tangga mereka. Jika tiba nantinya dia harus berhadapan dengan Ranika, maka dia akan berdiri menjadi tameng suami nya. Tidak ada yang bisa merebut suaminya dari dirinya, bahkan untuk berbagi suami, tidak akan bisa!
***
Nyatanya Ranika tidak buang waktu. Besok nya dia menghubungi Bee dan mengajaknya bicara.
"Aku mau bicara dengan mu. Aku datang ke rumah mu pukul sepuluh, ok?" isi pesan dari Ranika.
"Kita ketemu di luar. Maaf, tapi aku tidak bisa menerima mu di istana ku" balas Bee cepat. Awalnya menginjakkan kaki di rumah, lama-lama dia akan merebut rumah nya beserta suaminya. Bee tidak akan menerima nya!
Cafe tempat ngopi dengan icon putri duyung menjadi tempat pilihan mereka untuk bicara. Ranika sudah lebih dulu ada di sana, mengenakan gaun yang indah serta riasan, yang lebih tepat untuk hajatan dari pada sekedar bertemu calon madu (kalau jadi!)
"Akhirnya kamu datang. Aku kira kamu tidak mau bertemu dengan ku" sapa Ranika setelah Bee ada di hadapannya. Bee hanya melempar senyum.
"Kenapa aku harus tidak datang. Kau sudah mengundang ku kan. Jadi karena kau teman suamiku, aku menghargai undangan mu" Bee duduk dengan anggun nya, meletakkan tas tangannya di atas meja, tepat di dekat vas bunga yang ada di meja itu.
"Mau pesan apa?" tawar Ranika.
"Latte"
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Bee tenang setelah pelayan cafe pergi membawa buku menu.
"Aku...aku ingin menikah dengan Bintang, dan ku minta kau mengizinkan nya menikahi ku" ucap Ranika satu kali tarikan nafas. Bee hanya menunjukkan wajah datar seolah tidak tertarik dengan apa yang di sampaikan Ranika.
"Dengar"
"Lantas, kenapa diam aja? aku ingin menikahi suami mu" ulang nya tanpa rasa malu. Pengunjung lain yang duduk di meja tak jauh dari mereka mendengar dan menatap aneh pada Ranika.
Bee tidak langsung menjawab, pelayan datang membawakan pesanan mereka. Saat itu muncul ide di kepala Bee. Dirogohnya tas tangannya lalu mengambil ponsel nya, memilih satu aplikasi yang ada di sana menekan tombol dan kembali memasukkan nya ke dalam tas, setelahnya tas itu di kembalikan ke tempat semula. Saat pelayan tadi sudah pergi, baru lah Bee angkat bicara.
"Aku harus bilang apa. Saat seseorang bicara pada kita, yang perlu kita tanggapi adalah saat orang tersebut mengatakan hal yang masuk akal. Dan barusan, adalah omongan sampah, yang tidak perlu di tanggapi" jawab nya tersenyum dan mengedipkan sebelah mata pada Ranika.
"Maksud kamu apa? aku berkata serius. Aku ingin menikah dengan Bintang. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama aku"
"Memang nya apa yang sudah dia lakukan pada mu?" pancing Bee pura-pura tidak tahu.
Dengan semangat 45, Ranika mengulang cerita yang sama ketika dengan Bu Salma, malah semakin di lebih-lebih kan. Bee pura-pura antusias mendengar, tapi tanpa di sadari Ranika, Bee sudah merekam pembicaraan mereka. Ponsel dalam tas tangan nya sudah merekam sejak tadi.
"Begitu lah kejadiannya Bee. Kamu sebagai wanita pasti berempati dengan keadaan ku kan?" Ranika menghapus jejak air matanya di pipi.
Bee mengangguk paham. Benar apa kata Bintang, tidak seharusnya dia menemui wanita penuh drama ini. Tapi kalau di diamkan, dia akan semakin menjadi-jadi.
Tadi pagi, saat Ranika menghubungi nya, Bee langsung menghubungi suaminya. Meminta izin untuk keluar rumah untuk menerima undangan Ranika.
"Jangan pergi sayang. Kamu ga usah tanggapi wanita gila itu" ucap Bintang gelisah. Dia takut kalau Bee akan termakan ucapan Ranika. Dia tahu, Ranika akan nekat berbuat apa saja demi mendapatkan apa yang dia mau.
"Kalau aku ga pergi, aku yakin dia akan terus meneror aku, kak. Atau bisa aja dia tiba-tiba muncul di depan rumah, aku ga mau dia sampai datang kemari. Kakak tenang aja, aku bisa menghadapi ular yang satu ini. Anaconda aja bisa aku hadapi, ya kali ini ular sawah ga kelawan" ucap Bee tersenyum, hanya saja Bintang tidak bisa melihat senyum manis nya.
"Anaconda? siapa yang?" tanya Bintang penasaran.
"Model kesayangan mu lah, Stella Orion"
Setelahnya dari seberang yang terdengar adalah tawa geli Bintang Danendra.
"Aku turut sedih atas apa yang terjadi padamu" ucap Bee serius. Ada bagian dimana dia memang merasa kasihan akan apa yang terjadi pada Ranika.
"Kalau begitu kau setuju, Bintang menikahi ku?" ucap nya seketika berubah ceria.
"Ga. Istri mana yang rela suaminya menikah lagi? aku tidak akan rela berbagi suami"
"Ga bisa begitu dong. Kamu jangan egois dong! Kalau kau ga mau, aku jadi madu mu ya udah, minta saja di ceraikan Bintang" usul nya bersikeras. Menghentak meja dengan kepalan tangan nya.
"Kau kira kalau Bintang menceraikan kan ku, dia mau nikah dengan mu? atau apa kau kira Bintang akan mau melepaskan ku?" tantang Bee sengaja memancing amarah Ranika.
"Lihat aja. Kalau aku tidak bisa meminta suamimu dengan baik-baik, jangan menyesal kalau aku bertindak kasar dengan mu. Aku bisa saja melenyapkan mu, j*lang!"
"Duh..takut..udah ya, aku mau balik dulu, thanks buat acara ngobrol-ngobrol yang unfaedah ini" ucap Bee menyeruput kopinya, lalu menarik dua lembar uang merah dan meletakkan nya di atas meja.
"Aku traktir" ucap nya mengedipkan mata dan tersenyum pada Ranika sebelum berlalu.