Sold

Sold
Permohonan



Nomor Bintang tidak aktif, yang semakin membuat Bee panik. "Kemana sih Bintang membawa Saga? apa dia sudah mau memisahkan kami? tapi kan kami belum resmi cerai?!" umpatnya.


Bee benar-benar bingung, mau bertanya kemana. Mau menghubungi tante Di, tapi pastinya akan di tanya macam-macam. Dan jika tante Di sampai tahu dia jadi menerima pekerjaan itu, justru akan di marahi.


Sejam lebih menunggu di teras rumah. Wati, salah satu pelayan di rumah itu datang untuk menyuguhkan minuman agar membuat Bee sedikit tenang.


"Mereka pasti segera pulang Nyah, paling juga jalan-jalan sebentar" ucap wanita berusia enam puluhan itu.


"Tapi kenapa lama sekali Bi?" sahut nya masih gelisah.


Setengah jam kemudian waktu yang di habis kan Bee menangis sembari berharap Saga segera kembali.


Ketika mobil milik Saga memasuki halaman tidak lama sesudahnya, Bee berlari menyongsong. Bintang lah yang lebih dulu keluar dari dalam mobil. Wajah pria itu tertegun melihat sisa air mata yang ada di pipi Bee.


Bintang baru saja akan bertanya penyebab tangis Bee, tapi hardikan wanita itu yang keras seperti biasa mengurungkan niat Bintang karena ternyata gadis itu baik-baik saja.


"Mana Saga.." bentak nya.


Perlahan pintu mobil belakang terbuka. Mira keluar dengan Saga dalam gendongannya.


"Saga.." ucap nya lirih. Mengambil bayi itu dan menciumi sekujur pipi Saga penuh rindu. Mengucap syukur anak itu kembali padanya. Nyawa serasa hilang dari tubuh nya, memikirkan ketidakberadaan anak nya.


Tak perlu ada yang dikhawatirkan. Bintang membiarkan ibu dan anak itu untuk melepas rindunya. Toh, dia juga pasti tidak di perhitungkan untuk ikut serta dalam acara pelepas rindu itu.


Pelepas rindu? sejujurnya Bintang butuh itu. Tapi pada siapa? apa dia masih punya hak untuk meminta pada Bee? sementara gadis itu saja sudah meminta hak nya untuk bebas?


Untuk memilih bersama gadis lain juga hatinya tidak niat. Sialnya, setelah berhubungan dengan Bee, bagi Bintang gadis lain tidak menarik.


Buktinya saja, dulu saat berada di ruang yang sama dengan Stella yang memakai pakaian minim, miliknya akan segera mengacung. Setidaknya bibir Stella tidak akan lepas dari pag*tan nya. Kini Stella terang-terangan mengajaknya kembali reunian di tempat tidur, justru di tolak oleh pria berahang tegas itu.


"Tunggu, mau kemana! aku mau ngomong sama kamu" tukas nya saat melihat Bintang memasuki rumah.


"Ada apa Bee? kamu ingin bicara dengan ku?apa ini tentang surat perceraian? masih sedang proses. Nanti juga surat pemanggilan nya di layangkan untuk mu. Bersabar lah sedikit lagi.." Bintang memandang dengan wajah datar. Bersikap tenang menatap Bee dengan tangan di lipat di dada.


Dia sudah memikirkan. Jika memang harus melepas wanita itu untuk kebahagiaan, Bintang akan lakukan. Toh, dia lah yang sudah merusak masa depan gadis itu dengan ide konyolnya membeli Bee.


Berbeda dengan Bintang, Bee justru terkejut. Tak mampu berkata apa pun. Ternyata perceraian itu sudah serius di urus Bintang. Perpisahan sudah ada di depan mata.


"Eheem..bukan itu yang ingin aku bahas. Aku mau tanya, kemana kau membawa Saga? kenapa tidak mengatakan pada ku terlebih dahulu?"


"Jangan lupakan dia juga anak ku. Aku juga berhak atas dirinya, bersama nya. Oh..jangan lupa, saat bercerai nanti pun, dia akan bersama ku. Jadi biasa kan lah tanpa dia.." Bintang sudah melangkah meninggalkan Bee. Hati nya hancur, saat pengawalnya yang di tugas kan mengikuti Bee memberitahukan bahwa Elang datang ke Malang hanya untuk menjemputnya.


Tapi apa yang bisa Bintang lakukan. Mungkin benar, sudah waktu nya melepas gadis itu. Menyelesaikan masalah mereka. Berpisah dengan legowo. Tapi apa dia mampu?


Mungkin sebaiknya dia kembali pada sosok dirinya yang dulu. Hidup tanpa ada kegelisahan hanya ada kesenangan walau terasa semu. Tapi setidaknya dia tidak akan mengenal yang namanya sakit hati dan kecewa.


***


"Sedang apa?" tanya pria di seberang.


"Sudah kamu tanya, kapan surat itu keluar dan kamu terbebas?" susul Elang yang sudah jemu.


Waktu tiga bulan sudah berakhir. Dan dia menagih janji Bee untuk segera berpisah dengan pria itu.


"Katanya sedang proses. Nanti akan di berikan padaku. Tapi Lang, ada yang ingin ku bahas dengan mu" ucap Bee sedikit takut.


"Apa?" suara pria itu tampak tidak senang.


"Ga bisa lewat telpon. Kita harus ketemu"


"Ok. Aku tunggu di basecamp, pukul sepuluh pagi. Karena siang harus ngisi acara di stasiun radio Gaga" tukas nya kesal.


***


Pukul sepuluh, Bee sudah sampai di ruko berlantai dua itu, yang di gunakan band Derago sebagai markas sekaligus tempat tinggal.


"Hai sayang.." ucap Elang menyambut Bee. Mengecup pipi kiri Bee dan mengajaknya duduk di satu-satunya sofa yang ada di ruangan itu.


"Mana yang lain?" tanya Bee celingak-celinguk.


"Masih pada tidur. Aku juga kalau ga karena nunggu kamu, masih ngorok" tukas Elang membakar sebatang rokok yang terselip di bibirnya.


"Mau minum apa?" lanjutnya, melempar mancis ke atas meja.


"Ga usah Lang. Aku cuma sebentar"


Elang sudah meringsut duduk di samping Bee. Merangkul pundak Bee dan menarik tubuh gadis itu. Keduanya kini saling tatap, dan Elang sudah mendekatkan wajahnya, ingin menyatukan bibir mereka. Tanpa di komandoi, Bee menarik wajah nya mundur. Hati nya mengatakan tidak nyaman untuk melakukan hal itu.


"Kita harus bicara Lang" ucap nya beralasan, agar niat Elang yang ingin menciumnya batal.


"Nantilah. Santai aja dulu. Aku kangen banget sama kamu Bee. Ini udah saat nya melebur rasa rindu kita selama ini" kembali Elang nyosor tapi dengan cepat di tahan Bee.


"Hentikan Lang. Kita ngomong dulu" hardik Bee tegas. Dia sudah berdiri dari duduk nya berjalan ke arah jendela.


"Ok, baik lah. Katakan.." Elang menyandarkan punggung nya pada sofa merah maron itu. Menyampirkan kedua lengan pada bagian atas sandaran sofa.


"Itu..tentang kita. Apa rencana mu saat aku sudah berpisah dengan Bintang?" ucap Bee, melipat tangan di dada ingin melihat reaksi Elang.


"Tentu saja kita akan bersama. Aku akan menikahi mu, sayang" Elang berusaha meyakinkan.


"Benarkah kamu menyayangi ku,Lang?"


"Pertanyaan apa itu. Tentu saja aku menyayangimu" Elang menghisap kembali rokok nya yang sempat dia letakkan pada asbak dadakan yang terbuat dari kaleng sprite bekas minum nya semalam.


"Kalau begitu, kamu bisa menerima ku dan segala kekurangan ku" susul Bee tak ingin memberi celah bagi Elang untuk mengelak. Nyatanya dengan mantap pria itu mengangguk, membuat tenang hati Bee.


"Kalau begitu, aku mohon kamu bisa menerima Saga untuk tinggal bersama kita"