
Pria tampan penuh pesona itu, dengan tak rela nya membuka mata. Dering ponselnya terus saja menggema di ruang kamar hotel tempat dia lima hari ini menghabiskan malam nya.
"Ya Bu?" tanya dengan suara masih mengantuk. Baru saja Bintang memejamkan matanya.
"Ga usah sok ngantuk, ibu yakin kamu belum tidur. Anak badung kayak kamu ga mungkin jam segini, ini masih jam sembilan malam, kalau buat kamu ini masih jam enam sore" cerocos Bu Salma, mama nya Bintang.
"Wahai wanita tercantik se isi rumah ibu, di Jakarta ini jam sembilan malam, tapi di London ini jam tiga pagi Bu.." sahut Bintang masih terpejam.
"Oh..maaf..ibu lupa, kamu lagi di luar negeri" sahut Bu Salma cengengesan.
"Ada apa Bu?"
"Kamu pulang kapan? jangan lupa hari Minggu ibu adakan acara di rumah, kamu harus datang, ga pake tawar!" ucap Bu Salma.
"Acara apaan sih Bu?" feeling Bintang ga enak. Pasalnya ibu nya Dewi of jahil, suka banget buat tanduk Bintang muncul karena ulahnya.
"Dasar anak durhaka. Ibu mu yang cantik ini akan berulang tahun ke enam puluh, hari Minggu dan kau masih bertanya ada acara apa?Kamu mau ibu kutuk jadi jepit rambut ibu?"
"Ibu, masa udah tua juga pake acara di rayain ulang tahun nya. Malu dong sama angka nya!" goda Bintang.
"Udah pokok nya ibu ga mau tahu, kamu harus datang. Dan jangan lupa kado, tiada kesan ta pa kehadiran anda! bye minimal!"
Dari seberang masih terdengar suara Tut..Tut..Tut.. lalu cahaya ponsel nya redup.
Efeknya, Bintang jadi terbangun, tak bisa tertidur lagi. Besok adalah hari terakhirnya menyelesaikan pekerjaan di sini. Sekaligus hari untuk tanda tangan kontrak kerjasama dengan London sun corp.
Bintang meraih kembali ponsel nya. Melakukan kegiatan nya di kesendirian saat rasa rindu itu menerjang. Mengamati wajah gadis yang tengah memasukkan dimsum ke mulutnya.
Photo yang diambil diam-diam saat mereka jalan-jalan ke mall bersama teman gadis itu. Kalau melihat pose dengan wajah cantik nya itu sudah hal biasa bagi Bintang, pria itu ingin mengambil saat gadis itu tidak sadar kamera, dan hasilnya tetap cantik dan menggemaskan.
Ah..rindunya..
***
Acara ulang tahun itu begitu meriah. Tentu setiap orang sangat antusias datang ke acara besar seperti itu. Setiap undangan akan merasa tersanjung mendapatkan kehormatan sebagai tamu dari nyonya Salma Danendra.
Wanita kelas atas yang memiliki sejuta pesona dan kuasa di negri ini. Wanita berusia 60 tahun itu tetap bisa menjadi salah satu wanita berpengaruh saat ini meski suaminya sudah beberapa tahun lalu meninggal.
Dengan kedua anak sebagai penguat nya, Bu Salma berhasil melebarkan sayap usahanya yang memang sangat maju ketika sang suami pergi lebih dulu.
Bintang bahkan belum menyelesaikan sekolahnya, saat sang ayah tutup usia. Dan kini Bintang lah yang meneruskan perusahaan raksasa itu. Sementara sang adik, yang saat ini mahasiswa jurusan hukum, merupakan salah satu Casanova di kota ini.
Ketampanan kedua pria Danendra itu tak diragukan lagi. Banyak selebriti, anak pejabat bahkan istri pengusaha yang ingin berlabuh di tempat tidur kedua pria itu.
Bintang hidup di rumah besarnya, dan si bungsu tinggal di apartemen mewah nya. Namun tak sekalipun dari kedua pria itu, bisa berkutik jika sang ibu suri sudah memberi titah.
Ada yang bilang, Sebadung-badung nya pria di luaran, tapi jika tunduk dab turut pada sang ibu, adalah sosok pria sejati, yang biasanya akan memperlakukan istrinya bak ratu.
"Hai janda ayah ku..kau terlihat menawan sekali. Jangan bilang pesta perayaan ulang tahun mu kali ini ada tameng untuk mencari ayah baru untuk ku dan kak Bintang" celetuk Piter, sambil memberi ciuman pada pipi ibundanya.
"Dasar anak durjana, kau sudah shudzon pada ibu mu yang berhati mulia ini?" delik nya memicingkan mata.
"Well, tidak bisa di pungkiri, ibu masih seperti gadis berusia delapan belas tahun, tidak menutup kemungkinan banyak aki-aki kesepian yang ingin meminang ibu" kekeh nya mengelus pipi Bu Salma.
Masih merangkul sang ibu, banyak tamu yang menghampiri mereka ingin mengucapkan selamat pada Bu Salma sekaligus memberi hadiah mewah, berharap Bu Salma akan melirik dan mau menjalin hubungan kerja sama, lebih bagus lagi jika terjalin hubungan keluarga.
Para wanita akan sibuk menggandeng putri mereka untuk dapat di kenal kan pada putra keluarga Danendra. Tak masalah jika tak dapat si sulung, si bungsu pun sudah Alhamdulillah.
"Selamat ya jeng, tambah muda dan cantik nih" ucap wanita bak toko mas berjalan, begitu rame mas dikenakan di tubuhnya.
"Oh, terimakasih banyak, udah datang" ucap Bu Salma sopan.
Lalu di lanjut dengan ibu-ibu yang lainnya, yang berkerumun di dekat Bu Salma. Piter hanya tersenyum, saat dengan terang-terangan beberapa wanita menyodorkan putri mereka untuk di kenalkan padanya.
Sibuk mengambil perhatian sang ibu, Piter perlahan menjauh. Memilih untuk duduk di salah satu bangku yang sudah di sediakan untuk para tamu.
Taman rumah yang begitu luas di sulap dengan dekorasi indah. Diambilnya satu gelas yang sudah di isi wine, menyesap aroma nikmat minuman itu.
"Kenapa kakak mu belum tiba? coba kau hubungi, kalau sampai dia tak datang, bubarkan saja acara ini" ucap Bu Salma.
Piter hanya tersenyum. Sikap bar-bar ibunya belum berkurang. Begitu lah Bu Salma mendidik mereka, keras karena darah militer mengalir di tubuhnya. Pun Wajak tegas itu karena ibunya berasal dari pulau Sumatera.
"Sabar dong sayang..nanti wajah cantik ibu memudar dong, udah di dempul tebal gitu" goda nya lagi.
"Diam! cepat lakukan yang ibu katakan. Hubungi pria brengsek itu!" umpat Bu Salma.
Baru akan menekan nomor sang kakak, wajah tampan yang langsung membuat suasana heboh itu muncul, berjalan di tengah taman menuju tempat duduk ibu dan adik nya berdebat.
"Hai cantik..selamat ulang tahun ya.." ucap Bintang mencium kening ibunya dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.
"Sehat selalu wanita cerewet sedunia, karena kami tak ingin kehilangan guru BP kami yang judes ini, tapi berhati seluas samudra" bisik nya lagi.
Bu Salma menangis bahagia. Putra sulung nya itu mewarisi kelembutan hati sang suami. Yang selalu memanjakan dan menghargainya lebih dari apa pun. Bintang berhasil menjadi pengganti ayah nya untuk adik dan menjaga ibu nya.
"Jangan menangis lagi, nanti make-up ibu luntur, ga mau kan wajah mengkerut ibu di lihat teman arisan ibu?" goda nya yang mendapat pukulan di lengannya.