Sold

Sold
Bertunangan



Apa yang terjadi selanjutnya mungkin tidak sempat terbit di benak Bee. Bintang dengan sensualnya menyusuri punggung hingga tengkuk gadis itu dengan jemarinya. Bulu kuduk Bee meremang tanda dia merespon sentuhan itu.


Berulang kali pikirannya mengingatkan untuk menjauh, menyudahi rasa keterbuaian yang kini tengah melanda dirinya, tapi lagi-lagi hati nya, tubuh nya meminta untuk bertahan, sebentar lagi memuaskan hasratnya akan sentuhan pria itu di kulitnya.


Terlambat untuk menghindar, dia tidak akan bisa menyesali keputusan nya tadi. Padahal pikirannya sudah mengingatkan bukan? kini Bintang sudah merapatkan tubuhnya pada punggung Bee, menciumi leher dan tengkuk mulus nya.


"K-ak.."ucap nya mendesah pelan. Kepalan tangan di sisi tubuhnya semakin mengencang seiring h*sapan yang di lakukan Bintang di ceruk leher nya.


"Sssssshhht..biarkan aku menikmatinya. Aku rindu"


Setengah jam kemudian, tidak ada suara di ruangan itu. Keduanya sibuk saling menguasai bibir lawan main nya. Erangan dan d*sahan manja dari bibir Bee sudah berhasil membuat sesuatu di bawah sana mengeras.


Bintang sudah akan turun mengecup puncak kembar milik Bee saat rengekan Saga terdengar. Buru-buru, Bee mendorong kepala Bintang dari dada nya, lalu menarik gaun itu hingga ke leher dan bergerak cepat ke arah Saga yang sudah duduk.


Bocah itu kalau terbangun, merengek dan langsung duduk, hingga Bee takut kalau Saga melihat perbuatan mesum orang tuanya.


"Cup..cup..sayang..jangan nangis, mama di sini" ucap Bee menggendong Saga. Tapi pandangan balita itu justru tertarik pada sosok yang berdiri di tengah ruangan sambil tersenyum pada nya sembari mengulurkan tangan ingin menggendong.


Saga meronta-ronta di pelukan Bee minta dilepaskan agar bisa berjalan ke arah Bintang.


"Huuh..dasar anak papa.." Bee menurunkan Saga membiarkan anak itu berjalan selangkah demi selangkah ke arah Bintang.


"Jagoan papa nih..kenapa bangun?" ucapnya mencium puncak kepala Saga.


Bee meninggalkan kedua nya yang tengah asik mengobrol untuk mengganti pakaiannya. Tidak, rasa nya dia perlu mandi lagi, untuk menyegarkan isi kepala nya. Lagi pula, sentuhan Bintang tadi masih terasa di kulitnya, h*sapan hingga j*latan masih bisa Bee rasakan.


Mandi memang keputusan yang tepat malam itu, setidak nya bisa mengulur waktu untuk berdekatan dengan Bintang.


"Tuh..mama udah siap mandi, tapi curang ga ngajak papa" ujarnya mengajak Saga bercerita, menunjuk ke arah Bee yang baru keluar dari kamar mandi.


"Saga, bilang sama papa mu, udah malam. Pulang sana"


"Saga, bilang sama mama mu yang cerewet itu, bentar lagi papa pulang. Tapi kalau boleh papa nginap malam ini"


"Ga ya kak. Pulang sana" Bee menjawab tanpa perantara Saga lagi.


"Pelit.." desis nya kembali bermain dengan Saga yang tertawa-tawa memainkan jemari Bintang.


"Pulang lah kak. Nanti kalau diajak main terus, Saga ga bakal bisa tidur. Jadi begadang aku. Besok aku ada kuliah pagi" rungut Bee.


"Iya. Bawel. Tapi yang tadi kan belum tuntas" Bintang mengerlingkan matanya ke arah Bee hingga membuat gadis itu tersipu malu.


"Ga pakek. Pulang sana. Dasar mesum"


"Kalau ga mesum, Auriga Sagara Danendra ga bakal ada, ya kan?" ucap nya menggelitik leher Saga hingga bocah itu tertawa geli.


Bee angkat tangan. Gaya tengil Bintang selalu muncul kalau mood nya sedang baik, dan dia tidak akan bisa mengalahkan nya.


"Pulang kak" mohon nya mendekat. Sekali menguap membuat Bintang mengalah. Melihat wajah gadis itu yang memang tampak lelah.


"Saga, papa pulang dulu ya bos kecil. Jaga mama dari para penyamun dan penjahat kelamin ya" ucap nya menghujani Saga dengan ciuman bertubi-tubi.


Bee mengambil Saga dari gendongan Bintang. "Papa pulang ya. Jangan lupa bilang sama mama jangan kelayapan lagi sama pengacara busuk itu"


"Saga, bilang papa mu, segera turuti keinginan nenek, nikah sama tante Kinan, jangan ngurusin mama" seketika suasana hening. Bee mengutuk lidah tajam nya yang berhasil membuat luka yang terpancar di mata Bintang.


***


Masih sampai parkiran seusai mengikuti mata kuliah terakhir hari ini, telepon Bee berdering.


"Iya mbak Kinan" sapa nya setelah melihat nama di layar ponsel.


"Bee kamu dimana?"


"Ini di parkiran jurusan. Ada apa mbak?"


"Aku ada perlu sama kamu. Aku jemput ya ke kampus?" pinta Kinan setengah memaksa.


"Eh..ga usah mbak. Bilang aja kita ketemu dimana, biar aku samperin.


Kedua nya memutuskan ketemu di cafe terdekat dengan kampus Bee. Gadis itu masih bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba Kinan mengajaknya bertemu.


"Apa mbak Kinan udah tahu tentang aku dan kak Bintang ya?" cicitnya bermonolog ria.


Dua puluh menit kemudian, Kinan tiba. Seperti biasa wajah cantik nya selalu dihiasi senyum.


"Udah lama Bee?" Kinan menghempaskan bokong nya di kursi tepat di depan Bee.


"Baru mbak. Mau minum apa mbak?" tanya Bee seraya memanggil pelayan dengan mengangkat tangannya.


"Orange juice aja deh" ucap nya ke arah sang pelayan.


Wajah Kinan tampak berseri. Bee menduga suasana hati nya sedang baik. "Lagi senang nampaknya mbak, dari tadi aku perhatikan senyum mbak selalu merekah"


"Hehehe..kelihatan ya. Iya nih. coba tebak Bee" ujar nya bersemangat. Tidak ada yang bisa Bee pikirkan sebagai alasan kegembiraan Kinan saat ini. Hidup gadis itu terlalu sempurna hingga semua hal yang baik pasti selalu ada di dekatnya. Bee hanya menggeleng seraya tersenyum. "I have no Idea mbak"


"Lusa aku akan bertunangan dengan Bintang.." ucap nya setengah menjerit mengekspresikan kebahagiaan nya. Impian nya yang selama ini dia harap kan akan terkabul.


Senyum di wajah Bee memudar seiring rekaman kalimat Kinan tadi menggema di pikirannya. Tunangan? mbak Kinan dan kak Bintang?


Berita terburuk yang pernah dia dengar selama hidup nya. Lebih buruk lagi dia tidak tahu cara mengekspresikan wajah nya menyambut kebahagiaan Kinan.


"Bee..kamu dengar ga? kamu shock ya? sama aku juga. Ga nyangka, akhirnya aku bakal jadi nyonya Danendra" pekik nya girang.


Beruntung Bee bisa menguasai diri. Menekan kuat perasaan nya yang sakit. Dan bola mata nya di usahakan untuk tidak bersatu dengan sakit hatinya hingga menghasilkan tangis.


"Se-lamat ya mbak.." kalimat yang begitu pahit di lidahnya.


"Makasih. Justru itu, aku ngajak kamu ke ketemu. Aku mau kamu, Hera dan Zen datang. Dan kalau bisa kalian jadi Bridesmaids aku ya" ujar nya gembira seolah tidak perduli saat ini kepingan hati Bee sedang hancur tak berbentuk. Si b*doh Bee hanya bisa mengangguk lemah.


"Kamu tahu Bee, aku masih ga percaya kabar ini. Pagi tadi Bu Salma, calon mertua ku.." Kembali Kinan tersipu, "menghubungi papa dan bilang agar pertunangan kami segera di langsungkan lusa. Awal nya aku ga percaya, tapi setelah aku bicara sendiri dengan Bu Salma, baru aku yakin"


"Kenapa awal nya mbak bisa ga yakin?" kembali Bee mengutuk lidahnya yang ingin tahu.


"Karena selama ini, Bintang tidak pernah menunjukkan keseriusan nya. Tapi kata Bu Salma, entah mengapa, pagi ini saat Bu Salma meminta nya untuk menikah dengan ku, Bintang langsung bilang iya.."


Bee menunduk, menyembunyikan air matanya yang jatuh seketika agar tidak terlihat oleh Kinan. Hatinya hancur, dan dia sendiri lah penyebabnya.