Sold

Sold
Meja hijau



Liburan telah usai. Mendatangkan bahagia saat keberangkatan, ketika kembali menyiratkan kecewa. Sesuai jadwal harusnya mereka pulang besok, tapi tuan muda yang sedang terbakar api cemburu memutuskan untuk pulang hari ini.


Bee tidak ingin mendebat keputusan sepihak suaminya. Dia terlalu malas untuk ribut, saat waktu nya di peruntukkan mengurus Saga yang masih tidak mau pada orang lain selain dirinya.


Perjalanan hampir dua belas jam itu di lalui dengan keheningan. Tidak ada canda tawa atau tatapan cinta seperti awal keberangkatan.


Bintang berusaha mencairkan suasana. Toh semua sudah berakhir hingga tidak ada yang perlu di ribut kan lagi. Berulang kali juga dia meminta perhatian Saga, tapi anak itu masih menolak.


"Kau mau makan sesuatu sayang?" Bintang menyentuh tangan Bee, tapi gadis itu menarik tangan nya dengan alasan menyelimuti Saga yang kini sudah tertidur. Mata Bintang membulat atas reaksi istrinya. Dia sudah menjatuhkan ego nya, mengajak bicara Bee dan melupakan rasa kesalnya.


"Bee..!" intonasi suaranya yang meninggi juga tidak di hiraukan Bee.


"Aku ngomong loh"


"Iya kak, aku dengar" sahutnya ketus.


"Kenapa kamu tarik tangan mu waktu aku sentuh?"


Bee memutar bola matanya. Jengah meladeni sikap kekanak-kanakan suaminya. "Lihat sendiri kan, lagi benerin selimut Saga"


"Alasan!"


"Terserah!"


Alhasil hingga tiba di rumah, keduanya masih saja saling berdiam diri.


Momen liburan yang di harapkan Bee bisa membuat dirinya lebih rileks dan siap menjalani sidang, nyatanya kini dia malah punya beban pikiran.


Malam sebelum pertempuran yang sebenarnya di mulai, Bee menyiapkan bahan yang akan dia persentase kan di hadapan dosen penguji besok. Dia masih punya satu hari ini untuk membereskannya.


Persiapan sudah rampung sembilan puluh persen, hanya melengkapi bahan referensi di daftar pustaka. Yang jadi persoalan berat sekarang adalah, Saga. Bagaimana dia bisa meninggalkan anak itu besok?


"Mir, sini deh" ucap nya pada Mira yang tengah sibuk merapikan lemari Saga. Menyusun kembali pakaian yang mereka bawa liburan kemarin.


Mira mendekat berdiri di depan Bee, siap menunggu perintah dari majikannya. "Sini, duduk di samping aku mir," Mira pun menurut. Saga melirik padanya, tapi tidak mau melepaskan rangkulan tangannya di leher Bee.


"Saga, ingat tante Mira kan? ini teman mama juga. Dia juga pintar berenang, dan pasti akan selalu jagain Saga. Kalau mama lagi ga ada di samping Saga, tante Mira akan jaga Saga dengan baik. Saga mau kan sama tante Mira?" ucap Bee lembut, berharap Saga mau membuka hati pada Mira.


Awal nya Saga hanya diam saja. Tidak berminat sama sekali. Tapi tangan Mira dengan lembut membelai punggung Saga hingga anak itu melihat ke arahnya. "Sama tante yuk"


Perlahan Saga mau dipangku Mira. Bee tersenyum senang. Besok dia bisa ke kampus dengan tenang.


***


Seikat bunga mawar tiba di rumah pukul dua siang. Wati yang menerima nya dari kurir dan menyerahkan pada Bee yang tengah sibuk di depan laptopnya. "Nyah, ada kiriman bunga"


"Pake bahasa Inggris, bibi ga ngerti, Nyah"


Bee menerima, itu dari Bintang. Menyelipkan dalam kartu permintaan maaf nya, dan dia sangat menyesal dengan sikapnya. Bee hanya tersenyum. Dua hari saling berdiam diri membuatnya tidak nyaman dan ada rindu yang terselip di hati wanita itu.


Malam nya Bee tampil memikat menyambut suaminya yang pulang terlambat pulang karena harus menyelesaikan kerjaan nya yang tertunda selama mereka liburan kemarin.


Hanya mendengar mobil Bintang masuk halaman saja, hati Bee sudah berdebar, jantung nya seolah melompat-lompat di tempat. Dia sudah menyiapkan makan malam sebagai balasan atas kiriman bunga tadi.


Bintang memasuki rumah, di sambut Bee yang berdiri di ambang pintu dengan senyum nya. "Ada bidadari hati aku di sini" ucap Bintang senang. Istri nya begitu cantik dan sangat wangi. Dia ingat, gaun tidur itu Bintang beli saat tugas ke Prancis waktu itu. Jadi dia tahu Se- sexy apa Bee di balik kimono tipis berwajah merah itu.


Semu merah di pipi Bee begitu terlihat. Walau Bintang sering memuji nya, tetap saja dia malu. Hati selalu bergetar untuk pria itu. "Maaf aku lama pulang ya sayang. Kamu nungguin aku?"


Bee hanya mengangguk. Perutnya bahkan sangat lapar, menunggu suaminya pulang. Bintang merangkul Bee, mengajaknya naik ke kamar. Sigap Bee menyiapkan pakaian Bintang saat pria itu mandi. Bahkan pria itu sempat mengajak Bee untuk ikut menemani nya mandi, tapi gadis itu dengan cepat menolak. Selain dia sudah mandi, dia juga sangat lapar. Jika menemani Bintang, maka waktu untuk mandi yang sebentar bisa berjam-jam jadinya.


"Jadi besok sidang yang?" tanya Bintang di tengah acara makan malam mereka.


"Jadi.." Bee sedikit kurang bersemangat saat membahas masalah besok.


"Kamu pasti bisa. Jangan cemas ya sayang" Bintang meremas jemari Bee dan menarik ke bibir nya dan mencium lembut punggung tangan wanita itu.


***


Bee sudah tiba di kampus. Jurusan nya terlihat sepi, karena adik stambuk nya memang sedang mengikuti mata kuliah mereka. Ruangan sidang yang biasa mereka gunakan adalah gedung B, lantai tiga. Bee sudah rapi lengkap dengan blazer. Rambut panjang nya di gelung rapi bak pramugari.


Sesi kedua menjadi gilirannya. Di dalam Tika, teman nya sedang persentase di depan semua dosen penguji. Deras nya suara penguji hingga keluar membuat nyali Bee ciut. Dia memejamkan mata, bayangan Saga dengan senyum cerianya dan juga ciuman yang akan Bintang berikan pada nya usai meja hijau ini membuat nya bersemangat. Dia harus kuat dan yakin demi keluarganya. Dia ingin membuat keluarganya bangga padanya.


"Papa, tante Di, om Edo, ibu, kak Bintang dan Saga, doain aku ya" bisik nya dalam hati.


Nampak nya suasana di dalam alot, hingga satu jam lebih, Tika tidak juga kunjung keluar. Bee dan dua rekan lainnya menunggu dengan jantung yang jedag-jedug.


Tim penguji mengatakan akan melanjutkan sidang selepas makan siang, hingga Bee harus lebih sabar menanti gilirannya.


Deerrrrrt... Deerrrrrt..


Bee sigap mengambil ponselnya. " Iya kak?"


"Gimana sayang? maaf aku ga bisa menemani dari awal, ada rapat yang ga bisa aku tinggalkan, tapi habis ini aku langsung ke sana"


"Belum giliran ku kak. Habis makan siang kayak nya" ucap Bee tidak bersemangat.


"Kamu baik-baik aja Bee? kalau kurang enak badan, ga usah di terusin yang. Gelar itu ga lebih penting dari kesehatan mu yang" ucap Bintang cemas. Seandainya nya investor baru nya ini bisa cepat datang, pasti dia akan pergi menemui Bee untuk menemani istrinya di saat down begini.