Sold

Sold
Rencana pisah



Usai sambungan itu di putuskan oleh Elang, Bee yang merasakan perasaan nya yang campur aduk berjalan menuju pintu box bayi nya yang ada di samping tempat tidur.


Wajah Saga tertidur begitu damai. Lama dia memandangi wajah bayi itu, pikirannya berkecamuk. Bagiamana dia bisa meninggalkan anak selucu dan se-menggemaskan ini. Terlebih anak ini lahir dari rahim nya. Ikatan pun pasti nya sudah terjalin antara mereka.


Bee terduduk merosot di lantai, bingung harus apa. Di satu sisi orang yang dia cintai, di satu sisi lagi anak yang dia lahir kan, darah dagingnya.


Entah itu cinta sudah tumbuh di hatinya pada anak itu, yang pasti Bee begitu sayang dan tak ingin berpisah dengan anaknya.


Tepat saat mendengar langkah kaki mendekat, Bee menghapus air matanya.


Itu pasti kak Bintang..


"Hai sayang..maaf aku pulang malam. Banyak pekerjaan yang menumpuk selama dua Minggu ini aku tidak masuk" ucap Bintang menyapa Bee.


Gadis itu tak menjawab, hanya melangkah duduk di tempat tidur sembari menatap Bintang. Bee kenal aroma parfum dan tubuh pria itu. Ada satu wangi yang dia yakin bukan milik suaminya.


"Udah makan malam?" tanya Bee datar yang diangguk Bintang.


"Pekerjaan apa hingga jam segini? dengan siapa?" selidik Bee. Dia bahkan belum makan hanya untuk bisa makan malam bersama Bintang.


Tapi kalau melihat penampilan pria itu, pasti nya makan malam sudah di lewatinya. Dan itu membuat Bee semakin kesal. Belum lagi memikirkan perintah Elang.


Rasa kurang percaya dirinya kembali timbul. Dalma pikirannya menganggap kalau Bintang pasti jijik melihat tubuhnya yang kini banyak di timbun lemak, sementara dia bekerja setiap harinya di kelilingi oleh model-model cantik dab ramping.


"Dengan Client dan beberapa tim dalam pagelaran yang akan di laksanakan bulan depan" sahut Bintang berkata jujur.


Harus nya pukul lima sore tadi dia pulang, tapi sesuai agenda yang di buat Riko, dia harus bertemu Client yang bekerjasama dengan mereka, salah satu pemilik stasiun televisi yang akan menayangkan acara launching produk perusahaan mereka nanti dan itu pukul tujuh malam.


Dan sementara menunggu, Bintang kembali mematangkan konsep mereka yang di rancang oleh desainer kondang Sebastian Menawan.


"Apa Stella ikut?" suara Bee begitu tidak bersahabat.


"I-ya..dia ada. Kenapa Bee?" tanya Bintang yang tidak paham.


"Lupakan. Mandi lah kak. Aku mau tidur. Tubuhku lelah. Dan tolong, urus Saga malam ini" ucap Bee melepas sendalnya dan merangkak naik ke atas tempat tidur. Bintang masih berdiri dia sana melihat hingga bed cover kuning motif kucing itu menutup semua tubuh Bee.


***


Sebulan sudah usia Saga, dan hampir tiap saat Elang mengingatkan nya untuk segera berpisah dengan Bintang. Bee sudah membujuk Elang untuk memberikannya waktu, agar dia bisa mengurus Saga sembari menurunkan berat badannya.


"Hanya itu permohonan ku, Lang. Setelah nya apa pun yang kamu minta nanti, akan aku turuti" mohon Bee terisak.


Tak tega mendengar Isak tangis gadis itu, Elang akhirnya mengabulkan permintaan nya.


"Tapi ingat, jangan susui anak itu, dan jangan pernah biarkan pria itu menyentuhmu!"


Sejak itu mulai lah Bee diet sehat, dan di imbangi olahraga.


Tapi untuk tidak berdekatan dan membiarkan Bintang menyentuh nya, Bee setuju dengan Elang. Sudah waktu nya membiasakan diri berjauhan dengan pria itu, agar saat benar-benar berpisah nanti, Bee sudah terbiasa.


Mereka masih tidur terpisah, walau sekarang kamar mereka berdampingan dan hanya di pisahkan pintu penghubung. Kamar itu sebenarnya untuk Saga nantinya, tapi karena bayi gembul itu tidur bersama Bee, Bintang berinisiatif untuk menempati kamar bayi mereka.


Untuk menurunkan berat badannya hingga tampak ideal, Bee mengikuti kelas yoga dan zumba yang instrukturnya di datang kan langsung ke rumah agar tidak perlu meninggalkan Saga sendirian. Rasa cinta dan posesif nya pada bayi itu semakin menjadi-jadi.


Sore itu Bee baru saja menyelesaikan kelas zumba nya dan beranjak ke kamar. Setelah mandi dan menyegarkan dirinya, Bee turun untuk mengambil sebuah apel sebagai makan malamnya. Tepat di anak tangga, Bee berpapasan dengan Bintang yang sudah baru keluar dari kamar menuju meja makan.


"Kita makan malam sekarang Bee" ajak Bintang


"Ga..aku ga makan kak. Kakak aja yang makan, aku cuma mau ngambil apel" ucap nya tanpa berani melirik Bintang. Hanya ada satu alasan, dia rindu.


Bintang tak melanjutkan bujukannya, karena itu pastinya tidak akan berhasil. Lalu saat kembali akan melangkah, Bee menghentikan nya.


"Kak..aku mau bicara" ucap nya dengan tegas.


"Ada apa sayang? apa ada masalah?" tanya Bintang kembali menghadap Bee.


"Ada yang ingin aku bicarakan saat ini. Aku akan menunggu sampai kamu menyelesaikan makan malam mu" ucap nya melemah.


"Tidak perlu, selera makan ku hilang. Aku yakin ada hal yang sangat penting yang ingin kamu sampaikan. Ayo"


Mereka memilih balkon ruang kerja untuk bisa bicara dengan nyaman.


"Ada apa Bee? apa ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Bintang lembut.


"Kak.. Saga udah lahir, yang artinya..itu.." Bee tak mampu meneruskan kalimatnya. Karena dia akan seperti wanita yang tidak punya hati Ndan harga diri.


"Jadi kamu mau nya gimana?"


"Mungkin sudah waktu nya kita berpisah. Kamu sudah bisa membuat surat cerai kita. Nanti pada saat usia Saga tiga bulan, kita sebaiknya berpisah" ucap nya tersedak. Bukan..kenapa hatinya mengatakan bukan begini inginnya.


"Apa kah sampai hadir nya Saga, hati mu masih belum tersentuh oleh cinta ku Bee?" ada gurat kecewa di wajah pria itu. Dia pikir selama ini Bee sudah nyaman bersama nya hingga bisa menerima kebersamaan mereka untuk selamanya.


"Maaf kak, tapi aku sudah janji pada Elang untuk kembali padanya"


"Bagiamana dengan Saga? apa dia tidak berarti untuk mu? itu anak mu Bee? darah daging mu" Bintang menatap Bee penuh harap, berharap gadis itu akan melembut hatinya.


"Jangan seperti itu kak. Kamu tahu kehadiran Saga itu keinginan mu, syarat yang kau ajukan untuk memberikan uang itu" seru Bee menangis. Diingatkan kembali pada kebodohannya. Harusnya malam itu dia tidak datang ke rumah Bintang dan menawarkan perjanjian terkutuk itu.


"Oh..begitu. Jadi Saga hanya mesin uang untuk kalian. Aku tidak menyangka, Kamu tega meninggalkan anak mu demi pria brengsek itu!" gelegar suara Bintang semakin membuat air mata Bee semakin merembes.


"Baik lah..aku akan buat Draft nya, dan akan segera aku berikan padamu!"