Sold

Sold
Nostalgia



Hutomo sama sekali menyangka kalau anak mantu beserta cucunya akan datang berkunjung. Rindu yang dia rasakan akhirnya bisa direalisasikan.


"Papa" pekik Bee girang. Tapi tak lama air matanya turun, saat masih dalam pelukannya. Mata nya diedarkan pada sekeliling rumah. Ah..dia sangat merindukan tanah kelahiran nya ini. Tempat dirinya mengalami hal menyenangkan dan juga yang menguras air mata.


Saga yang jarang bertemu dengan kakeknya merasa kaku saat Hutomo memeluk dan menggendongnya. Malam itu Bee memuaskan rasa rindunya dengan membongkar semua barang-barang nya yang ada di kamar nya saat tinggal di rumah itu. Kembali air matanya menetes saat melihat photo dirinya bersama sang mama.


"Ma..aku pulang. Aku sangat merindukan mu" bisik nya lebih kepada dirinya.


Makan malam keluarga pun di pilih Hutomo di tempat kesukaan Bee. Seafood tengah jalan yang ada di sekitar jalan Panam. Bintang ikut bahagia melihat tawa dan pancaran sinar bahagia yang ada di wajah Bee. Membawa mereka ke Pekanbaru ternyata memang keputusan terbaik.


Selepas makan malam, mereka juga mengelilingi kota Pekanbaru. Singgah di tempat oleh-oleh khas Pekanbaru yang ada di jalan Sudirman. Semua tampak enak di mata Bee hingga tidak segan untuk memborong nya. Aneh, saat dia masih bermukim di kota itu, dan sering melewati tempat ini, entah kenapa dia tidak pernah tergugah untuk membeli dan menikmati jenis kudapan yang ada di toko berlambang durian itu. Lambang nya memang disesuaikan dengan makanan khas di toko itu yaitu pancake durian nya. Tapi kini setelah lama tidak ke kota itu, dia justru kalap memilih apa yang ingin dia beli untuk oleh-oleh dan yang ingin dia nikmati.


"Udah yang?" tanya Bintang lembut yang tengah mendorong keranjang belanjaan Bee hingga kedua nya sudah tiba di depan kasir.


"Udah. Terlalu sedikit ya kak?"


Bintang hampir saja terjungkal kaget mendengar perkataan Bee. Pengertian sedikit yang di katakan Bee sangat bertolak belakang dengan kenyataannya. Tiga keranjang penuh sudah mengantri di depan kasir, serta masih ada dua keranjang lagi yang saat ini di tenteng Bintang.


"Sayang, ini udah cukup. Tapi kalau kau masih merasa ini masih kurang, aku bisa minta Riko mengurus agar toko ini bisa kita beli" ucap Bintang menyindir secara halus. Tapi bumil satu itu bukan nya paham malah menanggapi ucapan suaminya dengan serius.


"Boleh juga tuh kak, jadi aku kan bisa puas setiap saat bisa ngambil jajanan dari sini" Bintang pasti mengira itu hanya becandaan Bee kalau saja wanita itu tertawa di ujung kalimat. Nyatanya, hingga selesai Bee masih menunggu tanggapan Bintang.


Ya ampun, untung aja kita lagi di luar Bee, kalau ga, gue bakal hukum lo dengan main dokter-dokteran..


Hutomo sudah meminta bi Jum untuk menyiapkan kamar Bee dan suaminya. Salah satu kamar terbesar di rumah itu yang biasa di tempati tante Di dan om Edo setia berkunjung. Tapi putrinya ternyata lebih memilih untuk menghabiskan malam nya di kamar nya selama di Pekanbaru. Bintang tidak keberatan. Selama apa yang membuat Bee bahagia dia akan ikut, lagi pula kasur itu tampak empuk dan juga hangat untuk main kuda-kudaan. Eh..


Bee sudah berbaring telentang dengan bersandar di dada Bintang. Saga di temani Mira tidur dikamar sebelah.


"Dulu, dari kamar ini aku menjemput pengantin ku yang suka ngambek. Di hari pernikahan kami, dia justru merajuk, menolak untuk menikah dengan ku"


Bee tersenyum mendengarnya. Dia jelas tahu siapa yang dimaksud Bintang. Pria itu membawa Bee kembali pada kenangan mereka dulu. Semua memori saat pertama kali bertemu Bintang secara langsung terpugar kembali. Dia ingat malam dimana dirinya tanpa sadar mendengar ucapan ayah nya, tante Di dan tentu saja Bintang saat itu. Membicarakan transaksi jual beli dirinya.


Bee tersenyum kini. Mendapati kenyataan itu dulu sangat menyakitkan, tapi kini dirinya justru tersenyum geli. Takdir seseorang memang tidak ada yang tahu. Dari benci kini dia sangat mencintai Bintang.


Bahkan kalau di tanya saat ini, dia akan menjawab bahwa dirinya sangat bersyukur ayahnya menjualnya pada orang yang tepat. Orang yang begitu sabar menghadapinya dan mengajarkan apa artinya cinta padanya.


"Kenapa senyum-senyum?" bisik Bintang di telinga Bee sembari mengecup lembut daun telinga gadis itu.


"Aku mengingat bagaimana dulu aku selalu berusaha untuk melepaskan diri dari mu. Berusaha membuat mu agar membenciku dan memutuskan niat untuk menikahi ku" ucap nya pelan. Ada getar dalam suaranya.


Kesedihan melanda Bee saat ini. Dia mengutuk dirinya yang begitu jahat pada Bintang. Sanggup menyakiti pria itu. Memanfaatkan rasa cinta pria itu demi membantu pria lain yang saat itu jadi impian Bee.


Dia bahkan masih ingat, isakan Bintang saat melepas dirinya yang kala itu pingsan di rumah sakit. Menyerahkan kebahagiaan nya pada Elang. Bee ingat semua pengorbanan pria itu demi membuatnya bisa melihat cinta yang di tawarkan Bintang padanya. Tapi bukan menerima, Bee justru menghina dan menginjak harga diri Bintang di bawah kakinya.


Mengingat itu semua, air mata Bee merebak. Secepat kilat di berbalik menghadap tubuh Bintang, masuk dalam pelukan pria itu, membenamkan wajahnya dan mulai terisak. Dia bersalah. Bahkan sangat bersalah pada pria itu.


"Sayang, kenapa menangis? kamu kenapa? Bee, kau baik-baik aja?" Bintang mencoba menenangkan Bee. Dia ingin melerai pelukan mereka tapi Bee memeluk erat tubuhnya tidak ingin lepas dari tubun Bintang.


"Sayang.." Bintang semakin khawatir.


"Aku ga papa kak. Aku hanya ingin menangis sebentar"


Bintang kembali berusaha melihat wajah Bee, tapi gadis itu tetap menolak, semakin membenamkan kan wajahnya di dada Bintang. Kaos putih yang Bintang kenakan saat itu sudah basah pada bagian dada oleh air mata Bee.


"Jangan lihat wajah ku kak. Aku malu. Biar kan aku nangis sebentar aja. Please" Bee mencengkeram sisi kaos Bintang.


"Iya tapi kenapa nangis?"


Tidak ada jawaban. Tapi tangis Bee juga sudah mulai reda. Walau sesekali Bintang mendengar sesunggukan gadis itu yang coba menahan laju air matanya.


"Aku mau ngomong sesuatu tapi kakak janji, jangan motong pembicaraan ku dan jangan melerai pelukan kita"


"Kenapa gitu? kalau mau bicara kan harus saling lihat dong" ucap Bintang menggoda. Dia paham kini, istrinya sedang merasakan perasaan sentimentil yang berhubungan dengan perjalanan kisah mereka.


"Pokoknya nya kakak dengar aja. Mau ga? kalau ga, aku batalin buat ngomong nya"


#Hai semua, terimakasih sudah setia hingga part ini. Sambil nunggu up lagi, yuk kepoin novel ponakan Eike, yang pasti seru..kamsamida🙏😘