Sold

Sold
Penyesalan terbesar



"Kenapa tidak ngangkat telpon ku?" pertanyaan pertama yang Bee dapatkan setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Sorry kak. Ga dengar"


"Lagi dimana?" waktu investasi Bintang terhadap sang isteri di mulai. Setiap hari seperti itu selama Bintang ada di Paris. Kadang Bee tidak nyaman, tindakan Bintang seolah dia tidak mempercayai nya saja. Bukan kah dalam suatu hubungan harus saling percaya?


"Ini di rumah.."


Panggilan langsung berganti ke video call. Bintang ingin melihat posisi Bee saat ini, tapi itu justru membuat Bee semakin kesal. Kenapa sih pikiran Bintang itu selalu buruk pada ketulusan Bee?


"Hai sayang.." sapa Bintang sumringah, tapi Bee justru tidak menanggapi.


"Kok cemberut? kenapa?"


"Ga tahu, udah ah..aku mau mandi. Baru pulang, aku capek" ujar Bee ketus. Saat menerima telpon Bintang tadi, dia begitu bersemangat, karena dia pun memang merindukan pria itu, tapi rentetan pertanyaan yang seolah mencurigai nya membuat Bee kesal dan malas melanjutkan pembicaraan.


"Kok baru pulang, dari mana?"


"Kampus"


"Sampe sore?"


"Belanja keperluan Saga" masih dengan nada ketus, Bee menjawab setiap pertanyaan receh Bintang.


"Kenapa sih yang? kan aku udah bilang, kita itu harus saling terbuka. Kamu kenapa?"


"Aku kesal sama mu kak. Kakak mencurigai aku sampe segitu nya. Kakak pikir aku ngapain, lama dikit ngangkat telpon langsung di interogasi"


Bintang paham kekesalan Bee. Dia pun tahu dirinya keterlaluan. Tapi Bintang hanya tidak ingin kecolongan. Dia tidak ingin kehilangan Bee lagi. Dia takut, kalau masa lalu Bee akan menculik nya kembali dari sisi Bintang. Atau ada tokoh baru yang juga berkeinginan mendekati Bee. Kumpulan pemikiran itu membuat Bintang jadi overprotektif.


"Maaf sayang. Aku cuma ingin memastikan kau baik-baik saja. Aku ga mau ada orang yang mengambil mu dari ku. Aku takut kehilangan mu, Bee"


"Kakak, tidak akan ada yang bisa merebut ku dari mu. Aku akan tetap jadi milik mu selamanya. Aku tidak akan meninggalkan mu. Jadi tolong percaya padaku. Hentikan segal kecurigaan dan juga kerisauan mu" ucap Bee melembut.


"Janji ya Bee? aku bisa gila kalau kau pergi tinggalkan ku"


Bee masih tersenyum, memandang Frame besar di dinding kamar mereka sesaat telepon itu di tutup. Pria bodoh itu masih saja meragukan perasaannya. Andai Bintang sadar hati Bee hanya untuk nya seorang.


Dia semakin merindukan sosok Bintang. Ingin memeluk dan di peluk. Bahkan ciuman pria itu sudah mengisi pikirannya. Ah..dia rindu.


***


Selang dua hari dari pertemuan pertama mereka kembali, Elang datang menemui Bee di kampus. Dan itu pun tanpa mengabarinya terlebih dulu.


Saat Bee menjejak kan kaki di pelataran parkir jurusannya, Elang sudah berdiri di sana, memberikan senyum terbaik nya menyambut kedatangan Bee ke arah nya.


"Buat nemuin kamu. Aku ingin ngobrol sebentar dengan mu, boleh?"


Bee hampir kesandung, tidak fokus pada langkah nya karena mendengar pertanyaan Elang yang minta izin untuk mengajak nya bicara. Ini bukan Elang yang dulu dia kenal suka memaksa dan sekehendak nya sendiri.


"Ngomongin apa Lang? ya udah kita di kantin aja. Tapi nanti sore jam 3 aku ada kelas lagi, ga papa ya kalau cuma sebentar"


Bee menjadi pemandu jalan, diikuti Elang yang menatap punggung Bee dengan perasaan menyesal.


Tempat yang di pilih mereka cukup nyaman untuk berbagi cerita. Kantin yang satu ini memang jarang di datangi mahasiswa, kebanyakan dosen dan kalau pun ada mahasiswa yang nyantol di sini pasti mahasiswa program Pascasarjana.


"Lang, wajah kamu lesu terus. Ga semangat gitu. Kamu sakit?"


"Ga..aku baik Bee" ucap nya mengalihkan tatapannya. Menunduk memandangi sepatunya yang berada di bawah meja. Hanya sebagai alas kaki nya, begitu pun dirinya saat ini.


"Kamu banyak berubah Lang. Jujur aku agak khawatir, benar kamu baik-baik aja?"


Kembali Elang mengiyakan pertanyaan Bee lewat anggukan. Dia tidak ingin wanita yang ada di hadapannya itu mengkhawatirkan nya


"Bee, aku mau minta maaf. Aku mencari mu karena jujur, dorongan hati ku membawa ku untuk memohon maaf mu" ucap nya terbata. Raut sendu wajah nya kembali terbit. Bahkan kini riak bening di matanya mulai terlihat. Bee tahu Elang sedang menahannya sekuat tenaga.


"Untuk yang lalu, lupakan lah Lang. Aku sudah memaafkan mu pada hari di mana kita bicara di cafe untuk terakhir kali nya itu"


"Makasih.." hening sejenak. Elang tampak bergumul dalam pikirannya, ingin bicara tapi ada segan. Namun jika di simpan, sesak di dadanya dan rasa bersalahnya akan terus menghantui dirinya.


"Bee, mau kah kau mendengar kisah ku?"


Bee buru-buru mengangguk. Benar tebakannya. Pria itu sedang memiliki beban berat di hati nya. Mungkin yang bisa di lakukan Bee untuk menolongnya hanya menjadi pendengar yang baik.


"Karir band ku redup Bee. Setelah sekian banyak perjuangan dan pengorbanan ku, aku di debak dari band yang aku bentuk dan besarkan sendiri" terdengar Elang menghirup nafas dan membuangnya berat.


"Kenapa begit Lang? alasan nya apa?" tanya Bee terkejut. Dia lah yang jadi saksi bagaimana perjuangan dan harapan Elang akan band itu. Itu juga lah yang menjadi titik dasar Bee menjual dirinya pada Bintang.


Ah... sejujurnya masa-masa itu sangat menyakitkan bila diingat dulu. Tapi tidak bisa di pungkiri, mungkin kalau bukan karena ingin membantu Elang, Bee tidak akan menikah dengan Bintang, dan kalau mereka tidak jadi menikah, Bee mungkin tidak akan sebahagia saat ini, bisa menjadi istri pria luar biasa sangat mencintai nya dan terpenting, dari Bintang, Bee bisa mengenal arti cinta.


Takdir memang suka bercanda. Yang awalnya mula nya dari benci kita menjadi cinta. Bahkan saat ini, Bee sangat mencintai Bintang.


Nah kan, dia jadi kangen pada pria nya itu. Hari ini mereka belum ada bicara sekalipun. Bee pikir mungkin Bintang sibuk hari ini sehingga tidak sempat menghubungi nya.


"Salah aku juga sih Bee. Aku..aku.. terjerat nark*ba. Aku bahkan sempat sakau dan harus di bawa ke rumah sakit. Oleh ibu nya Celo dan keluarga, aku di rujuk ke pusat rehabilitasi, hingga tidak di tahan oleh pihak berwajib"


"Lang.."cicit Bee iba. Begitu banyak yang terjadi dalam kehidupan Elang setelah mereka pisah. Soal Elang mau memakai barang haram itu, Bee sudah tahu, karena hal itu lah yang di buat Kia untuk mengancam Elang saat itu agar mau melepas Bee tanpa tuntutan apa pun. Tapi Bee tidak menyangka Elang akan jatuh sejauh itu.