Sold

Sold
Balasan untuk Elang



Dulu, Kia yang menyatakan rasa suka pada Bee, di tolak gadis itu karena mengatakan sudah memiliki tambatan hati di kampung halamannya. Melihat kesungguhan gadis itu, Kia mundur dengan gentle. Tapi tidak menyangka kisah Bee akan sejauh ini berbeda.


"Apa aku akan masuk penjara Kya?" tanya nya mulai terisak. Pria itu sungguh tidak tega. Dia sudah sejak lama mengenal Bee, walau dua tahun ini dia sudah mencoba melupakan perasaannya pada gadis itu, tapi untuk dekat dengan wanita lain, Kia masih belum bisa.


Kia memilih pindah, duduk di samping Bee. Mengangsurkan tisu pada gadis itu. Hati nya ikut berempati melihat nasib Bee yang bisa di kategorikan kena tipu oleh pria yang bernama Elang.


Siapa sangka, gadis cantik dan baik hati, serta begitu riang, kini harus mengalami perjalanan hidup yang menyedihkan. Bahkan gadis cantik itu sudah menyandang status janda di usianya yang belum genap dua puluh tahun.


"Sudah Bee, nanti kamu sakit. Aku di sini. Aku akan membela mu. Kamu tidak akan masuk penjara. Tenang ya" bujuk Kia tidak tega.


Andai dia muncul lebih dulu, dia tidak akan membiarkan gadis itu mengalami ketakutan seperti ini. Kia mengantar Bee pulang ketika langit sudah berubah warna gelap.


"Makasih Kya. Ga masuk?" ucap nya basa basi. Harapnya Kia akan menolak, karena tubuhnya memang terasa remuk.


"Lain kali aja, kamu istirahat yang cukup. Jangan sakit, demi anak dan orang yang peduli padamu" ucap Kia pamit pulang.


Tapi hati Bee tetap tidak tenang. Dia butuh seseorang untuk tempat nya bersandar menangis sepuasnya dan menenangkannya. Dia hanya butuh Bintang.


Pemikiran untuk menghubungi Bintang dia tepis saat itu juga. Sudah terlalu banyak beban dan kesusahan yang dia berikan untuk pria itu.


Pukul sepuluh malam, Bee mendapat telpon lagi dari Elang. Dengan ketakutan yang coba dia sembunyikan, Bee mengangkat telpon itu.


"Halo.."


"Akhirnya kau punya nyali untuk mengangkat telpon ku. Ingat, aku akan menjebloskan mu ke penjara atas perbuatan bar-bar mu ini" maki Elang.


"Aku minta maaf Lang. Aku ga sengaja. Aku hanya coba untuk melindungi diriku" ucap Bee bergetar. Berulang kali air mata nya turun.


Gerakan Saga yang merasa terganggu oleh suara Bee membuat Bee memilih balkon tempatnya menjawab telpon Elang.


"Aku bisa saja tidak menuntut mu. Asal kau mau ganti rugi satu milyar"


"Kau gila Lang. Dari mana aku punya uang sebanyak itu" Bee semakin histeris menghadapi kegilaan pria itu.


"Aaah..ga usah banyak cerita. Mantan suami mu kan banyak meninggalkan harta untuk mu, satu milyar itu sedikit. Cepat berikan, atau besok aku akan buat laporan ke kantor polisi"


"Tapi aku sumpah Lang. Aku ga punya uang segitu. Aku ga menerima apa pun dari Bintang. Semua nya sudah aku tolak" terang Bee terus terang.


"Dasar wanita bod*h! kenapa kau tolak. Aku ga mau tahu, jika perlu rumah yang sekarang kau tempati itu, jual saja. Aku tunggu kabar dari mu besok paling lambat pukul dua siang!"


Sambungan sudah terputus. Tubuh Bee terguncang, menahan tangis, merosot di sudut tembok. Menyembunyikan wajahnya di sela pahanya, menangis sejadi-jadi nya.


Hingga pagi, Bee tidak bisa terlelap. Di pandangi nya wajah Saga yang tertidur pulas. Bagaimana dia bisa meninggalkan anak itu sendirian? tidak dia tidak mau di penjara.


Pukul enam pagi, Bee menghubungi Kia. Menceritakan semua nya pada Kia. Tentu saja Kia menolak niat Bee yang ingin memberikan sejumlah uang yang di minta Elang.


"Aku mungkin bisa meminjam pada tante Di, untuk menambahi tabunganku. Walau pun tetap tidak sampai satu milyar"


"Aku ga setuju Bee. Percaya padaku. Akan aku atasi. Aku pastikan dengan nyawaku, kamu tidak akan masuk penjara. Jadi tenang lah" pinta Kia.


Kia meminta hari itu agar Bee jangan keluar rumah. Cukup menenangkan dirinya, bermain dengan Saga. Kia yang akan mengurus segalanya.


***


"Kia.." sapa Bee tidak sabaran saat melihat kedatangan pria itu.


"Kok tegang amat sih? wajah kamu seram ah..senyum dong" goda Kia. Tapi Bee memang sedang tidak dalam mood yang bagus. Tidak berniat memberikan walau hanya sekedar senyuman sebelum masalah nya teratasi.


"Gimana Kia? apa solusinya?" sosor Bee


"Kamu ga akan di tuntut oleh Elang. Justru dia yang akan kita tuntut balik. Nih" Kia meletakkan satu buah flashdisk di atas meja.


"Rekaman cctv apartemen" ucap Kia sebelum Bee sempat bertanya.


"Aku sudah menyewa kamar sebelah tempat Elang. Mengawasi gerak pria itu. Banyak hal buruk yang dia lakukan yang bisa kita jadikan kartu AS kita"


"Dan ini? bagaimana kamu bisa mendapatkan nya?" Bee begitu terperangah atas kecerdikan Kia.


"Setelah menjadi penghuni apartemen itu, tentu saja kita berhak meminta rekaman cctv. Apalagi aku bilang aku perlu untuk bahan penyelidikan" ucap nya tersenyum.


"Jadi gimana sekarang?" Bee masih tidak tenang.


"Dalam cctv ini, jelas saat di balkon itu dia yang sudah bertindak kasar lebih dulu padamu. Aku pastikan dia akan membayar perbuatannya padamu"


Sinar matahari siang itu tampak begitu terik. Suhu udara juga begitu panas. Tapi kabar yang disampaikan Kia begitu melegakan. Sedikit keberanian muncul dalam hatinya.


Benar, tidak ada yang perlu di takuti, karena dirinya tidak salah. Justru pria kardus itu yang sudah memperdaya nya.


Perlahan tubuh Bee relax. Bersama Kia membahas langkah apa yang akan mereka lakukan berikutnya.


***


Sesuai dengan prediksi Kia, Elang akan menghubungi nya. Menanyakan keputusan Bee mau berdamai atau justru di perpanjang.


Bee mengikuti arahan yang sudah di susun Kia, mengajak Elang untuk bertemu di luar, memilih salah satu cafe di tengah kota.


"Sudah ku duga, kau tidak sebodoh itu untuk memperpanjang urusan ini" ucap Elang mengambil tempat di hadapan Bee. Kaca mata hitam yang menempel di wajah nya di buka dan di kaitkan pada kaos nya di dada.


Senyum klimis nya tak lepas dari wajah. Sementara perban di kening nya juga tampak masih memerah yang entah itu karena obat merah atau darah.


Bee masih tak buka suara. Senyum yang sedari tadi terlukis di wajah Elang berangsur menghilang seiring langkah Kia yang mendekat.


Elang mendongak menatap Kia penuh tanya. Rasanya dia tidak mengenal pria berpakaian necis ini. Dari ujung rambut hingga ke bawah tak lolos dari pengamatannya.


"Siapa lo?" delik nya menatap heran kearah Kia yang sudah duduk samping Bee.


"Perkenalkan. Saya Kiano Russell, pengacara nona Bellaetrix Elaina"


Wajah Elang pias. Hanya dengan memperkenalkan diri sebagai pengacara Bee saja sudah berhasil membuat nyali Elang menciut. Ini bukan lah damai yang seperti Elang pikirkan saat memasuki cafe tadi.


Bergantian, Elang menatap Bee dan Kia. Mencari satu titik untuk dirinya bisa lolos dari masalah yang dia buat sendiri.