Sold

Sold
Auriga Sagara Danendra



Rasa mules dan sakit datang silih berganti di rasakan Bee. Air mata dan keringat di dahinya sedari tadi mengucur.


"Yang kuat ya sayang.." ulang ibu setiap lima menit sekali, sembari menemani Bee berjalan bolak-balik dalam ruangan VIP nya.


Terakhir kali dokter memeriksa sudah bukaan enam tepat pukul tiga sore ini. Udara sejuk dalam kamar dari pendingin tidak juga bisa menyegarkan hati dan pikirannya.


"Ibu harus relaks. Jangan banyak pikiran. Bayangkan saja sebentar lagi, akan ada malaikat kecil di pelukan ibu" ucap dokter Leann saat melakukan pemeriksaan bukaan tadi.


Rintihan kesakitan terus menemani Bee setalah beberapa jam berlalu, mungkin kini sudah saat nya. Dokter juga sudah memerintahkan untuk menyiapkan peralatan dan tempat tidur untuk Bee bersalin.


Perlahan dengan kursi roda, Bee di bawa masuk ke kamar bersalin. Pakaiannya juga sudah di ganti, milik nya juga sudah di bersihkan oleh perawat.


"Saya check lagi ya Bu" ucap dokter Leann memeriksa Bee, meminta gadis itu rileks membuka lebar paha nya.


"Wah..sudah bukaan sembilan..kita mulai ya Bu. Pertama ibu harus tenang, berdoa dulu. Saya persiapkan alat-alat nya, ibu persiapkan kekuatan buat ngeden ya Bu. Ga boleh takut dan risau, semua akan baik-baik saja" ujar dokter Leann memasang sarung tangan nya yang baru.


Bee sudah di duduk kan sesuai posisi yang dapat menunjang proses bersalin normal. Bukaan nya sudah penuh kini. "Ok Bu, ikuti aba-aba saya. Jangan langsung di dorong ya Bu. Biar ga sobek."


Bee hanya mengangguk tanpa mampu menjawab. Sekali lagi dokter Leann mengecek, posisi kepala bayi sudah di bawah.


"Ayo Bu, tarik nafas...keluarkan..tarik lagi keluarkan..ketiga kali tarik nafas tahan, tunggu saya bilang dorong, baru dorong ya"


Berulang kali Bee mengikuti aba-aba dokter, tapi bayi nya tak juga muncul. Pinggang Bee bahkan sudah terasa seperti terbakar. Panas dan sakit melilit bak orang yang ingin buang air.


"Dokter, sakit.." rintih nya.


"Iya Bu, tahan ya. Harus kuat. Kita coba lagi"


Perlahan Bee menarik nafas lalu menahan, saat dokter suruh mendorong, sekuat tenaga Bee mendorong janin nya keluar, tapi saat sudah muncul di bibir rahim, anak itu masuk lagi.


Ketukan di pintu memecah konsentrasi, salah satu perawat berbisik pada dokter Leann yang diangguk. Tak lama seorang pria masuk ke dalam ruangan dengan nafas yang masih memburu.


"Sayang.. bertahan ya. Kuat ya sayang" ucap Bintang yang baru tiba. Air mata Bee merembes saat melihat pria itu. Pria yang sudah mengacaukan pikirannya beberapa hari ini.


"Kakak..sakit.." rintih nya.


"Iya sayang..aku ada di sini. Menemanimu" Bintang mengecup kening Bee. Sedari tadi tak putus doa di lantunkan nya untuk keselamatan Bee dan anak nya.


Selama proses bersalin, Bee begitu lelah. Wajah Bintang begitu pucat setiap Bee mendorong sekuat tenaga, lalu kepalanya kembali terhempas lemas. Berburu udara untuk bisa di hirup dengan susah payah.


Dengan lembut Bintang melap keringat sebesar biji jagung di dahi Bee. "Yang kuat sayang.." bisik nya ikut berurai air mata. Betapa besar perjuangan wanita menjadi seorang ibu.


"Ayo Bu, kita coba lagi ya. Ikuti aba-aba dari saya" ucap dokter Leann yang sudah mulai khawatir, pasarnya Bee sudah tampak kelelahan dan banyak darah yang mulai keluar. Kalau sampai kali ini masih belum bisa keluar, dokter itu akan menyarankan untuk segera melakukan operasi Caesar.


Usaha terakhir yang Bee lakukan di kerahkan sekuat tenaga. Bintang terus membelai kepala nya penuh kasih. Ajaib, mungkin dedek bayi mendengar perkataan papa nya, hingga tak lama suara nya menggema di ruangan itu.


Oeee...oeeee... tangis bayi merah dengan berat 4.1 kg memecah ruangan.


"Selamat ya Bu, pak..anaknya tampan sekali" ucap dokter Leann langsung mengangkat dan memotong ari-ari nya. Segera menyerahkan pada dokter anak untuk di bersihkan dan di data berat dan panjangnya.


Bee menangis haru di dekapan Bintang. Berdua menangis melihat buah cinta mereka yang kini hadir di tengah-tengah mereka.


"Terimakasih sayang ku.. terimakasih sudah menyempurnakan dunia ku" bisik Bintang di sela tangis nya.


Bayi mungil itu di bawa pada Bee untuk belajar mencari p*ting ASI Bee. Anak pintar itu bahkan sudah mulai mencoba menghisap.


"Geli kak.." bisik Bee malu. Tapi rasa bahagia, takjub terangkai di wajah nya. Rasa yang belum pernah dia rasakan, bangga nya menjadi seorang ibu.


Dokter Leann dan perawat yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Bee. "Itu biasa Bu, nanti juga biasa. Tapi kalau bisa bapak ikut bantu supaya ASI nya banyak keluar.


"Bantu gimana dok?" tanya Bintang antusias. Dia ingin jadi bapak siaga, melakukan apa pun untuk anak dan istrinya.


"Bantu, ibu memijat dadanya seperti ini" ucap dokter sembari mempraktekkan nya sekilas. Wajah Bee berubah merah menahan rasa malunya.


"Dan juga, bila perlu, di awal-awal bapak ikut mengh*sap p*ting milik ibu biar air nya deras ya pak" kini tak hanya Bee yang malu setengah mati, tapi Bintang juga. Namun perintah dokter itu akan dia sanggupi dengan senang hati.


Setelah di bersihkan, Bee di pindahkan ke kamar inap nya. Ibu, Piter, dan keluarga tante Diana datang menjenguknya. Semua turut gembira akan kehadiran Danendra junior.


Semua orang yang datang begitu gemas ingin menggendong bayi berkulit putih itu. Menurut orang yang sudah melihat, bayi itu mirip dengan papanya.


"Siapa namanya cucu eyang ini?" tanya ibu yang masih anteng menggendong bayi yang kini sudah tertidur pulas.


Bintang menatap Bee seolah ingin bertanya pendapat istrinya. "Biar ibu aja yang kasih nama nya" ucap Bee.


Ini adalah cucu pertamanya, harapan buat keluarga Danendra. Terlebih nanti saat dirinya melepas putranya, dia berharap anak itu akan tetap di cintai oleh seluruh anggota keluarga Bintang.


"Kau dan Bee sama- sama memiliki makna Bintang. Jadi anak ini akan ibu namai Auriga Sagara Danendra. Bintang yang bertaburan di laut yang memiliki kekayaan dan bijaksana bak Raja" ucap Bu Salma tersenyum.


Harapan semua orang yang menyayangi anak itu, berharap menjadi pemimpin hebat nantinya.


"Nama yang bagus Bu" ucap Bintang bahagia.


"Queen, kenapa nama kamu harus nama benda di langit sih? kelak anak ku jangan lagi nama-nama benda di galaksi" protes Piter yang duduk di samping Bu Salma membawa tawa bagi orang yang mendengar.