Sold

Sold
Rujak Party



Dua sehari di lalui Bee tanpa ada pengganggu. Tak ada lagi tamu tak di undang yang bertamu tak lihat waktu. Tak ada lagi amarah dan penolakan atas perintah sang pemilik dirinya.


Dalam dua hari itu pun, Bee dapat menyimpulkan, Bintang sudah melepasnya dan kembali ke Jakarta.


Tapi yang aneh, justru tanpa sadar, Bee akan keluar rumah, sekedar ke teras rumah, melirik ke kesamping, lalu seakan yang di cari nya tak ditemukan dia kembali ke rumah.


Atau, selepas sarapan, Bee akan membuka pintu dapur, sengaja duduk di kursi bambu halaman belakang, dengan mata tetap memandang rumah sebelah, tapi hanya desahan nafas yang panjang yang terdengar dari nya.


Gue ngapain sih? gila aja!


Uring-uringan tak jelas dari pagi, akhirnya Elang mengabari nya. Elang ingin mengajaknya nonton, dan langsung disambut nya dengan gembira.


"Aku kira kamu masih marah" ucap Bee tersenyum saat naik ke motor Elang sewaktu menjemputnya.


"Rasa rindu aku sama kamu lebih berat dari amarah ku. Aku benar-benar takut kehilangan kamu Bee" ucap Elang memasang helm di kepala gadis itu.


Oh.. sweet banget sih kamu Lang..gimana aku ga makin cinta sama kamu..


Mendengar ucapan Elang Bee hanya tersenyum, dan setelah naik ke motor, Bee mempererat pelukannya.


Hari ini dia ingin bergembira dengan Elang, menikmati kebersamaan mereka tanpa takut dengan siapa pun.


Film yang di pilih ber-genre roman, membuat suasana pun semakin menghangat. "Bee kamu cantik banget. Aku bangga bisa jalan sama kamu" bisik Elang di tengah film yang sedang di putar, yang membuat wajah Bee menunduk malu.


Elang mulai aksinya, melingkarkan tangannya di pundak Bee agar bisa lebih dekat dengan gadis itu. Saat hendak mencium gadis itu, salah satu penonton yang duduk di atas mereka, menegur, karena merasa terganggu dengan apa yang mereka lakukan, hingga dia membatalkan niat nya untuk mencium Bee.


"Kalau mau begituan, di hotel mas, ini tempat nonton, bukan buat mesum" hardik pria bertampang seram itu.


Film usai, selanjutnya mereka makan. Elang benar-benar memanjakan Bee. Memperlakukannya selayak nya tuan putri. Saat berjalan pun, Elang akan terus menggenggam tangan Bee. Ada perasaan bangga tersendiri di hati nya, karena memiliki kekasih secantik itu.


Saat melewati toko perhiasan yang terbuat dari silver, Elang menarik tangan Bee untuk masuk dan melihat-lihat perhiasan yang dia suka. Bee menolak secara halus.


"Jangan sekarang, nanti aja waktu kamu ngelamar aku" ucap nya malu. Hati nya begitu bahagia. Kini orang yang sangat dia cintai ada bersamanya, bahkan ingin membelikan nya perhiasan.


"Gini aja deh.." Elang sudah menariknya ke etalase kaca berisi banyak cincin yang indah.


"Mmmm..gimana kalau yang ini?" tunjuk Elang pada satu cincin bermata merah.


"Cantik"


"Kamu suka?" tanya Elang sembari membelai pipi mulus Bee.


"Suka.."


Tak lama cincin itu disematkan di jari manis Bee. "Bee, ini sebagai tanda cinta ku padamu. Aku sudah tak sabar untuk menjadikan mu milik ku seutuhnya" ucap Elang yang semakin melambung kan perasaannya


Pukul delapan malam baru Bee diantar pulang. Dengan suka cita yang besar, dia mandi lalu membersihkan diri. Ajakan tante Di untuk ikut makan malam bersama, di tolaknya karena memang sudah makan malam bersama Elang.


***


Besok nya, Lala menghubungi nya untuk datang ke rumah Tya, karena rencananya mereka akan bikin rujak party di sana.


Ternyata di sana bukan hanya ada mereka berempat, tapi ada Nina dan si kembar Dini dan Dina. "Kok lama sih Bee?" sambut Lala yang sibuk mengupas jambu kluthuk.


"Gila..cincin baru, kamu dilamar siapa Bee?" celetuk Dina, si gadis paling heboh se komplek mereka.


"Eh.. iya.." sahut Caca mau melanjutkan omongannya tapi ga jadi. Tatapan mata Tya seolah memberi kode pada Caca agar tidak mengungkit masalah pertunangan Bee dengan Bintang sesuai janji mereka waktu itu.


"Dari siapa?" desak Dina, penasaran.


"Dari Elang dong.." justru Bee yang menyahut dengan santai, membuat ketiga teman yang lain saling berpandangan. Jelas-jelas dia akan menikah dengan Bintang, kenapa malah pake cincin dari Elang.


Semua sahabat dekat nya kini menatap Bee seolah minta pertanggung jawaban, tapi Bee malah melempar senyum cuek.


"Kamu udah sah jadian sama Elang? wah selamat ya Bee..dari dulu kan kamu ngejar-ngejar dia. Dapat juga akhirnya" ucap Dini yang ikut duduk di dekat mereka sambil membawa bumbu rujak yang sudah di racik dan di ulek dengan kacang.


"Makasih semuanya.." sahutnya riang.


"Bakalan cepat dong jadi manten kamu" sambut Dina.


"Doain aja, selesai SMA, rencananya Elang akan melamar ku"


"Kalau aku juga lagi ngejar cowok, mudah-mudahan aja dapat" celetuk Dina.


Semua nya antusias mendengarkan. "Siapa?" sahut Tya bersemangat. Pasalnya Dina yang memang cantik dan banyak di sukai pria di sekitar tempat mereka, tidak sembarangan memilih cowok yang mau di jadikan pacar.


"Itu, cowok paling tampan yang pernah aku lihat selama ini. Kayak takdir ga sih, dia pindah di daerah sini" ujar Dina tersenyum, membayangkan pesona pria yang dia taksir.


"Siapa sih? terakhir yang kita tahu ngedekatin kamu bukan nya Fajar, anak bindes (bidan desa) itu?" celetuk Caca masih sibuk mengupas bengkuang.


"Bukan..Idih..ga level sama anak bidan. Target aku kali ini, cowok topan, mapan kaya raya, tetangga Bee"


"Kak Bintang??"


Hampir semua gadis seolah ber koor, kompakan menyebut nama Bintang. Hanya Bee yang diam, cuek dan mendengus ga perduli.


"Iya..kak Bintang..gila tampan banget ga sih? aku pasti langsung mau kalau diajak nikah sama dia" ucap Dina percaya diri.


Hal itu justru membuat Tya kesal. Karena jelas-jelas mereka tahu kalau Bintang akan menikahi Bee.


"Itu kalau kak Bintang nya mau. Siapa tahu dia udah punya calon istri?" lanjut Caca ikut menimpali. Pelototan Bee kepadanya yang menandakan rasa tidak suka Bee atas omongan nya sama sekali tidak diperdulikannya.


"Ya itu kita lihat aja nanti. Ga bisa dengan cara halal, kita pakai cara yang lain asal kak Bintang jadi milik aku" tukas nya cuek.


"Segitu suka nya kamu sama dia, Na?" tanya Bee cuek, tapi penasaran juga.


"Iya, aku ga pernah se tergila-gila seperti ini kalau sama cowok.


"Udah ah..ga usah di bahas lagi. Ini jambu air nya, mana? kapan mau di makannya ini?" sela Nina yang sedari tadi hanya menjadi pendengar


"Masih di pohon, tuh" sahut Tya menunjuk pohon jambu yang tinggi di samping rumah mereka.


"Gimana ngambilnya?tinggi amat" Lala memicingkan mata untuk menatap buah jambu di atas pohonnya.


"Biar aku yang manjat. Rindu juga kayak dulu nyolong mangga tetangga" ucap Bee tertawa seraya berdiri.